Palu, trustsulteng – Ratusan massa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Sulteng Bersatu menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Perwakilan Komnas HAM Sulawesi Tengah di Jalan Suprapto, Kota Palu, Senin 9 Maret 2026.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.10 WITA itu diwarnai ketegangan. Massa datang menggunakan mobil sound system dan puluhan kendaraan roda dua sambil membawa berbagai atribut aksi.
Dalam orasinya, massa mendesak agar Kepala Perwakilan Komnas HAM Sulteng, Livand Breemer, dicopot dari jabatannya. Mereka menuding Livand tidak konsisten dalam menyuarakan isu pertambangan ilegal.
Koordinator lapangan aksi, Amier Sidik, dalam orasinya menuding Livand memiliki kolam perendaman emas secara pribadi di kawasan Poboya, Kota Palu.
Ia juga menyebut adanya dugaan kerja sama dengan seseorang berinisial S.
“Jangan sok suci. Ketua Komnas HAM Sulteng ini ibarat maling teriak maling,” teriak Amier Sidik di hadapan massa aksi.
Selain berorasi, massa juga membakar ban di depan kantor tersebut. Situasi semakin memanas ketika sebagian massa melemparkan tomat busuk dan kotoran hewan ke arah halaman hingga area kantor Komnas HAM Sulteng.
Dalam orasi lanjutan, Amier juga menuding Livand pernah memasok 42 kaleng sianida ke kawasan tambang di Poboya serta mengirim satu unit alat berat jenis excavator untuk bekerja di lokasi tersebut.
“Ketua Komnas HAM Sulteng pernah memasok 42 kaleng sianida ke Poboya dan alat berat satu unit,” ujarnya.
Orator lain, Imam Safa’at, juga mengkritik keras sikap Livand yang dinilai terlalu sering menyoroti aktivitas tambang rakyat, sementara berbagai persoalan hak asasi manusia lain di Sulawesi Tengah belum terselesaikan.
“Banyak saudara kita korban bencana yang masih tinggal di hunian sementara yang perlu dibela untuk mendapatkan haknya. Tapi Ketua Komnas HAM Sulteng yang ternyata juga memiliki kolam perendaman emas malah selalu mendesak pelaku tambang untuk ditangkap,” katanya.
Menurut Imam, sikap Livand dianggap kontradiktif karena di satu sisi menolak aktivitas tambang ilegal, tetapi di sisi lain justru diduga terlibat dalam aktivitas yang sama.
Aksi demonstrasi berlangsung sekitar satu jam. Namun Livand Breemer tidak menemui massa aksi.
Hal itu memicu kemarahan massa yang kemudian kembali melempari kantor menggunakan telur dan tomat hingga mengotori halaman dan area kantor.
Tidak hanya itu, massa juga melakukan penyegelan kantor dengan palang kayu serta mencoret dinding menggunakan cat semprot.
Usai massa membubarkan diri, Livand Breemer akhirnya memberikan keterangan kepada wartawan. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam aktivitas pertambangan ilegal di kawasan Poboya.
“Kalau orang menduga silakan buktikan dalilnya,” kata Livand kepada wartawan.
Ia juga membantah tudingan mengenai keterlibatannya dalam pemasokan sianida maupun pengiriman alat berat ke lokasi tambang.
Meski demikian, Livand mengakui pernah dijanjikan kolam perendaman emas, namun menurutnya hingga kini tidak pernah digunakan.
“Saya memang dijanjikan diberikan kolam perendaman, tapi sampai saat ini tidak ada isi dan tidak ada hasil,” ujarnya.
Mantan Ketua Komnas HAM Papua itu menilai aksi demonstrasi merupakan hal yang wajar dalam dinamika masyarakat. Meski kantornya sempat disegel massa, ia memastikan aktivitas perkantoran tetap berjalan seperti biasa.
“Kami akan buka karena kami berkantor,” tegasnya. (*)
