Palu, trustsulteng – Di tengah kemajemukan masyarakat Sulawesi Tengah, silaturahmi bukan sekadar bertemu dan berjabat tangan. Ia menjadi ruang untuk merawat komunikasi, mempererat persaudaraan, sekaligus memastikan perbedaan tidak berubah menjadi jarak.
Pesan itulah yang terasa dalam Silaturahmi Kebangsaan dan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA PMII) Sulawesi Tengah.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengingatkan bahwa persatuan membutuhkan ruang-ruang perjumpaan.
Menurut Reny, dalam masyarakat yang beragam seperti Sulawesi Tengah, semangat kebangsaan harus terus dipupuk. Sebab, perbedaan semestinya menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan sosial, bukan sekat yang memisahkan.
“Silaturahmi ini penting karena dari pertemuan seperti ini kita bisa menjaga komunikasi, kepedulian dan kebersamaan,” ujar Reny.
Bagi Reny, semangat tersebut juga sejalan dengan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Kemuliaan seseorang, katanya, bukan semata-mata dilihat dari latar belakang maupun kedudukannya, tetapi dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.
Karena itu, peringatan Maulid Nabi tidak cukup berhenti pada seremoni. Nilai-nilai keteladanan Rasulullah diharapkan dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari menjaga hubungan antarsesama hingga memperkuat ibadah.
“Mari kita perkuat persaudaraan, konsisten menjaga salat, berzikir dan memperbanyak shalawat,” ajaknya.
Suasana kegiatan pun berlangsung dalam nuansa kebersamaan. Pembacaan Barzanji, pidato kebangsaan dan hikmah Maulid menjadi rangkaian acara yang menyatukan unsur keagamaan dan semangat kebangsaan.
Sejumlah tokoh turut hadir. Di antaranya Ketua PW IKA PMII Sulteng Rahmawati M. Nur, S.Ag., Ketua MUI Kota Palu Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag., Ketua PW Muhammadiyah Sulteng Dr. Amin Pakarasi, S.Ag., M.PdI, anggota DPRD Sulteng, tokoh masyarakat, majelis taklim, serta pengurus, kader dan alumni PMII.
Pertemuan itu menjadi pengingat sederhana bahwa menjaga persatuan tidak selalu membutuhkan panggung besar. Kadang, ia cukup dimulai dari duduk bersama, membuka komunikasi, saling mendengar, lalu pulang dengan rasa persaudaraan yang sedikit lebih kuat.
Di Bumi Tadulako, di tengah keberagaman yang menjadi wajah Sulawesi Tengah, silaturahmi menjadi salah satu cara sederhana untuk memastikan kebersamaan tetap terjaga. (*)
editor: yusrin eLbanna
