Morowali, trustsulteng – Desa Ambunu, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, sedang memasuki fase penting dalam perjalanan pemerintahannya. Dalam waktu dekat, desa yang terbagi dalam tiga dusun itu akan menggelar pemilihan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Di tengah geliat kawasan industri Morowali yang terus menarik mobilitas warga dan pendatang, posisi BPD menjadi semakin penting. Lembaga ini bukan sekadar pelengkap pemerintahan desa. BPD merupakan ruang representasi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, mengawasi jalannya pemerintahan desa, serta ikut membahas berbagai kebijakan yang menyangkut kepentingan warga.
Ambunu sendiri dihuni sekitar 905 jiwa, berdasarkan data profil dan catatan wilayah setempat. Jumlah tersebut tidak hanya menggambarkan penduduk administratif, tetapi juga memperlihatkan sebuah desa yang berada dalam pusaran perubahan sosial dan ekonomi akibat perkembangan kawasan industri di Morowali.
Menjelang pemilihan BPD, tiga dusun mulai mengajukan nama-nama yang dianggap layak menjadi wakil masyarakat.
Informasi yang dihimpun menyebutkan terdapat sembilan bakal calon yang diajukan warga.
Dusun I mengusulkan dua bakal calon. Dusun II mengajukan tiga nama. Sedangkan Dusun III menjadi dusun dengan jumlah bakal calon terbanyak, yakni empat orang.
Dari sembilan nama tersebut, perhatian sebagian warga Dusun III mengarah kepada satu figur yang selama ini cukup dikenal dalam dinamika sosial Desa Ambunu: M. Rais Rabbie.
Bukan Nama Baru dalam Politik Desa
Rais bukan sosok yang tiba-tiba muncul menjelang pemilihan BPD.
Namanya telah lama dikenal warga Ambunu. Ia pernah mengikuti kontestasi pemilihan kepala desa dan menjadi salah satu kandidat dengan perolehan suara signifikan.
Dalam Pilkades Ambunu beberapa tahun lalu, Rais disebut memperoleh suara terbanyak kedua.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sebagian warga kembali mendorongnya untuk masuk dalam lembaga representasi desa.
Namun, ada alasan lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Rais selama ini disebut kerap menjadi tempat warga menyampaikan persoalan, terutama keluarga yang membutuhkan informasi maupun akses terkait peluang kerja di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan industri Morowali.
Persoalan tenaga kerja menjadi isu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Ambunu.
Pertumbuhan industri pertambangan dan pengolahan mineral di Morowali menciptakan lapangan pekerjaan dalam jumlah besar. Nama-nama kawasan seperti Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Bahodopi hingga BTIIG di Topogaro menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat yang berharap memperoleh kesempatan bekerja.
Bagi sebagian keluarga, mendapatkan pekerjaan di kawasan industri bukan sekadar soal karier.
Itu menyangkut biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, cicilan, hingga masa depan keluarga.
Di titik inilah peran tokoh lokal seperti Rais menjadi penting.
Warga datang bukan selalu karena ia memiliki kewenangan formal untuk menentukan seseorang diterima bekerja. Tetapi karena mereka membutuhkan orang yang bersedia mendengar, menjembatani informasi, dan menyampaikan aspirasi.
Ketika Desa Berhadapan dengan Industri
Ambunu berada di tengah perubahan besar yang terjadi di Morowali.
Perkembangan industri telah mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat. Desa-desa di sekitar kawasan industri tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan klasik seperti infrastruktur, pertanian, pelayanan administrasi, dan bantuan sosial.
Kini muncul persoalan baru: kesempatan kerja, keterampilan tenaga kerja lokal, persaingan dengan pendatang, perubahan harga tanah, mobilitas penduduk, hingga kebutuhan agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi.
Dalam konteks seperti itu, BPD memiliki pekerjaan yang tidak ringan.
BPD dituntut mampu menjadi saluran aspirasi masyarakat kepada pemerintah desa.
Artinya, anggota BPD tidak cukup hanya hadir dalam rapat desa. Mereka harus memahami persoalan warga dan mampu membawa suara masyarakat ke ruang pengambilan keputusan.
Karena itu, pemilihan BPD Ambunu kali ini berpotensi menjadi lebih dari sekadar pergantian atau pengisian anggota lembaga desa.
Ini juga menjadi ujian bagi masyarakat: siapa yang benar-benar dianggap mampu menjadi representasi mereka?
Mengapa Rais Didorong Warga?
Dorongan terhadap M. Rais Rabbie dari warga Dusun III tidak terlepas dari rekam jejak sosialnya di tengah masyarakat.
Pengalaman sebagai calon kepala desa memberikan Rais pengalaman berinteraksi langsung dengan warga dalam skala yang lebih luas.
Ia juga disebut selama ini menjadi salah satu tempat warga mengadukan persoalan, terutama berkaitan dengan keluarga yang ingin mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan-perusahaan industri di Morowali.
Namun, justru di sinilah ekspektasi terhadap dirinya akan semakin besar jika kelak terpilih menjadi anggota BPD.
Sebab, menjadi anggota BPD bukan berarti menjadi “pintu masuk” seseorang ke perusahaan.
BPD tidak memiliki kewenangan untuk menentukan penerimaan karyawan perusahaan.
Peran yang lebih tepat adalah memastikan kepentingan masyarakat desa tersampaikan, termasuk memperjuangkan transparansi informasi mengenai kesempatan kerja, peningkatan kompetensi warga, serta hubungan yang sehat antara desa, pemerintah, dan dunia usaha.
Jika Rais terpilih, harapan warga tersebut akan berubah menjadi tanggung jawab formal.
Ia tidak lagi hanya menjadi tempat warga menyampaikan keluhan secara personal, tetapi menjadi bagian dari institusi desa yang memiliki fungsi representasi.
Sembilan Nama dan Masa Depan Aspirasi Desa
Pemilihan BPD Ambunu akhirnya memperlihatkan satu hal penting: demokrasi desa masih menjadi ruang yang sangat menentukan bagi masyarakat.
Sembilan bakal calon yang muncul dari tiga dusun membawa latar belakang dan jaringan sosial masing-masing.
Mereka akan berhadapan dengan pilihan warga yang pada akhirnya menentukan siapa yang dianggap paling mampu mewakili kepentingan masyarakat.
Dusun I dengan dua bakal calon, Dusun II dengan tiga calon, dan Dusun III dengan empat nama memperlihatkan adanya kompetisi sekaligus partisipasi masyarakat.
Di antara nama-nama tersebut, Rais memiliki modal politik berupa pengalaman pernah menjadi kandidat kepala desa dengan perolehan suara kedua terbanyak serta kedekatan sosial dengan sebagian warga.
Tetapi modal tersebut belum otomatis menjadi tiket kemenangan.
Dalam pemilihan BPD, ukuran akhirnya tetap berada di tangan warga.
Mereka akan menilai siapa yang paling mampu mendengar, berbicara dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Terlebih bagi Ambunu yang terus berubah seiring berkembangnya kawasan industri Morowali.
Ke depan, aspirasi warga tidak lagi hanya berkutat pada jalan desa, air bersih atau pelayanan administrasi.
Ada pertanyaan yang jauh lebih besar:
Apakah masyarakat lokal benar-benar mendapatkan manfaat dari pertumbuhan industri di sekitar mereka?
Dan ketika pertanyaan itu dibawa ke ruang pemerintahan desa, masyarakat membutuhkan wakil yang bukan hanya memiliki nama, tetapi juga keberanian untuk menyuarakannya.
Pemilihan BPD Ambunu akan menjadi salah satu penentu siapa yang akan mengambil peran tersebut. SEMOGA!
editor: yusrin eLbanna