Dinas Kehutanan Sulteng, saat berfoto bersama dengan peserta pelatihan petani kelapa sawit dari Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Senin (6/7) foto: ist | trustsulteng
Palu, trustsulteng – Petani kelapa sawit dilatih, dibekali ilmu pengetahuan menjadi petani handal dan profesional. Dari bekal ilmu bercocok tanam kelapa sawit kelak menjadi petani hebat yang bisa membuka lapangan kerja dan meningkatan kesejahteraan masyarakat.
Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Ir. Muhammad Neng, ST., MM., IPU, saat membuka pelatihan pada Senin 6 Juli 2026, di salah satu hotel Kota Palu.
Sebanyak 119 petani kelapa sawit dari dua kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), yakni Kabupaten Morowali dan Morowali Utara yang mengikuti pelatihan.
Dari 119 peserta, sebanyak 84 petani berasal dari Kabupaten Morowali. Mereka dibagi menjadi tiga kelas. Sementara 35 peserta lagi berasal dari Morowali Utara (Morut) yang dihimpun dalam satu kelas.
Pelatihan kali ini ada dua: Teknik Budidaya Kelapa Sawit serta Pengelolaan Sarana dan Prasarana (Sarpras) Perkebunan Kelapa Sawit. Kegiatannya berlangsung selama enam hari, mulai 6 hingga 11 Juli 2026.
Kegiatan pembukaan turut dihadiri perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta selaku penyelenggara dan instruktur, Dinas Pertanian Morowali, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Morowali Utara, para instruktur, serta narasumber.
“Sektor perkebunan memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Neng.
“Saat ini, sawit telah menjadi salah satu komoditas unggulan di Sulteng. Tidak terkecuali di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara yang dikelilingi lokasi pertambangan,” tambah mantan Kadis Kadis Kehutanan Sulteng ini.
Di Sulteng, lanjut Mohammad Neng, luas perkebunan sawit sekitar 152 ribu hektare, dengan produksi TBS sekitar 462 ribu ton per tahun.
Namun, tantangan yang dihadapi sektor sawit di Sulteng adalah umur tanaman sawit yang telah berusia 20 hingga 25 tahun. Jumlahnya cukup banyak, sehingga dibutuhkan program peremajaan agar produktivitas tetap terjaga.
Olehnya melalui pelatihan tersebut, Neng menyerukan kepada peserta untuk mengikuti kegiatan itu dengan sungguh-sungguh. Sepulang pelatihan bisa menerapkan ilmunya di lapangan dan membantu mengedukasi petani sawit lain. (*)
editor: yusrin eLbanna
