Di balik perolehan suara signifikan,
35.207 suara—dalam pemilihan anggota DPRD Sulawesi Tengah dari Daerah Pemilihan Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut, nama Maryam Tamoreka, S.Kom muncul sebagai salah satu figur yang menarik untuk ditelusuri. Bukan hanya karena latar belakangnya sebagai pengusaha, tetapi juga karena jejaring keluarga dan perjalanan panjangnya di dunia industri sebelum terjun ke politik.
Maryam, yang akrab disapa “Chi Mery”, bukanlah nama yang tumbuh dari akar politik tradisional sejak awal. Ia merupakan adik bungsu dari Bupati Banggai, Amir Tamoreka, sekaligus anak kelima dari sembilan bersaudara dalam keluarga yang dikenal memiliki pengaruh di wilayah tersebut.
Dari Jakarta ke Lapangan Migas
Berbeda dengan banyak politisi daerah yang menghabiskan waktu di kampung halaman, Maryam justru tumbuh dan besar di Jakarta. Ia menempuh pendidikan tinggi di Makassar sebelum memulai karier profesionalnya di industri yang tidak lazim bagi banyak perempuan: sektor survei seismik.
Selama lebih dari satu dekade, ia terlibat dalam perusahaan yang bergerak di bidang deteksi sumber daya alam, termasuk minyak, gas, dan mineral. Pekerjaannya membawanya menjelajah berbagai wilayah Indonesia—dari Karawang, Bojonegoro, hingga Sorong di Papua.
Lingkup kerja yang luas dan kompleks membuatnya terbiasa menangani operasional berskala besar, termasuk mengelola ratusan hingga ribuan tenaga kerja di berbagai proyek. Dalam sejumlah catatan internal perusahaan, pengalaman tersebut menjadi titik balik kepercayaan manajemen terhadap kapasitas kepemimpinannya.
“Kepercayaan dan kedisiplinan,” menjadi prinsip yang kerap ia sebut sebagai fondasi kariernya.

Kembali ke Akar Keluarga
Sekitar tahun 2014, Maryam mulai terlibat aktif dalam pengelolaan perusahaan keluarga Tamoreka. Setelah menikah—dengan keluarga yang juga memiliki kedekatan dengan tokoh politik Sulawesi Tengah—ia mengambil peran strategis sebagai Direktur Utama.
Di fase ini, ia tidak hanya melanjutkan bisnis keluarga, tetapi juga memperluas jaringan dan memperkuat posisi perusahaan di sektor jasa pendukung industri sumber daya alam.
Namun, pergeseran paling signifikan dalam hidupnya terjadi ketika sang kakak, Beny Tamoreka, mendorongnya masuk ke dunia politik.
Masuknya Maryam ke Partai Golkar dan pencalonannya sebagai anggota DPRD Sulawesi Tengah bukanlah keputusan yang sepenuhnya spontan. Saat berbincang di kediaman nya di Luwuk, Maryam mengaku keluargalah memainkan peran penting, terutama dalam melihat peluang representasi politik di Dapil IV yang meliputi wilayah “Banggai Bersaudara”.
Kampanye Maryam mengandalkan kombinasi antara jaringan keluarga, pengalaman profesional, serta pendekatan personal kepada masyarakat. Ia dikenal kerap kembali ke Banggai saat momen tertentu, terutama Hari Raya, untuk menjaga hubungan sosial.
Tempat tinggal keluarganya di kawasan Pasar Tua, Jalan Danau Lindu, menjadi salah satu titik interaksi dengan warga—sebuah ruang yang juga menyimpan sejarah keluarga besar Tamoreka.
Sebagai anggota DPRD yang kini duduk di Komisi IV—membidangi kesejahteraan rakyat, pendidikan, kesehatan, dan sosial—Maryam membawa narasi pelayanan publik sebagai identitas politiknya.
Ia dikenal memiliki kebiasaan membantu masyarakat, sebuah praktik yang disebut telah ia jalani sejak menyelesaikan pendidikan sarjana.
Namun, perjalanan Maryam juga memunculkan sejumlah pertanyaan yang lazim dalam konteks politik lokal Indonesia: sejauh mana pengaruh keluarga berperan dalam kesuksesannya? Apakah pengalaman korporasi cukup menjadi bekal dalam mengelola kebijakan publik? Dan bagaimana ia menavigasi batas antara kepentingan bisnis dan tanggung jawab politik?
Yang jelas, kemunculan Maryam bukan sekadar kisah tentang seorang politisi baru, melainkan potret tentang bagaimana kekuatan keluarga, pengalaman profesional, dan momentum politik bertemu dalam satu figur. (*)
editor: yusrin eLbanna
