Dr. Mohammad Tavip S.H.,M.H foto: ist | trustsulteng
Oleh : Dr. Mohammad Tavip S.H.,M.H
Orang lain nonton bola untuk melihat siapa yang menang lalu jadi juara. Saya nonton bola untuk melihat Sepak Bola itu sendiri.
Dan Sepak Bola, nama aslinya adalah Brazil.
Catat baik baik pernyataan ini.
Brazil adalah jantungnya Sepak Bola. Sepak Bola adalah denyutnya Brazil. Cabut jantung itu, maka seluruh tubuh sepak bola akan mati.
Lapangan tetap ada, tapi darahnya berhenti mengalir. Ini bukan fanatisme. Ini anatomi.
Ibarat sungai butuh hulu. Seperti langit dan bumi butuh matahari.
Karena itu, saya tidak pernah syaratkan cinta saya dengan piala. Menyukai Brazil tidak berarti saya memaksanya harus juara.
Saya jatuh cinta pada cabangnya, bukan pada trofinya. Saya jatuh cinta pada samba di kaki, bukan pada angka di papan skor.
Lihatlah dalil sepak bola: Menang atau kalah. Juara atau bukan juara. Tapi di luar dalil itu, ada satu tim yang abadi: Tim yang tetap sedang `bermain sepak bola`, walau dunia sudah selesai menghitung.
Tim itu Brazil. Karena Brazil tidak pernah berhenti bermain. Brazil adalah bentuknya. Brazil adalah musiknya. Brazil adalah musim semi yang selalu datang, meski musim dingin piala baru saja lewat. Saya tidak membela mati-matian agar dia juara.
Saya tidak perlu dia juara, karena dia sudah memenangkan hati saya duluan.
Dia sudah jadi inspirasi bagi semua sekolah bola di dunia.
Bahkan negara-negara yang lemarinya penuh piala, tetap menunduk hormat saat menyebut namanya. Seperti gunung menunduk pada samudra.
*Brazil adalah Piala Dunia. Piala Dunia Sepak Bola adalah Brazil.*
Cabut Brazil dari sejarah, maka yang tersisa cuma turnamen. Hilangkan kuningnya, maka yang tersisa cuma lapangan kosong, seperti tubuh tanpa napas. Karena sejatinya, tidak ada Piala Dunia, jika tak ada Brazil. Sebab Brazil adalah Sepak Bola itu sendiri. Jantungnya. Mataharinya.
Jadi biarkan yang lain berantem soal juara.
Saya cukup duduk, dan menyaksikan Sepak Bola ___Sedang Bermain Sepak Bola.
Seperti gunung menunduk pada samudra adalah penggambaran tentang kekuatan keindahan, maka kekuatan akan keindahan akan bertransformasi menjadi kebahagiaan jika jumpa menyaksikan sepak bola sedang bermain bola untuk seantero dunia. (*)
penulis adalah akademisi & pemerhati bola|trustsulteng
