Surabaya, trustsulteng – Di atas lintasan yang licin dan berkilau, di tengah riuh tepuk tangan ratusan pasang mata, seorang gadis kecil meluncur dengan penuh percaya diri. Namanya Audrey Aurora Ramadhani.
Usianya baru 8 tahun, duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Namun di arena Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Sepatu Roda yang digelar di Surabaya pada 27–28 Maret 2026, Audrey tampil bukan sekadar sebagai anak-anak—ia hadir sebagai seorang pejuang.
Mewakili Perserosi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Audrey turun di kategori pemula (beginner). Kategori ini memang dirancang sebagai ruang belajar—tempat anak-anak mengenal kompetisi dengan cara yang menyenangkan, aman, dan edukatif. Tapi bagi Audrey, lintasan itu lebih dari sekadar ajang belajar. Itu adalah panggung pembuktian.

Di salah satu nomor pertandingan, Audrey sempat memimpin di posisi terdepan. Gerakannya lincah, ritmenya stabil. Harapan itu terasa begitu dekat. Namun, di sebuah tikungan, kesalahan kecil mengubah segalanya. Ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Namun Audrey tidak tinggal diam. Ia bangkit. Kembali berdiri. Dan melanjutkan lomba hingga garis akhir. Meski akhirnya hanya menempati posisi ketiga, perjuangan itu jauh lebih bernilai dari sekadar angka di papan hasil.
Pada nomor lain, di kategori dua orang, Audrey kembali menunjukkan semangat juangnya. Kali ini ia harus mengakui keunggulan lawan—bukan karena kalah cepat, melainkan karena selisih tipis jangkauan kaki yang lebih dulu menyentuh garis finis. Sebuah kekalahan yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk mengajarkannya arti detail dalam sebuah kompetisi.

Audrey tidak sendiri di Surabaya. Ia datang bersama rekan-rekannya dari Sulawesi Tengah: Maharani, Junaedi, Neymar, Naycilla, dan Nadine. Mereka adalah wajah-wajah muda penuh harapan yang membawa nama daerah dengan bangga. Dari sekitar 600 peserta yang mewakili seluruh provinsi di Indonesia, mereka berdiri sejajar, berjuang, dan pulang dengan prestasi.
Mereka semua adalah juara
Namun di balik cerita keberhasilan itu, terselip kisah lain yang tak kalah penting. Perjalanan mereka ke Kejurnas bukanlah hasil dari dukungan penuh institusi. Para atlet ini berangkat dengan biaya mandiri. Upaya untuk mendapatkan dukungan, termasuk melalui proposal kepada Gubernur Sulawesi Tengah, belum membuahkan hasil.
Dengan semangat, dengan tekad, dan dengan keyakinan bahwa mimpi tidak boleh menunggu.

Dari lintasan di Surabaya, Audrey dan kawan-kawan telah menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk melangkah. Bahwa jatuh bukan akhir dari segalanya. Dan bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal medali, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan terus meluncur.
Di usia yang masih sangat muda, Audrey telah mengajarkan kita satu hal penting: mimpi besar bisa lahir dari langkah kecil, bahkan dari roda-roda kecil yang terus berputar tanpa menyerah. (*)
editor: yusrin eLbanna
