usai shalat subuh, penulis sempat mengabadikan moment berjabat salam dg pengurus Masjid Al Munawwarah Pertanian, ust H. Muchtar Ibnu, pengusaha asal Pasangkayu Sulbar, Sudirman Zuhdi, yg diapit Prof HC) Dr.H. Ahmad Basirt, MA dan Ust, Juhriadi Sulaiman Lc, M.Pd. serta jamaah subuh, Jumat 13/3 foto pribadi

Udara Subuh di Kota Palu terasa lembut dan hening. Lampu-lampu Masjid Almunawwarah di kawasan Kantor Pertanian, Jalan Kartini, masih menyala terang ketika jamaah perlahan memenuhi saf untuk menunaikan shalat Subuh, Jumat 13 Maret 2026.
Ramadhan memasuki fase yang paling dinanti: sepuluh malam terakhir. Malam-malam yang oleh umat Islam diyakini menyimpan satu rahasia agung—Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Usai shalat Subuh berjamaah, jamaah tetap bertahan di tempatnya. Sebagian masih menunduk dalam doa, sebagian lain menatap mimbar kecil di depan mihrab. Di sanalah Ustadz Juhriadi Sulaiman, Lc., M.Pd., memulai kuliah subuhnya dengan sebuah pertanyaan sederhana yang langsung menyentuh kesadaran banyak orang.
“Kalau rezeki dunia saja kita cari dengan sungguh-sungguh,” ujarnya pelan, “mengapa Lailatul Qadar tidak kita cari dengan kesungguhan yang lebih besar?”
Pertanyaan itu seperti mengetuk hati para jamaah. Ustadz Juhriadi mengutip hikmah dari Sayidina Ali karamallahu wajhah tentang dua jenis rezeki yang Allah tetapkan bagi manusia: rezeki yang kita cari dan rezeki yang justru datang mencari kita.
Ia lalu memberikan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Bayi yang lahir ke dunia tidak mencari rezeki, tapi Allah sudah menyiapkannya,” katanya.
Begitu pula orang yang sedang sakit. Tanpa diminta, kerabat, sahabat, dan tetangga datang menjenguk. Mereka membawa makanan, minuman, hingga buah-buahan sebagai bentuk perhatian dan doa.
Suasana masjid sempat dipenuhi senyum ketika ia menambahkan dengan nada bercanda, “Kadang orang sakit itu berpikir dalam hati, kenapa waktu saya sehat dulu tidak dibawakan juga? Sekarang sudah sakit, tidak bisami makan banyak.”
Tawa kecil jamaah pecah, memecah kesunyian subuh. Namun di balik candaan itu tersimpan pelajaran mendalam: bahwa rezeki memang sepenuhnya berada dalam pengaturan Allah.
Menurutnya, perbedaan rezeki manusia juga bagian dari keadilan Ilahi. Ada orang yang justru lebih baik ibadahnya ketika diberi kesehatan. Namun ada pula yang jika diberi kekayaan malah semakin jauh dari Allah.
“Dalam hadis disebutkan,” lanjutnya, “ada hamba Allah yang tidak sempurna ibadahnya kecuali ketika ia sehat. Kalau dia sakit, ibadahnya rusak. Tapi ada juga yang kalau kaya justru malas ke masjid.”
Dari pembahasan tentang rezeki itu, arah ceramah kemudian mengalir pada satu tema yang menjadi inti renungan subuh tersebut: kesungguhan mencari Lailatul Qadar.
Menurut Ustadz Juhriadi, jika manusia rela bekerja keras demi rezeki dunia, seharusnya mereka lebih bersungguh-sungguh lagi menjemput kemuliaan malam Lailatul Qadar.
Berbagai hadis menyebutkan bahwa malam istimewa itu berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil.
Namun para ulama juga memiliki beragam pandangan tentang kemungkinan waktunya.
Imam Al-Ghazali, misalnya, pernah menjelaskan metode perhitungan berdasarkan hari pertama Ramadhan. Jika awal puasa jatuh pada hari Rabu, kemungkinan Lailatul Qadar berada pada malam ke-29. Jika hari Kamis, maka kemungkinan pada malam ke-25.
Pendapat lain datang dari ulama Mesir, Abu Hasan Asy-Syafi’i. Ia pernah mengatakan bahwa sejak baligh hingga usia tuanya, ia tidak pernah melewatkan Lailatul Qadar setiap Ramadhan.
Sementara itu, Ahmad Syaruq—ulama yang dikenal sebagai guru dari Prof. Quraish Shihab—menyebut kemungkinan Lailatul Qadar berada pada Jumat terakhir Ramadhan, khususnya pada malam ganjil.
Ada pula ulama yang mencoba menangkap isyarat Al-Qur’an dengan menghitung kata-kata tertentu yang diyakini mengarah pada angka 27 sebagai kemungkinan malam Lailatul Qadar.
Namun bagi Ustadz Juhriadi, semua pendekatan itu sejatinya hanyalah petunjuk untuk memotivasi umat agar lebih bersungguh-sungguh beribadah.
“Isyarat Al-Qur’an jangan pernah dianggap remeh,” tegasnya. “Al-Qur’an adalah sumber dari segala sumber pengetahuan. Kita tidak akan pernah selesai menggali hikmahnya.”
Di Masjid Almunawwarah, semangat mencari Lailatul Qadar itu tidak hanya berhenti pada ceramah. Ia hadir dalam amal nyata yang dilakukan para jamaah.
Sejak malam ke-21 Ramadhan, pengurus masjid menggelar i’tikaf setiap malam hingga sahur bersama. Masjid yang biasanya lengang pada dini hari kini dipenuhi jamaah yang datang membawa sajadah, mushaf Al-Qur’an, dan harapan yang sama: semoga malam itu adalah malam yang dicari.
Salah satu momen paling menggetarkan adalah shalat tahajud berjamaah yang dimulai pukul 03.00 WITA.
Shalat malam itu diimami oleh Prof. (HC) Dr. H. Ahmad Basirt, MA., M.HI., dosen STAI Al Fatih Tangerang sekaligus Muqri Qira’at Al-Qur’an bersanad dari Markaz Tahfidz Banaaty HQ Jakarta.
Dengan bacaan Al-Qur’an yang tartil dan penuh penghayatan, ayat demi ayat mengalun memenuhi ruang masjid. Delapan rakaat tahajud dilanjutkan tiga rakaat witir terasa begitu khusyuk.
Sesekali terdengar isak tangis jamaah di tengah keheningan malam. Terutama ketika ayat tentang surga, neraka, dan permohonan ampun kepada Allah dilantunkan dengan suara yang dalam dan menyentuh. Waktu satu jam terasa begitu singkat. Kesyahduan ibadah membuat banyak jamaah enggan beranjak. Sebagian masih duduk berzikir, sebagian lagi menengadahkan tangan dalam doa panjang sebelum sahur tiba.
Di tengah malam-malam Ramadhan yang sunyi itu, setiap hati seakan memanjatkan harapan yang sama.
Semoga di antara malam-malam yang dihidupkan dengan doa dan air mata itu, Allah mempertemukan mereka dengan satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Malam yang dicari oleh para hamba yang tidak pernah berhenti berharap pada rahmat-Nya: Lailatul Qadar. (*)
editor: yusrin eLbanna
