Dr. Mohammad Tavip S.H.,M.Hum
Oleh: Dr. Mohammad Tavip S.H.,M.Hum
Kawan, coba berhenti sejenak nonton tv, toh waktu masih “hydration break”. Ayo tarik nafas, lalu berkaca di depan cermin.
Cermin mewah milik para suporter, punya kita.
Bukankah kita pernah nangis karena tim yang kita bela kalah?,
Pernah begadang sampe jam 3 pagi demi 90 menit?, Pernah “nosikurakodi” sama teman bertahun lamanya cuma lantaran beda jersey?
Hampir pasti iya. Dengan demikian, maka selamat datang di fase hidup dimana kontrol diri frekuensi kita tidak karuan. Kita bukan lagi cuma suporter. Kita tanpa sadar telah jadi `jemaat`.
Pada fase ini tak dapat dihindari begitu sulit diajak waras.
Kenali Dulu Sektemu
Tidak semua jemaat sama “pugonya”. Dalam amatanku, ada 7 tipe yang paling sering ditemui di pentas kita.
1. Ada Jemaat Warisan
Ini yang paling keras kepala. Lahir dilingkungan tim/club ini, ya di tim/club ini sampe mati.
Bapaknya Persija, dia Persija. Buat dia, pindah tim itu dosa paling besar. Ngkritik klub rasanya kayak ngkritik bapak sendiri. Kitab sucinya? Sejarah klub. “Kami berdiri tahun 1899!”
2. Jemaat Kemenangan
Agamanya cuma satu, Trofi, Barca era Messi, Madrid Champion eropa tiga kali beruntun, City-nya Pep. Imannya naik turun ngikutin klasemen. Giliran timnya degradasi, dia tiba-tiba `tiarap`, menghilang. Karena yang dia sembah bukan klubnya. Tapi hasil.
3. Jemaat Romantisme
Ini yang paling gila ingatan, tapi paling setia. Dia jatuh cinta sama penderitaan. Makin sengsara timnya, makin kenceng dia berdoa. Buat dia, kalah terhormat itu pahalanya lebih gede dari menang.
4. Jemaat Tokoh
Nabinya cuma satu orang. Messi. CR7. Maradona. Dia pindah ke mana, kiblatnya ikut ke situ. Klubnya nomor dua. Makanya kalau nabinya pensiun, dia bingung. Agamanya kerasa kiamat.
5. Jemaat Ideologi
Ini paling sok pinter. Agamanya gaya main. Tiki-taka, gegenpressing, catenatio, grendel, parkir bus.
Buat dia, `kalah 0-1 tapi main cantik` itu surga. `Menang 1-0 parkir bus` itu neraka. Hasil itu duniawi. Gaya main itu akhirat.
6. Jemaat Tongkrongan
Ini satu-satunya yang masih waras. Agamanya teman. Timnya siapa aja terserah. Yang penting nonton bareng, teriak bareng, bayar patungan bareng. Dia nyembah suasana, bukan logo. Klubnya bubar pun dia ketawa dan pindah tribun.
7. Jemaat Suka Bikin Sensasi
Agamanya: lawan arus. Semua suka Argentina, dia malah bela Tanjung Verde. Semua Barca, dia Espanyol. Imannya hidup dari benci ke mayoritas. Makin dihujat, makin khusyuk doa tereknya. Pahalanya cuma satu: rasa paling beda sendiri.
Kenapa Jadi Tak Waras ee?
Dari 7 tipe itu, cuma Jemaat Tongkrongan yang masih bisa diajak ngopi. Sisanya? Otaknya udah mati. Cirinya ada 4.
Pertama, `Buta Logika`. Tim main buruk 90 menit. Tapi yang disalahin wasit, VAR, rumput, jadwal main. Pokoknya bukan klubnya. Sama kayak orang yang enggan mau mengakui bahwa agamanya betul, tapi cara beragamanya tidak pas. Pasti dunia sekelilingnya yang salah.
Kedua, `Buta Moral`. Pemain pindah ke rival, dihujat setan. Dua tahun kemudian balik lagi, disambut malaikat. Halal-haramnya fleksibel. Ngikutin bursa transfer.
Ketiga, `Buta Identitas`. Tanya “Lu siapa?” Jawabnya “Gue Bonek. Gue Jakmania.” Namanya hilang. Kerjanya hilang. Yang ada cuma logo. Tanpa klub, dia ngerasa kosong.
Keempat, `Buta Empati`. Lawan udah bukan manusia. Udah jadi kafir. Makanya bisa didoain cedera, patah kaki, bisulan di jempol kaki. Bikin rusuh, bisa bacok-bacokan. Padahal 90 menit lagi udah pelukan lagi.
Lihat Ritual Ekstremnya
Jemaat punya ibadah. Dan ibadah jemaat bola nggak kalah gila.
Ada yang `puasa` sosmed 3 hari abis kalah derby. Ada yang `zakat` gaji sebulan habis buat awayday. Ada yang `haji` nabung setahun demi sekali nonton di Anfield. Ada yang `jihad` bikin 10 akun fake buat berantem di kolom komentar. Ada yang `bertasbih` ngulang-ngulang chant walau timnya posisi 14.
Jika sudah demikian, suporter bukan lagi mempraktekan cinta. Itu udah kecanduan. Kalaupun ingin disebut cinta, maka cintanya cinta Mbah Gombloh : (maaf) *tai kucing rasa cokelat swiss*
Bagaimana Mengenal Border Warasnya Suporter?
Jika sudah masuk suporter di fase jemaat, seharusnya ada rambu bertingkah. Kalau tidak, namanya sekte.
Garis merah yang memberi batas antara jemaat dan sekte:
pertama: Nyawa tetap harus dijunjung tinggi keberadaannya. Ejek boleh, silahkan, chant kasar boleh.
Tapi sampai rusuh, bacok, ada yang mati? Itu bukan suporter. Itu kriminal.
Garis merah kedua: Keluarga. Jersey ori boleh kalau mampu. Tapi sampai ngutang pinjol, jajannya anak, duit belanja istri abai dipenuhi demi awayday, Itu bukan fanatik. Itu pecandu.
Garis merah ketiga: Realita. Tim yang dibela kalah, ya *mangaku jo* kalah. Tim yang dibela jelek penampilannya, ya akuilah jelek. Tundukan “ka baga”.
Tuhan tidak pernah mau bantu tim agar menjadi pemenang bagi tim yang tidak bisa passing, penjaga gawangnya tidak punya dua tangan untuk halau bola masuk di gawangnya.
Jadi…Iya. Kita semua jemaat.
Bedanya: Jemaat beneran diajarin sabar, rendah hati, memaafkan. Jemaat stadion seringnya diajarin dan mempetontonkan sikap nesapuaka, kabaga , tidak mau mengalah, dan benci 90 menit penuh.
Pertanyaannya sekarang cuma satu, kita semua berada di posisi jemaat seperti apa?.
Mau jadi jemaat yang bikin stadion jadi rumah, atau jemaat yang bikin stadion jadi kuburan akal?
Penulis adalah Akademisi dan Pemerhati Sepak Bola
