Palu, trustsulteng – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan optimisme tinggi menjadikan durian sebagai komoditas unggulan berkelas global. Klaim keberhasilan ekspor hingga ratusan miliar rupiah dalam beberapa bulan terakhir menjadi fondasi narasi besar: “Sulteng Nambaso menuju raja durian dunia.” Namun di balik euforia tersebut, sejumlah catatan penting terkait tata kelola, keberlanjutan, hingga pemerataan manfaat ekonomi masih perlu diuji secara lebih mendalam.

Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, secara terbuka mengapresiasi peran Ketua Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin) Sulteng, Hengky Idrus, yang dinilai berhasil mendorong durian lokal menembus pasar internasional, khususnya Tiongkok. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah daerah menegaskan bahwa durian akan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi, sekaligus alternatif terhadap aktivitas pertambangan emas ilegal yang selama ini merusak lingkungan.
Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan capaian signifikan. Hingga 12 April 2026, ekspor durian dari Sulawesi Tengah disebut mencapai 4 ribu ton dengan nilai Rp377,5 miliar atau setara 151 kontainer. Sementara ekspor lanjutan per 16 April 2026 mencapai 459 ton dengan nilai Rp42,5 miliar. Angka ini mengindikasikan lonjakan permintaan yang cukup tajam dalam waktu singkat.
Namun, sejumlah pertanyaan muncul terkait keberlanjutan capaian tersebut.

Ketergantungan Pasar Tunggal
Hampir seluruh ekspor saat ini ditujukan ke pasar Tiongkok. Ketergantungan pada satu negara tujuan berpotensi menjadi risiko jangka panjang. Fluktuasi kebijakan impor, standar karantina, atau dinamika geopolitik dapat langsung memukul stabilitas harga dan volume ekspor durian Sulteng.
Diversifikasi pasar ekspor belum terlihat menjadi prioritas strategis, padahal negara-negara seperti Malaysia dan Thailand telah lebih dulu menguasai pasar global dengan jaringan distribusi yang lebih luas.
Kabupaten Parigi Moutong disebut sebagai kontributor utama produksi durian. Namun belum ada data terbuka mengenai standar kualitas, sistem grading, hingga kesiapan petani dalam memenuhi permintaan ekspor secara konsisten.
Tanpa sistem rantai pasok yang kuat—mulai dari budidaya, panen, penyimpanan hingga distribusi—lonjakan ekspor berisiko hanya bersifat sementara. Apalagi, komoditas durian dikenal sangat sensitif terhadap penanganan pascapanen.

Potensi Konflik Lahan dan Alih Fungsi
Dorongan menjadikan durian sebagai komoditas unggulan juga berpotensi memicu alih fungsi lahan secara besar-besaran. Jika tidak diatur ketat, ekspansi perkebunan durian bisa mengancam keberadaan hutan lindung maupun lahan pangan.
Pernyataan pemerintah yang menyebut durian sebagai “antitesa tambang emas ilegal” memang menarik, namun perlu dibarengi kebijakan konkret yang memastikan praktik perkebunan tidak mengulang pola eksploitasi sumber daya yang sama merusaknya.

Ketimpangan Antarwilayah
Sejumlah daerah seperti Banggai Laut, Banggai Kepulauan, Buol, Tolitoli, dan Tojo Una-Una disebut belum mendapatkan program tematik “BERANI” secara optimal. Padahal wilayah tersebut memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, dan kelautan.
Jika pengembangan durian hanya terpusat di beberapa kabupaten, maka dampak ekonomi tidak akan merata. Hal ini berisiko memperlebar kesenjangan pembangunan antarwilayah di Sulawesi Tengah.
Keterlibatan asosiasi dan pelaku usaha menjadi kunci dalam ekspor durian. Namun hingga kini belum ada transparansi terkait struktur kemitraan antara petani, eksportir, dan pemerintah.
Siapa yang paling diuntungkan dari lonjakan ekspor ini? Apakah petani mendapatkan harga yang adil? Ataukah nilai tambah lebih banyak dinikmati oleh pelaku usaha di hilir?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk memastikan bahwa narasi “raja durian dunia” tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar memberikan kesejahteraan bagi masyarakat lokal.

Langkah Awal yang Menjanjikan, Tapi Butuh Pengawasan Ketat
Pelepasan ekspor durian yang dilakukan secara simbolis oleh pejabat pusat dan daerah menunjukkan dukungan politik yang kuat terhadap komoditas ini. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh volume ekspor, melainkan juga oleh tata kelola yang transparan, berkelanjutan, dan inklusif.
Sulawesi Tengah memiliki potensi besar menjadi pemain penting dalam industri durian global. Tetapi tanpa strategi yang matang, — mulai dari diversifikasi pasar, perlindungan lingkungan, hingga keadilan bagi petani — ambisi menjadi “raja durian dunia” bisa saja berakhir sebagai euforia sesaat.
Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk memastikan bahwa pertumbuhan ini berdiri di atas fondasi yang kuat, bukan sekadar angka-angka impresif dalam jangka pendek(*)
editor: yusrin eLbanna
