Palu, trustsulteng – Sejak panitia membuka pendaftaran bakal calon Kadin Sulteng, Minggu 8 Maret 2026, sejumlah nama mulai muncul ke permukaan dan memantik perdebatan di kalangan pelaku usaha.
Kontestasi ini tidak hanya menjadi ajang perebutan kepemimpinan organisasi pengusaha terbesar di daerah tersebut, tetapi juga membuka diskursus lebih luas mengenai independensi Kadin dari pengaruh politik praktis.
Salah satu suara kritis datang dari pengusaha Morowali, Asnawi Rasyid. Ia menyoroti pentingnya menjaga marwah Kadin sebagai organisasi dunia usaha yang berdiri di atas kepentingan ekonomi, bukan politik.
Menurutnya, figur yang memimpin Kadin seharusnya bebas dari afiliasi partai politik agar organisasi tetap fokus pada pengembangan iklim usaha.
“Saya tidak sepakat jika calon Ketua Kadin berafiliasi dengan salah satu partai politik. Bahkan secara aktif menjadi anggota atau pengurus partai. Apa jadinya organisasi Kadin jika dipimpin oleh sosok yang secara nyata memiliki kepentingan politik?” ujar Asnawi, Selasa malam 10 Maret 2026.
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Sejak berdiri, Kamar Dagang dan Industri Indonesia dirancang sebagai wadah berhimpunnya pelaku usaha lintas sektor. Fungsi tersebut bahkan diperkuat melalui Undang‑Undang Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan Industri yang menegaskan bahwa Kadin merupakan representasi dunia usaha nasional, baik dari sektor swasta, BUMN, maupun koperasi.
Dalam konteks itu, independensi organisasi sering dianggap sebagai syarat penting agar Kadin mampu menjalankan fungsi strategisnya, mulai dari advokasi kebijakan ekonomi hingga menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan ekonomi.
Kritik Asnawi merefleksikan kekhawatiran sebagian pelaku usaha bahwa keterlibatan aktif dalam partai politik dapat memunculkan konflik kepentingan dalam pengambilan keputusan organisasi.
Seiring bergulirnya proses pendaftaran bakal calon, setidaknya tiga nama disebut-sebut akan meramaikan kontestasi Ketua Kadin Sulteng.
Dari sejumlah figur yang beredar, Asnawi secara terbuka menyebut satu nama yang dinilai tidak memiliki afiliasi dengan partai politik, yakni Gufran Ahmad, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Kadin Kota Palu.
Menurutnya, latar belakang Gufran sebagai pengusaha yang fokus pada aktivitas organisasi bisnis menjadi nilai tersendiri dalam menjaga independensi Kadin.
Sejak dibuka pendaftaran ada dua balon mendaftar pada Senin 9 Maret 2026. Pertama adalah Endi Hermawan. Ia tiba sekitar pukul 14.00 WITA bersama tim pemenangannya, di antaranya Penanggung Jawab Hardy Yambas, Ketua Tim Pemenangan Faisal Lahadja, dan Juru Bicara Samsu Rizal Labatjo.
Kehadiran Endi menjadi penanda awal dimulainya kontestasi terbuka menuju Muprov Kadin Sulteng.
Dua jam kemudian, giliran rombongan Gufran Ahmad datang mengambil formulir pendaftaran. Ia hadir bersama sekitar 35 pendukung yang berada di bawah koordinasi tim yang dipimpin Mohammad Hidayat Lamakarate.
Dalam kesempatan tersebut, Hidayat menegaskan kesiapan timnya untuk memenangkan Gufran dalam kontestasi organisasi pengusaha tersebut.
“Kehadiran kami di sini adalah bukti bahwa kami siap bertarung. Gufran Ahmad memiliki pengalaman sebagai Ketua Kadin Kota Palu dengan rekam jejak yang nyata, termasuk kepatuhan terhadap seluruh aturan panitia,” ujar Hidayat.
Ia juga menyinggung komitmen kandidatnya dalam memenuhi seluruh ketentuan pencalonan, termasuk kewajiban pembayaran kontribusi kepada panitia.
Pertarungan Pengaruh di Dunia Usaha
Pengamat menilai bahwa pemilihan Ketua Kadin di tingkat provinsi kerap menjadi arena penting dalam menentukan arah hubungan antara dunia usaha dan pemerintah daerah.
Di daerah dengan potensi sumber daya alam besar seperti Sulawesi Tengah—terutama kawasan industri di Morowali—peran Kadin menjadi semakin strategis.
Ketua Kadin tidak hanya berperan sebagai representasi pelaku usaha, tetapi juga sebagai jembatan komunikasi antara investor, pengusaha lokal, dan pemerintah daerah.
Karena itu, isu independensi dari partai politik sering menjadi perhatian serius, terutama untuk menjaga kepercayaan anggota organisasi.
Di tengah persaingan tersebut, perdebatan mengenai independensi organisasi kemungkinan akan terus menjadi salah satu isu utama yang memengaruhi preferensi para pemilik suara dalam menentukan pemimpin baru Kadin Sulteng.(*)
editor: yusrin eLbanna