senyum sumringah: Kanda dan ayunda; Mulhanan Tombolotutu didampingi istri, Tasyrif Siara, Ahmad Ali bersama istri Nilam Sari Lawira, M. Nur Sangadji dan Rostiati Daeng Rahmatu. Foto: IST
Di sebuah ruangan sederhana dengan dinding putih dan kursi-kursi yang tersusun apa adanya, sekelompok wajah tersenyum lebar. Mereka bukan sekadar berkumpul untuk berfoto. Di balik balutan seragam hijau hitam yang identik, tersimpan sejarah panjang kaderisasi, jaringan intelektual, dan perjalanan pengabdian yang telah melampaui batas organisasi. Mereka adalah wajah-wajah dari sebuah ekosistem kader yang tumbuh, matang, lalu menembus ruang-ruang strategis dalam pengelolaan negeri.
Mereka berasal dari rahim yang sama: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan kini berhimpun dalam Korps Alumni HMI (KAHMI) Sulawesi Tengah. Namun yang membuat pertemuan ini terasa istimewa bukan sekadar nostalgia, melainkan rekam jejak kolektif yang telah menorehkan pengaruh nyata dalam berbagai sektor—politik, akademik, hingga kebijakan nasional.
Di antara mereka, berdiri sosok yang paling senior, Mulhanan Tombolotutu. Jejak pengabdiannya panjang dan berlapis. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Wali Kota Palu selama dua periode, serta memimpin DPRD Kota Palu. Kini, ia mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Wilayah KAHMI Sulawesi Tengah sekaligus Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), sebuah posisi strategis yang mengelola tata kelola royalti musik di Indonesia. Perjalanan kariernya mencerminkan transformasi kader—dari aktivis kampus menjadi pengelola kepentingan publik di tingkat nasional.
Di sisi lain, Ahmad Ali hadir sebagai representasi kader yang menembus panggung politik nasional dengan dinamika yang tidak sederhana. Mantan anggota DPR RI dua periode ini pernah menduduki posisi penting sebagai Wakil Ketua DPP NasDem, sebelum kini dipercaya sebagai Ketua Harian DPP PSI. Pergerakan politiknya mencerminkan fleksibilitas sekaligus daya tawar kader HMI dalam lanskap politik Indonesia yang terus berubah.
Tak hanya itu, kekuatan politik juga terlihat dari sosok Nilam Sari Lawira. Pernah menjabat sebagai Ketua DPRD Sulawesi Tengah, ia kini melanjutkan kiprahnya sebagai anggota DPR RI dari Partai NasDem sekaligus Ketua DPW NasDem Sulawesi Tengah. Kehadirannya menegaskan bahwa peran perempuan dalam lingkaran kaderisasi ini bukan sekadar pelengkap, melainkan aktor utama dalam pengambilan keputusan strategis.
Namun, kekuatan jejaring ini tidak hanya berakar di dunia politik. Dari foto tersebut, tampak pula tiga sosok yang mengabdikan diri di dunia akademik—sebuah pilar penting dalam membangun peradaban. Tasrif Siara dikenal bukan hanya sebagai dosen, tetapi juga sebagai penyiar radio yang pernah menjadi ikon di masanya. Suaranya pernah mengisi ruang-ruang publik, menyebarkan gagasan dan membentuk opini, jauh sebelum era digital mendominasi.
Sementara itu, pasangan suami istri Nur Sangadji dan Rostiati Daeng Rahmatu baru saja dikukuhkan sebagai guru besar di Universitas Tadulako. Pencapaian ini bukan hanya prestasi personal, tetapi juga simbol keberhasilan kaderisasi yang melahirkan intelektual dengan kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan di daerah.
Pertemuan ini, dengan segala kesederhanaannya, sebenarnya adalah potret kecil dari sebuah jaringan besar yang bekerja dalam diam namun berdampak luas. KAHMI Sulawesi Tengah bukan sekadar wadah alumni, melainkan ruang konsolidasi gagasan, pengalaman, dan pengaruh. Dari ruang kelas hingga ruang parlemen, dari siaran radio hingga kebijakan nasional, jejak mereka membentuk mozaik kontribusi yang saling terhubung.
Yang menarik, kekuatan utama mereka bukan hanya pada posisi yang pernah atau sedang diemban, tetapi pada fondasi nilai yang sama: tradisi intelektual, kepemimpinan, dan pengabdian. Nilai-nilai inilah yang tampaknya menjadi benang merah yang menjaga kohesi di tengah perbedaan jalur karier dan afiliasi politik.
Dalam konteks pembangunan daerah seperti Sulawesi Tengah, keberadaan figur-figur ini menjadi aset sosial yang sangat berharga. Mereka bukan hanya individu dengan prestasi, tetapi juga simpul jaringan yang mampu menghubungkan kepentingan lokal dengan kebijakan nasional.
Foto ini mungkin tampak biasa. Namun jika ditarik lebih dalam, ia adalah representasi dari perjalanan panjang kaderisasi—tentang bagaimana ide, nilai, dan jaringan mampu melampaui waktu, lalu menjelma menjadi kekuatan nyata dalam mengatur negeri.
Dan dari ruangan sederhana itu, satu hal menjadi jelas: sejarah tidak selalu ditulis di ruang megah. Kadang, ia lahir dari kebersamaan yang sederhana—namun diisi oleh orang-orang yang luar biasa. (*)
eeditor: yusrin eLbanna
