Foto atas; Prof Khairil sedang santap sahur, disamping Prof (HC) Ahmad Basirt (peci putih) Foto bawah: Prof Khairil membungkuk saat pamitan kepada sang imam Prof H. Ahmad Basirt, disaksikan Penanggung Jawab Masjid Al Munawwarah Pertanian, H. Muchtar Ibnu Mas'ud. foto: redaksi trustsulteng
Sepertiga Malam Terakhir di bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Hening, khusyuk, dan penuh harap. Demikian pula yang terjadi pada malam ke-27 Ramadhan di Masjid Al-Munawwarah, Kompleks Pertanian, Kota Palu. Sekitar pukul 03.00 WITA, ratusan jamaah memadati masjid untuk menunaikan shalat tahajud berjamaah.
Yang menarik, malam itu menghadirkan pertemuan dua akademisi dengan latar keilmuan berbeda namun dipersatukan oleh Al-Qur’an dan ibadah. Shalat tahajud dipimpin oleh Prof (HC), Dr. H. Ahmad Basirt, MA., M.HI., seorang akademisi sekaligus muqri qira’at Al-Qur’an bersanad dari Markaz Tahfidz Banaaty HQ Jakarta serta pengajar di STAI Al Fatih Tangerang. Di antara para jamaah, tampak pula Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Tadulako, Prof. Dr. Muhammad Khairil, S.Ag., M.Si., M.H., yang malam itu berdiri sebagai makmum.
Shalat tahajud berlangsung khusyuk hingga pukul 04.25 WITA. Dalam dua rakaat pertama, imam melantunkan Surah An-Nur hingga 118 ayat dengan bacaan yang merdu dan penuh penghayatan. Suasana masjid terasa begitu syahdu. Ayat-ayat tentang cahaya seakan menembus relung hati para jamaah yang larut dalam kekhusyukan.
Beberapa tokoh agama dan cendekiawan turut hadir dalam shalat malam tersebut, di antaranya KH Haris Kasim dan Dr. Saleh. Mereka menikmati suasana spiritual yang jarang ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Pertemuan dua profesor itu sendiri terjadi secara tidak disengaja. Sebelum shalat subuh dimulai, keduanya bertemu di area wudhu masjid saat menunggu giliran menuju toilet. Dari pertemuan singkat itulah percakapan ringan mengalir, yang kemudian berlanjut dengan saling bertukar buku.
Prof Ahmad Basirt menghadiahkan dua buku karya Cece Abdulwaly kepada Prof Khairil berjudul “60 Godaan Penghafal Al-Qur’an dan Solusi Mengatasinya” serta “Mengapa Aku Sulit Menghafal Al-Qur’an”. Sebaliknya, Prof Khairil mengambil bukunya dari mobil dan memberikannya kepada sang imam. Buku tersebut berjudul “Resolusi Komunikasi: Tindak Penanganan Terorisme”.
Dengan penuh kerendahan hati, Prof Khairil sempat berujar sambil menerima buku tersebut, “Terima kasih banyak bukunya, ustadz. Buku saya ini lebih banyak berbicara tentang dunia.”
Keduanya saling menyapa dengan sikap santun, bahkan membungkukkan badan sebagai tanda hormat satu sama lain. Sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna tentang adab dan penghormatan dalam tradisi keilmuan.
Amatan di lokasi menunjukkan bahwa Prof Khairil juga mengikuti i’tikaf di masjid tersebut. Ia mengambil posisi di sudut kanan masjid menghadap kiblat, menghabiskan waktu dengan tadarus Al-Qur’an sebelum sesekali berbaring menanti waktu tahajud tiba.
Usai shalat Subuh, kepada awak media ia menyampaikan kesannya mengikuti shalat malam yang dipimpin imam profesor tersebut.
“Saya menikmati dalam kekhusyukan yang sangat mendalam. Bacaan yang syahdu dan penuh penghayatan membuat shalat terasa sangat hidup,” ungkapnya.
Rangkaian ibadah malam itu terasa semakin lengkap dengan kajian Subuh yang disampaikan Ustadz Hartono M. Yasin bertema “Jagalah Hati Sebelum Mati.” Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya hati sebagai pusat keikhlasan manusia.
“Hati adalah makhalul ikhlas, tempatnya ikhlas. Pusat perhatian Allah adalah hati manusia,” ujarnya, mengutip hadits Nabi yang menyatakan bahwa Allah tidak melihat rupa manusia, tetapi melihat hati dan amalnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hati merupakan baitul iman—rumah bagi iman seseorang. Karena itu, menjaga kebersihan hati menjadi kunci utama dalam perjalanan spiritual seorang muslim.
Apakah kebetulan atau tidak, kajian tentang hati yang disampaikan setelah shalat Subuh seakan menyempurnakan suasana malam itu. Ayat-ayat tentang cahaya, lantunan Al-Qur’an yang khusyuk, pertemuan dua ilmuwan yang saling menghormati, hingga tausiyah tentang menjaga hati—semuanya menyatu dalam harmoni spiritual di Masjid Al-Munawwarah.
Masjid yang dikenal tidak pernah sepi jamaah itu kembali menjadi saksi bahwa di sepertiga malam Ramadhan, ilmu, adab, dan ibadah dapat bertemu dalam satu ruang yang sama—menciptakan cahaya yang bukan hanya menerangi masjid, tetapi juga hati para jamaah yang hadir.(*)
Yusrin eLbanna
