Palu, trustsulteng – 01 April 2026, di hari itu, ada satu hal kecil yang terasa berbeda, sebuah gestur sederhana yang mengandung makna besar tentang integritas dan adab seorang pejabat publik.
Awaludin, yang baru saja mengakhiri masa jabatannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), Kepala BPKAD Provinsi Sulawesi Tengah, memilih menutup pengabdiannya dengan cara yang tak biasa. Hanya dalam hitungan jam setelah resmi pensiun, ia mengembalikan mobil dinas berpelat DN 65 yang selama ini melekat pada jabatannya. Tanpa seremoni, tanpa sorotan berlebih.
Yang lebih menarik, Awaludin tak pulang dengan kendaraan pengganti dari fasilitas negara. Ia memilih memesan ojek daring Maxim dan pulang sebagai warga biasa.
Sebuah pemandangan sederhana, namun sarat pesan.
Di tengah berbagai cerita tentang aset negara yang kerap “terlambat” kembali setelah masa jabatan berakhir, langkah Awaludin terasa kontras. Bahkan, publik masih mengingat kasus di Kabupaten Donggala, di mana kendaraan dinas jenis double cabin belum juga dikembalikan meski masa jabatan pejabat terkait telah berakhir sejak 2024.
Apa yang dilakukan Awaludin bukan sekadar kepatuhan administratif. Ini adalah soal etika—tentang memahami batas antara hak dan kewajiban, antara jabatan dan tanggung jawab.
Sebagai putra asli Kota Palu dan mantan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Karo Kesra) Sulteng, Awaludin dikenal sebagai sosok yang berakar kuat pada nilai-nilai lokal dan religius. Ia juga merupakan bagian dari komunitas Abnaul Khairaat, yang menjunjung tinggi ajaran adab dari Guru Tua.
Nilai itulah yang, bagi banyak orang, tercermin dalam sikapnya di hari terakhir sebagai pejabat.
Apresiasi dan Harapan
Langkah tersebut menuai apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk mantan Wali Kota Palu, Mulhanan Tombolotutu. Ia menilai sikap Awaludin sebagai contoh nyata yang patut diteladani oleh pejabat lain.
Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap sebagian elite birokrasi, tindakan kecil seperti ini justru memiliki dampak besar. Ia menjadi simbol bahwa integritas tidak harus ditunjukkan dengan pidato panjang, tetapi bisa hadir dalam keputusan sehari-hari yang jujur dan konsisten.
Nama Awaludin kini juga mulai diperbincangkan sebagai salah satu figur potensial dalam kontestasi politik lokal mendatang. Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai tokoh yang layak diperhitungkan untuk maju dalam pemilihan Wali Kota Palu pasca kepemimpinan Hadianto Rasyid.
Namun, terlepas dari spekulasi politik itu, satu hal yang sudah pasti: ia telah meninggalkan jejak yang kuat tentang bagaimana seorang pejabat seharusnya mengakhiri masa jabatannya.
Bukan dengan mempertahankan fasilitas, melainkan dengan mengembalikannya.
Bukan dengan kemewahan, tetapi dengan kesederhanaan. Dan mungkin, di situlah letak makna pengabdian yang sesungguhnya.
penulis; yusrin elBanna
