SOSOK
Di sebuah desa yang menjadi pusat denyut kehidupan Kecamatan Petasia Barat, ada sosok sederhana yang telah lama dikenal masyarakat. Bukan karena jabatan tinggi, bukan pula karena kemewahan hidupnya. Ia dikenal karena kedekatannya dengan warga, pengabdiannya di dunia pendidikan, dan ketulusannya dalam membina generasi muda. Sosok itu adalah Adris Ganoli.
Puluhan tahun mengabdikan diri sebagai guru olahraga di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Petasia, Adris bukan hanya mengajarkan cara berlari, menendang bola, atau menjaga kebugaran tubuh. Lebih dari itu, ia mendidik tentang disiplin, sportivitas, kerja keras, dan semangat kebersamaan kepada anak-anak yang kini banyak telah tumbuh menjadi bagian penting masyarakat.
Kini, menjelang masa purnabakti sebagai pendidik, Adris memilih jalan pengabdian yang lebih luas. Ia mengambil bagian dalam kontestasi pemilihan Kepala Desa Tiu untuk periode 2026–2034. Sebuah keputusan yang lahir bukan dari ambisi kekuasaan, melainkan dari panggilan hati untuk terus melayani masyarakat.
Desa Tiu bukan desa biasa. Sebagai ibu kota Kecamatan Petasia Barat, Tiu memegang peran penting dalam perkembangan wilayah. Kemajuan desa ini akan sangat menentukan arah pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Karena itu, masyarakat membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memahami pemerintahan, tetapi juga memahami rakyatnya.
Dan banyak warga menilai, pengalaman panjang Adris hidup bersama masyarakat menjadi modal besar untuk itu.
Selama menjadi guru, Adris dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul. Ia hadir di tengah masyarakat bukan hanya saat ada kepentingan, tetapi dalam keseharian kehidupan warga. Karakter humoris yang dimilikinya membuat ia mudah diterima oleh berbagai kalangan — dari anak muda hingga para orang tua.
Namun di balik sikap sederhana dan hangat itu, tersimpan keteguhan prinsip tentang tanggung jawab dan amanah. Baginya, jabatan adalah bentuk pengabdian, bukan kesempatan untuk dilayani.
“Melayani dengan hati, bekerja dengan nyata, membangun Desa Tiu untuk masa depan yang lebih baik,” menjadi kalimat yang terus ia pegang dalam perjalanan pengabdiannya.
Keinginan Adris untuk maju sebagai Kepala Desa Tiu juga membawa harapan tentang persatuan. Di tengah berbagai perbedaan pilihan dan pandangan, ia ingin masyarakat tetap menjaga kekeluargaan dan kebersamaan demi kemajuan desa.
Ia percaya, pembangunan tidak bisa dilakukan sendiri. Desa yang maju hanya bisa lahir dari persatuan masyarakat dan pemimpin yang mau mendengar suara rakyatnya.
Visi yang diusungnya sederhana namun menyentuh kebutuhan masyarakat: meningkatkan pelayanan, membangun desa dengan perencanaan yang matang, mendorong ekonomi dan kesejahteraan warga, memperhatikan pendidikan dan kesehatan, serta menjaga alam dan budaya lokal yang menjadi identitas Desa Tiu.
Bagi sebagian orang, masa pensiun adalah waktu untuk beristirahat. Namun bagi Adris Ganoli, masa itu justru menjadi awal pengabdian baru.
Ia ingin menutup perjalanan panjangnya sebagai pendidik dengan pengabdian yang lebih besar bagi kampung halaman dan masyarakat yang dicintainya.
Kini, harapan itu berada di tangan masyarakat Desa Tiu.
Restu, dukungan, dan doa dari seluruh warga akan menjadi kekuatan besar untuk menghadirkan pemimpin yang lahir dari rakyat, hidup bersama rakyat, dan ingin bekerja sepenuh hati untuk rakyat.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pintar berbicara. Masyarakat membutuhkan sosok yang hadir, peduli, dan benar-benar memahami arti pengabdian.
Dan bagi banyak warga, sosok itu ada pada diri Adris Ganoli, S.Pd. (*)
penulis: yusrin eLbanna
