Palu, trustsulteng – Polemik pembatalan Sulawesi Tengah sebagai tuan rumah Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) IX Tahun 2027 terus bergulir. Sejumlah fakta baru mengemuka. Proses menuju pembatalan tidak sesederhana dibayangkan. Persoalan kesiapan anggaran salah satu pemicu, menyisakan sejumlah pertanyaan mengenai komunikasi antara KORMI Nasional, Gubernur Anwar Hafid dan KORMI Sulawesi Tengah.
Perdebatan di ruang publik pun menguat. Sebagian kalangan berharap status tuan rumah tetap dipertahankan karena dinilai menjadi kehormatan daerah. Sementara sebagian lainnya meminta agar penyelenggaraan tidak lagi dipaksakan mengingat kondisi fiskal daerah yang sedang tertekan.
Persoalan utama memang berada pada aspek pendanaan.
Saat Sulawesi Tengah ditetapkan sebagai calon tuan rumah pada 2025, Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menandatangani surat pernyataan kesediaan menjadi tuan rumah FORNAS 2027.
Namun memasuki 2026, situasi berubah. Pemerintah pusat melakukan efisiensi anggaran yang berdampak pada berkurangnya alokasi dana ke daerah hingga sekitar Rp1,2 triliun. Kondisi tersebut membuat ruang fiskal Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah semakin terbatas.
Meski demikian, sejumlah tahapan persiapan FORNAS sebenarnya telah berjalan menggunakan APBD 2026.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, Pemerintah Provinsi telah membiayai beberapa agenda awal, antara lain sayembara logo dan maskot FORNAS. Selain itu, lokasi pembukaan FORNAS di kawasan Hutan Kota Palu juga telah disepakati bersama antara KORMI Nasional, KORMI Sulawesi Tengah, dan Pemerintah Provinsi, bahkan anggaran penataan kawasan tersebut telah dimasukkan dalam APBD 2026.
Fakta ini menunjukkan persiapan penyelenggaraan tidak sepenuhnya berhenti meski kepastian anggaran utama untuk pelaksanaan pada 2027 belum tersedia.
Persoalan lain yang kini menjadi sorotan adalah mekanisme pembatalan status tuan rumah.
Menurut Gubernur Anwar Hafid, saat Sulawesi Tengah diminta menjadi tuan rumah pada 2025, pemerintah daerah diminta menandatangani surat kesediaan sebagai bentuk komitmen.
Namun ketika keputusan pembatalan diterbitkan, pemerintah daerah mengaku tidak pernah dimintai klarifikasi ataupun diberikan kesempatan menyampaikan penjelasan resmi.
“Ketika diminta menjadi tuan rumah kami diminta menandatangani surat kesediaan. Giliran membatalkan, tidak pernah meminta klarifikasi kepada pemerintah daerah. Ini yang menjadi pertanyaan,” demikian tanggapan Gubernur Anwar Hafid dalam diskusi di salah satu grup WhatsApp.
Anwar Hafid juga mempertanyakan tuntutan kepastian anggaran pelaksanaan FORNAS 2027 pada saat APBD Tahun Anggaran 2027 sendiri belum dibahas dan disahkan.
Menurutnya, secara mekanisme pengelolaan keuangan daerah, pemerintah tidak mungkin menetapkan anggaran kegiatan tahun berikutnya sebelum APBD tahun berjalan disusun dan disahkan sesuai ketentuan.
“Bagaimana memastikan pelaksanaan Juli 2027, sementara APBD 2027 sendiri belum ditetapkan. Masa kegiatan 2027 harus dipastikan anggarannya pada 2026,” tulis Anwar Hafid.
Di sisi lain, muncul fakta lain yang memperkuat tanda tanya terhadap proses pengambilan keputusan.
Pada 20 Juli 2026, Sekretaris Daerah Sulawesi Tengah memimpin rapat bersama Ketua KORMI Sulawesi Tengah membahas kebutuhan anggaran penyelenggaraan FORNAS 2027.
Dalam pertemuan tersebut, menurut informasi yang diperoleh, terdapat kesepahaman bahwa kebutuhan anggaran penyelenggaraan akan diupayakan masuk dalam pembahasan APBD Tahun 2027.
Namun hanya dua hari setelah rapat tersebut, tepatnya 22 Juli 2026, KORMI Nasional menerbitkan Surat Keputusan yang mencabut status Sulawesi Tengah sebagai tuan rumah FORNAS.
Rangkaian waktu yang sangat singkat antara rapat pembahasan anggaran dan keluarnya keputusan pembatalan itulah yang kini memunculkan berbagai pertanyaan publik.
Apakah hasil rapat tersebut telah diketahui KORMI Nasional? Apakah pemerintah daerah sempat diberikan kesempatan menyampaikan perkembangan terbaru sebelum keputusan diambil? Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai hal tersebut.
Sementara itu, Ketua KORMI Sulawesi Tengah, Syaifullah Djafar membantah keras tudingan bahwa organisasinya meminta pembatalan FORNAS IX 2027.
Dalam rapat bersama seluruh Induk Organisasi Olahraga (Inorga) dan KORMI kabupaten/kota, Syaifullah menegaskan KORMI Sulawesi Tengah justru menjadi pihak yang paling berkepentingan agar FORNAS tetap berlangsung di Sulawesi Tengah.
“KORMI Sulawesi Tengah sudah berdarah-darah memperjuangkan FORNAS. Tidak mungkin kami sendiri yang meminta dibatalkan. Itu sama sekali tidak benar,” tegasnya.
Menurut Syaifullah, keputusan KORMI Nasional merupakan hasil evaluasi organisasi yang berlangsung cukup lama.
Ia menjelaskan bahwa sejak 21 April 2026, KORMI Nasional telah meminta laporan perkembangan persiapan penyelenggaraan FORNAS, termasuk kesiapan pemerintah daerah.
Sebagai organisasi, kata dia, KORMI Sulawesi Tengah hanya menyampaikan kondisi faktual yang terjadi di lapangan.
Laporan tersebut menyebutkan belum adanya kepastian dukungan anggaran penyelenggaraan dari Pemerintah Provinsi.
“Kami harus menyampaikan kondisi apa adanya. Saya tidak bisa mengatakan semuanya baik-baik saja sementara kepastian anggaran belum ada,” ujarnya.
Ia mengungkapkan kebutuhan anggaran yang diusulkan kepada Pemerintah Provinsi mencapai sekitar Rp40 miliar, mencakup biaya penyelenggaraan sekaligus keberangkatan kontingen Sulawesi Tengah pada FORNAS 2027.
Namun hingga laporan terakhir dikirimkan kepada KORMI Nasional, menurutnya belum terdapat kepastian ataupun tanggapan resmi atas usulan tersebut.
Polemik ini kini menyisakan sejumlah pertanyaan yang masih membutuhkan jawaban terbuka dari seluruh pihak. Mengapa pemerintah daerah tidak dimintai klarifikasi sebelum keputusan pembatalan diterbitkan? Mengapa rapat pembahasan anggaran pada 20 Juli tidak menjadi dasar penundaan keputusan? Apakah komunikasi antara KORMI Nasional dan Pemerintah Provinsi berjalan optimal menjelang keluarnya SK pada 22 Juli?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai penting untuk memberikan kepastian kepada masyarakat sekaligus menghindari saling menyalahkan di tengah batalnya Sulawesi Tengah menjadi tuan rumah FORNAS 2027. (*)
editor: yusrin eLbanna
