Haerudin Azis Kades Ganda-Ganda saat diberi kue ulang tahun oleh istrinya, Murniati S.Pd, saatnya berulang tahun 9 April 2026. foto: pribadi
Usianya genap 49 tahun pada 9 April 2026. Namun bagi Haerudin Azis, Kepala Desa Ganda-Ganda, Kecamatan Petasia, perjalanan hidup bukan sekadar tentang angka usia, melainkan tentang pengabdian yang terus berjalan—dan keluarga yang selalu menjadi pijakan utama.
Sejak dipercaya memimpin desa pada 2018, Haerudin bukan hanya menjalankan tugas administratif sebagai kepala desa. Ia menjelma menjadi tempat bertanya, mengadu, bahkan penengah bagi berbagai persoalan warganya—dari urusan pembangunan hingga konflik keluarga.
Kini, di penghujung masa jabatannya, satu pertanyaan kembali mengemuka: akankah ia maju lagi pada periode berikutnya?
Dengan nada tenang, Haerudin tidak langsung memberi jawaban pasti. Baginya, keputusan itu bukan hanya soal ambisi pribadi, melainkan restu keluarga.
“Saya masih menunggu restu dari istri, anak-anak, dan keluarga besar,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Ia berkaca pada pengalaman Pilkades 2018, di mana dukungan keluarga menjadi fondasi utama kemenangannya. Bahkan, saat itu, kompetisi diwarnai oleh kandidat yang masih memiliki hubungan kekerabatan, seperti paman dan sepupu.
“Kalau bukan keluarga yang bergerak, mungkin hasilnya tidak seperti sekarang,” kenangnya.
Bagi Haerudin, keberhasilan memimpin desa tak bisa dipisahkan dari keharmonisan rumah tangga. Ia meyakini, kepemimpinan publik berakar dari kepemimpinan dalam keluarga.
“Kita boleh berhasil memimpin desa, tapi kalau gagal memimpin keluarga, semua terasa sia-sia,” tuturnya.
Prinsip itulah yang ia pegang selama menjabat. Di tengah kesibukan sebagai kepala desa, ia tetap berusaha menjaga kedekatan dengan keluarga—terlebih kini ia telah menjadi kakek dari dua cucu.
Namun, perjalanan sebagai kepala desa di era keterbukaan bukanlah hal yang mudah. Haerudin mengakui, tantangan semakin besar. Setiap kebijakan dan langkah kini berada dalam sorotan publik.
“Sekarang ini semua terbuka. Jadi amanah sebagai kepala desa itu sangat berat,” katanya.
Tak jarang, persoalan yang ia hadapi melampaui urusan pemerintahan. Konflik rumah tangga warga, masalah sosial, hingga persoalan ekonomi kerap bermuara ke meja kerjanya.
“Kita ini bukan hanya urus administrasi. Kadang masalah keluarga warga juga kita harus ikut membantu mencarikan solusi,” tambahnya.
Meski begitu, Haerudin menjalani semuanya dengan kesadaran penuh bahwa jabatan adalah amanah, bukan sekadar posisi.
Di tengah waktu yang terus berjalan menuju akhir masa jabatannya, Haerudin kini berada di persimpangan: kembali melanjutkan pengabdian atau memberi ruang bagi pemimpin baru.
Namun satu hal yang pasti, apapun keputusan yang diambil, keluarga tetap menjadi pusat dari segala langkahnya.
Sebab bagi Haerudin Azis, menjadi pemimpin desa adalah tentang melayani masyarakat. Tapi menjadi kepala keluarga—itulah fondasi dari segalanya. (*)
(Yusrin eLbanna)
