Palu, trustsulteng – Nickel Industries Ltd, entitas yang terafiliasi dengan PT United Tractors Tbk (UNTR) menghentikan sementara seluruh operasional tambang nikel Heng jaya di Morowali, Sulawesi Tengah.
Hal ini menyusul terjadinya kecelakaan fatal yang melibatkan pekerja kontrak pada 25 Maret 2026.
Tambang Heng jaya telah menghentikan seluruh operasinya sementara menunggu investigasi oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM),” tulis Corporate Secretary Nickel Industries Richard Edwards dalam keterangan resmi, Kamis 26 Maret 2026.
Richard menjelaskan, langkah penghentian operasional dilakukan sebagai respons atas insiden tersebut sekaligus untuk mendukung proses investigasi yang akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia.
Kementerian ESDM dijadwalkan memulai penyelidikan pada 27 Maret 2026 guna mengungkap penyebab kecelakaan serta memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja di lokasi tambang.
Tambang Heng jaya merupakan salah satu aset utama Nickel Industries di kawasan Morowali, yang dikenal sebagai pusat industri pengolahan nikel nasional.
Sementara itu, UNTR tercatat memiliki kepemilikan efektif sebesar 20,1 persen di Nickel Industries berdasarkan laporan keuangan 2025.
Sebelumnya, Sekretaris Komisi III DPRD Sulawesi Tengah, Muhammad Safri, menilai insiden kecelakaan kerja yang menewaskan seorang pekerja PT FMI subkontraktor dari PT Heng Jaya pada 24 Maret 2026 lalu, bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan bukti nyata kelalaian sistemik dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
“Jika pekerja sampai kehilangan nyawa, maka ini bukan kecelakaan biasa, tapi indikasi kegagalan sistem perlindungan kerja,” tegas Safri dalam keterangan resminya, Sabtu (28/3)
Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi alarm keras bagi seluruh pihak, terutama perusahaan tambang, bahwa sistem keselamatan di lapangan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Ini adalah alarm keras bahwa ada yang gagal dalam sistem keselamatan kerja di lapangan. Ketika nyawa pekerja melayang, maka yang harus dipertanyakan adalah siapa yang lalai,” ujar Safri. (*)
editor: yusrin eLbanna
