Ust Hartono M. Yasin Anda, saat menyampaikan kajian subuh di Masjid Al Munawwarah Pertanian Palu, Senin 16 Maret 2026.
Kajian Subuh; Ustadz Hartono M. Yasin Anda
Di Jalan Menuju Taqwa, ada satu perjuangan yang sering tidak terlihat oleh manusia: perjuangan menjaga keikhlasan. Banyak orang mampu melakukan amal, tetapi tidak semua mampu menjaga amal itu tetap murni hanya karena Allah.
Para ulama sejak dahulu mengingatkan bahwa perkara ikhlas adalah salah satu ujian terberat bagi seorang hamba. Ulama besar Sahl ibn Abd Allah al-Tustari mengatakan bahwa ikhlas adalah ketika diam dan gerak seorang hamba hanya karena Allah.
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi jika direnungkan, sangat berat untuk diwujudkan.
Sebab dalam kehidupan sehari-hari, sering kali amal kita bercampur dengan keinginan lain: ingin dipuji, ingin dihargai, ingin terlihat baik di mata manusia.
Padahal hakikat ikhlas adalah memutus hubungan amal dari penilaian manusia. Seorang ulama sufi, Abu Utsman al-Hiri, menjelaskan bahwa ikhlas adalah ketika pandangan manusia tidak lagi menjadi tujuan, dan hati hanya tertuju kepada Allah.
Karena itu, orang yang ikhlas tidak berubah oleh dua keadaan: dipuji ataupun dicela. Pujian tidak membuatnya merasa besar, dan celaan tidak membuatnya berhenti berbuat baik.
Ada satu ciri indah dari orang-orang yang benar-benar ikhlas: mereka menyembunyikan kebaikan sebagaimana mereka menyembunyikan keburukan. Amal yang paling mereka jaga justru amal yang tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya dan Allah.
Para ulama bahkan menasihatkan: usahakan ada amal yang hanya engkau dan Allah yang mengetahuinya. Di situlah hati belajar jujur, dan di situlah ikhlas tumbuh.
Ulama besar Ibrahim ibn Adham mengingatkan bahwa ikhlas dimulai dengan meluruskan niat sebelum beramal. Sebab setiap amal selalu dimulai dengan niat.
Namun perlu dipahami, niat dan ikhlas bukan hal yang sama. Niat adalah pintu awal sebuah perbuatan. Ia bisa mengarah pada kebaikan atau bahkan kejahatan. Sedangkan ikhlas adalah kemurnian tujuan dalam amal kebaikan, yang menjaga amal itu dari awal hingga akhir agar tetap hanya untuk Allah.
Imam besar Ibnu Rajab Al Hambali, menjelaskan bahwa niat berfungsi untuk membedakan suatu amal—apakah ibadah atau sekadar kebiasaan. Sementara ikhlas menentukan apakah amal itu diterima di sisi Allah atau tidak.
Karena itu, ukuran amal di sisi Allah bukan semata besar kecilnya perbuatan. Seorang ulama besar, Abdullah ibn al-Mubarak, pernah berkata:
“Bisa jadi amal yang besar menjadi kecil di sisi Allah karena niatnya. Dan bisa jadi amal yang kecil menjadi besar di sisi Allah karena keikhlasannya.”
Inilah rahasia yang sering tidak kita sadari. Amal kecil seperti senyuman, sedekah yang sederhana, atau doa yang lirih di sepertiga malam bisa menjadi sangat besar nilainya di sisi Allah jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.
Karena itu, cara terbaik menjaga niat dan keikhlasan adalah terus memohon kepada Allah. Mintalah kepada-Nya agar hati kita diluruskan setiap kali beribadah.
Terlebih di bulan penuh rahmat seperti Ramadan, ketika doa-doa lebih mudah diijabah.
Semoga Allah menjaga niat kita, membersihkan hati kita dari riya, dan menjadikan setiap amal kecil yang kita lakukan bernilai besar di sisi-Nya. (*)
