Alumni MAN 2 Palu Angkatan ’93
Ada yang bilang, rencana yang terlalu matang justru sering gagal. Tapi pertemuan yang satu ini malah membuktikan sebaliknya: tanpa rencana, tanpa desain, tanpa panitia—justru jadi momen paling berkesan.
Selasa sore, 17 Maret 2026, tak ada yang benar-benar menyangka kalau grup WhatsApp alumni MAN 2 Palu angkatan ’93 yang biasanya lebih sering diisi iklan, kabar duka, dan sesekali info kecelakaan, tiba-tiba “hidup”. Bukan karena debat serius. Tapi karena satu hal sederhana: “Pak dokter, kapan bukber? Sudah penghujung Ramadan…”
Pesan itu muncul pukul 10.16 WITA. Empat menit kemudian, sang “pak dokter” langsung merespons. Bukan dengan teori medis, tapi dengan jurus klasik: tag massal.
“Ayo diagendakan Selasa. Mana suaranya semua?”
Dan seperti biasa, alumni 93 tidak butuh waktu lama untuk berubah dari mode diam menjadi mode “gas full”.
Lokasi? Bebas. Menu? Sesuai selera.
Sistem pembayaran? BMM—Bayar Masing-Masing (yang selalu terasa lebih ringan… sebelum totalnya keluar).
Dari sekian usulan, akhirnya dipilih satu tempat yang cukup representatif: Warung Arjuna Palu. Tempat yang kemudian menjadi saksi bahwa nostalgia bisa lebih nikmat daripada menu utama.
Menjelang buka puasa, suasana sudah mulai tidak terkendali—dalam arti yang menyenangkan. Bukan karena lapar, tapi karena “agenda rahasia” dari sosok paling sigap: Ibu Ratna.
Tanpa aba-aba panjang, beliau mengeluarkan “harta karun”: baju, jilbab, hingga Tupperware legendaris yang entah bagaimana selalu punya daya tarik tersendiri.
Sekejap, suasana berubah seperti flash sale. Bedanya, ini tanpa diskon—dan tanpa kasir.
Usulan permainan ala guru pun muncul, lengkap dengan sistem hitung-hitungan. Tapi seperti biasa, keputusan akhir tetap di tangan “wasit lapangan”. Hasilnya? Riuh, ribut, dan penuh tawa.
Di tengah keramaian itu, tiba-tiba terdengar suara yang jarang muncul di pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pak Fauzi, dari pelosok Donggala, bersuara tegas:
“Ayo, sudah adzan!” dan seketika, semua kembali ke fitrah: lapar.
Ironisnya, karena terlalu fokus pada “makan berat”, kue-kue yang sudah disiapkan justru terlupakan. Ini mungkin satu-satunya bukber di mana takjil kalah pamor.
Usai salat Magrib, acara berlanjut ke sesi wajib: foto bersama.
Dan seperti sudah ditakdirkan, komando tetap dipegang oleh satu orang—yang paling tahu angle terbaik, pencahayaan, dan tentu saja: siapa yang harus geser sedikit ke kiri.
Hasilnya?
Bukan sekadar foto. Tapi bukti bahwa waktu boleh berjalan, tapi kebersamaan tetap utuh.
Malam itu mungkin terasa singkat. Tapi kesannya panjang.
Seperti yang diungkapkan sang dokter di akhir pertemuan—dengan nada yang sedikit puitis, tapi tetap mengena—bahwa hidup ini terasa berbeda tanpa kebersamaan seperti ini. Bahwa di tengah kesibukan, jabatan, dan tanggung jawab, ada satu hal yang tidak boleh hilang: waktu untuk kembali menjadi diri sendiri… seperti dulu.
Alumni MAN 2 Palu angkatan ’93 mungkin tidak sedarah. Tapi jelas, mereka sejiwa dalam tawa.
Dari dosen, pejabat, ASN, hingga yang tetap sederhana—semua melebur tanpa sekat. Tak penting dulu IPA, IPS, atau Agama. Yang penting sekarang: masih bisa duduk satu meja, berbagi cerita, dan saling menertawakan masa lalu.
Dan satu pelajaran penting dari bukber ini: Kalau mau indah, jangan terlalu direncanakan. Karena kadang, yang mendadak justru yang paling berkesan.
Dan yang sederhana… justru yang paling dirindukan. (*)
