Palu, trustsulteng – Balai Karantina Indonesia (Barantin) mengingatkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) untuk mewaspadai potensi gangguan dari pihak-pihak yang dapat menghambat kelancaran ekspor durian ke pasar internasional, khususnya Tiongkok.
Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean, menegaskan bahwa pengawasan ketat sangat diperlukan dalam setiap tahapan proses ekspor, mengingat besarnya potensi ekonomi dari komoditas durian asal Sulteng.
“Kami mengingatkan agar dilakukan pengawasan serius, karena tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak yang mencoba menghambat kelancaran ekspor,” ujar Sahat dalam kegiatan ekspor raya durian di Palu, Kamis 16 April 2026.
Ia juga meminta Gubernur Sulawesi Tengah beserta jajaran pemerintah daerah untuk berperan aktif dalam mengawal proses distribusi hingga pengiriman produk ke luar negeri.
Menurut Sahat, durian kini menjadi salah satu komoditas unggulan baru yang berpotensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Oleh karena itu, keberlanjutannya harus dijaga melalui pengelolaan yang baik dan sistematis.
Sebagai langkah konkret, Barantin berencana membentuk satuan tugas (satgas) guna memastikan seluruh proses ekspor berjalan lancar, aman, dan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Selain itu, pemerintah daerah juga didorong untuk meningkatkan kapasitas petani melalui pembinaan praktik budidaya durian yang baik, serta mempercepat proses sertifikasi kebun untuk memenuhi persyaratan ekspor.
Dalam kegiatan tersebut, Barantin mencatat nilai ekspor durian Sulteng ke Tiongkok mencapai Rp42,5 miliar dengan volume 459 ton, atau setara 17 kontainer.
Secara kumulatif, sejak Januari hingga April 2026, ekspor durian beku asal Sulteng telah mencapai 151 kontainer dengan total nilai Rp377,5 miliar.
Barantin menilai, pasar durian di Tiongkok yang bernilai hingga 8 miliar dolar AS per tahun merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia, khususnya Sulteng.
Dengan potensi tersebut, Indonesia ditargetkan mampu menguasai 5 hingga 10 persen pangsa pasar, dengan estimasi nilai devisa mencapai Rp6,4 hingga Rp12,8 triliun per tahun. (*)
editor; yusrin eLbanna
