Di sebuah ruang rapat yang tenang, suara Abdul Rahman Taha terdengar tegas namun bersahaja. Dengan kemeja putih sederhana dan kacamata yang menjadi ciri khasnya, pria yang akrab disapa ART itu berbicara penuh keyakinan. Tangannya sesekali terangkat, menegaskan setiap gagasan yang ia sampaikan. Bagi banyak orang, ia bukan sekadar politisi. Ia adalah “anak guru ngaji” yang membawa nilai-nilai kesederhanaan ke panggung nasional.
Julukan itu bukan tanpa alasan. Abdul Rahman Taha tumbuh dalam lingkungan religius yang kuat, dengan fondasi pendidikan moral yang ditanamkan sejak kecil. Nilai-nilai itulah yang membentuk cara pandangnya terhadap kekuasaan—bahwa jabatan bukanlah tujuan, melainkan amanah untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
Perjalanan politiknya mencapai titik penting ketika ia dipercaya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia mewakili daerah pemilihan Sulawesi Tengah. Di lembaga yang kerap disebut sebagai kamar daerah itu, ART dikenal sebagai figur yang aktif menyuarakan kepentingan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan pembangunan daerah dan kesejahteraan ekonomi.
Namun bagi ART, politik bukan sekadar soal ruang sidang atau gedung parlemen. Ia memandang politik sebagai sarana untuk menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
“Daerah harus menjadi kuat secara ekonomi. Kalau ekonomi rakyat kuat, maka daerah akan berdiri tegak,” begitu kira-kira prinsip yang selalu ia pegang.
Kini, setelah melewati berbagai fase perjalanan politik, ART tengah memusatkan perhatian pada upaya membangun ekonomi kerakyatan. Ia aktif melakukan konsolidasi ke berbagai daerah, bertemu masyarakat, pelaku usaha kecil, tokoh lokal, hingga generasi muda. Baginya, pembangunan tidak bisa hanya dirancang dari atas, tetapi harus tumbuh dari bawah.
Langkah konsolidasi itu bukan sekadar agenda seremonial. ART ingin memastikan bahwa kekuatan ekonomi rakyat benar-benar terorganisasi dan memiliki daya tahan. Ia percaya, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kemampuan daerah-daerah untuk mandiri secara ekonomi.
“Ekonomi kerakyatan adalah fondasi. Kalau ini kuat, maka bangsa ini tidak akan mudah goyah,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Meski kini lebih banyak bergerak di tengah masyarakat, mimpi besarnya di panggung nasional tetap menyala. Ia menyimpan harapan untuk kembali mengabdi sebagai senator, jika Tuhan menghendaki. Lebih jauh lagi, ia juga memendam cita-cita untuk mengemban amanah sebagai pimpinan di Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.
Namun, bagi ART, jabatan bukanlah ambisi pribadi semata. Ia melihatnya sebagai peluang untuk memperluas pengabdian.
“Yang terpenting bukan posisi, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk rakyat,” katanya.
Kesederhanaan itu pula yang membuatnya tetap dekat dengan akar sosialnya. Ia tidak meninggalkan identitasnya sebagai anak kampung, sebagai anak guru ngaji. Justru identitas itu menjadi sumber kekuatan moral dalam setiap langkahnya.
Bagi sebagian orang, perjalanan politik ART mungkin terlihat seperti kisah biasa. Namun di balik itu, tersimpan konsistensi panjang: menjaga nilai, merawat kepercayaan, dan terus berusaha memberi manfaat.
Di tengah dinamika politik yang sering berubah, Abdul Rahman Taha memilih tetap berjalan dengan keyakinannya sendiri. Ia membangun dari daerah, menguatkan ekonomi rakyat, dan menjaga harapan.
Sebab baginya, pengabdian bukan soal seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi seberapa banyak yang bisa ia angkat bersama.
Dan sebagai anak guru ngaji, ia tampaknya masih setia pada pelajaran pertama yang ia terima sejak kecil: bahwa kehormatan sejati bukan datang dari jabatan, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama. (*)
