Oleh : Saleh Awal
Di lingkungan aktivis Sulawesi Tengah, nama H. Mulhanan Tombolotutu, SH lebih akrab disebut dengan panggilan Kak Tony. Panggilan itu tidak hanya hidup di kalangan alumni Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi juga meluas di berbagai jejaring sosial, politik, dan organisasi di Palu.
Banyak orang mengenalnya sejak lama dengan nama itu. Tentang sejarah nama ini, biarkan Kak Tony sendiri yg bercerita sebagai berikut :
“Sekitar tahun lima puluhan ada seorang dokter berkebangsaan Italy namanya Antonio Vigiani.
Dokter inilah yg membantu ibu saya dalam proses melahirkan di rumah kami di jalan Cempaka samping Gedung Juang.
Singkat kisah ketika ana lahir, berseloroh dokter itu, beri nama bayi ini dengan nama saya sebagai kenangan bahwa saya pernah bertugas di Palu.
Maka ibu dan ayah saya sepakat memberi nama “Antonio”, dipanggil dengan nama pendek “Toni” yg sering juga ditulis dengan “Tonny” biar sedikit keren dan nampak modern.
Setelah seminggu atau dua minggu, paska persalinan, waktu tepatnya saya tak tahu pasti. Namun intinya Kakek saya dari Tinombo datang menengok cucunya yg baru lahir.
Saat tiba dirumah kami, Kakek bertanya siapa nama bayi ini, ketika hampir bersamaan jawaban dari ayah dan ibu saya menyebut “Antoni”. Seketika kakek saya terkejut sembari mengeluarkan kalimat “hah nama kapere”, jangan saya yg beri nama, jadilah nama hingga di akta kelahiran dan semua dokomen kependudukan yg hingga kini dikenal *Andi Mulhanan* ”
*****
Sejarah perjalanan organisasinya sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum dunia kampus. Pada masa pelajar ia telah aktif dalam Pelajar Islam Indonesia ( PII). Organisasi ini menjadi ruang pertama bagi dirinya mengenal dunia gerakan, diskusi, dan pembentukan karakter kepemimpinan. Dari sana ia belajar bahwa organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, tapi juga ruang untuk membangun kesadaran tentang umat, bangsa, dan masa depan.
****
Namun perjalanan aktivismenya benar-benar menemukan bentuk ketika ia masuk ke dunia kampus dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI). Di organisasi inilah ia tercebur jauh ke dalam dunia gerakan mahasiswa. HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa biasa. Tapi adalah ruang pembentukan intelektual, kepemimpinan, sekaligus tempat menempa keberanian berpikir dan bertindak.
Banyak kader HMI yg kemudian mengambil jalan berbeda dalam kehidupan. Ada yang memilih jalur akademik, ada yang menjadi profesional, ada pula yang masuk ke dunia politik. Kak Tony termasuk dalam kelompok yang menjadikan pengalaman organisasi itu sebagai fondasi panjang dalam pengabdian sosial dan politiknya.
Hubungannya dengan HMI bahkan tidak berhenti ketika masa mahasiswa selesai. Ia terus melanjutkan pengabdian dalam Korps Alumni HMI. Sampai hari ini ia telah tiga periode memimpin KAHMI Sulawesi Tengah, sebuah perjalanan yang menunjukkan kepercayaan dan pengakuan dari para alumni terhadap kepemimpinannya.
****
Bagi Kak Tony, organisasi bukan sekadar riwayat dalam biografi. Organisasi adalah ruang pembentukan kepribadian. Dari proses panjang itulah terbentuk cara pandangnya tentang Indonesia dan Islam.
Dalam tradisi kaderisasi HMI, ada satu fondasi penting yakni menyatunya identitas keislaman dan keindonesiaan. Karena itu dalam diri seorang kader HMI tidak boleh ada apa yang dalam psikologi disebut split of personality—kepribadian yang terbelah antara agama dan bangsa. Dalam pandangan ini, membela bangsa berarti membela nilai-nilai Islam, dan memperjuangkan Islam berarti menjaga keutuhan bangsa.
Cara pandang seperti itulah yang tampaknya melekat kuat dalam diri Kak Tony. Ia tidak melihat Indonesia dan Islam sebagai dua dunia yang harus dipertentangkan. Justru keduanya berjalan dalam satu garis yang sama, pengabdian kepada kemaslahatan masyarakat.
*****
Perjalanan organisasinya juga terus berkembang. Kini ia aktif sebagai pengurus di YASKUM, sebuah organisasi yang bergerak dalam spirit keislaman dan sosial. Dalam perspektif organisasi ini, perjuangan manusia dipahami sebagai perpaduan antara ikhtiar dan takdir—dua konsep penting dalam tradisi pemikiran Islam.
Manusia wajib berikhtiar, berusaha sekuat tenaga memperjuangkan kebaikan. Tetapi pada saat yang sama ia juga harus menerima bahwa ada dimensi takdir yang berada dalam ketentuan Allah SWT. Dalam bahasa sederhana: manusia bekerja, Tuhan menentukan.
Menariknya, nilai ini sangat sejalan dengan identitas kader HMI yang sejak awal dididik untuk memahami dua hal sekaligus: ikhtiar sebagai kewajiban moral, dan takdir sebagai kesadaran spiritual.
Karena itu perjalanan Kak Tony dalam berbagai organisasi tampak seperti satu garis continum. Dari Pelajar Islam Indonesia, ke HMI, lalu ke KAHMI, hingga aktivitas sosial keagamaan di YASKUM, semuanya berada dalam satu orbit yang sama yaitu pengabdian kepada masyarakat dengan fondasi nilai Islam.
****
Jika melihat lintasan panjang itu, orang mungkin mengenalnya melalui jabatan-jabatan publik yang pernah diembannya—dari dunia politik ( Ketua Partai Golkar dan Ketua DPRD Kota Palu hingga pemerintahan kota sebagai wakil walikota Palu. Hingga kini memegang lembaga pemerintah Non APBN yg dikenal Lembaga Manajemen Kolektif Nasional ( LMKN).
Tetapi di balik semua itu, ada satu benang merah yg tidak pernah putus: dunia organisasi yg membentuk karakter dan cara pandangnya tentang kehidupan.
*****
Dan dari situlah mungkin kita bisa memahami satu hal secara simple mengapa sampai hari ini banyak orang tetap memanggilnya dengan penuh keakraban—
Kak Tony.
Selamat Ulang Tahun Kanda H. Mulhanan Tombolotutu, SH.
