Anugrah Pratama alias Nugi, didampingi Fery Anwar, Ketua PSI Sulteng, Syafiah dan mantan Bendahara DPW NasDem, Fahruddin Yunus, saat gelar jumpa pers, Selasa (29/9) foto: abde
Palu, trustsulteng – Ada perjalanan politik yang berakhir dengan pertarungan, ada pula yang ditutup dengan ucapan terima kasih.
Anugrah Pratama alias Nugi memilih cara kedua. Putra sulung H. Ahmad Ali, Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan Dr. Nilam Sari Lawira, anggota DPR RI dari Partai NasDem daerah pemilihan Sulawesi Tengah, itu resmi mengakhiri perjalanannya bersama Partai NasDem.
Nugi menyatakan statusnya sebagai kader NasDem sekaligus Wakil Ketua II DPRD Kota Palu berakhir pada 5 Agustus 2026. Dokumen pengunduran dirinya telah ditandatangani dan diserahkan kepada Ketua DPD Partai NasDem Kota Palu.
“Saya sudah menandatangani semua dokumennya dan sudah langsung kasih ke Ketua DPD Partai NasDem,” kata Nugi.
Ia memastikan keputusan tersebut bukan lagi sebatas wacana. Proses administrasinya telah berjalan dan memasuki tahapan verifikasi di KPU.
Namun, di balik keputusan politik itu, Nugi memilih menutup bab NasDem dengan nada yang jauh dari getir.
Ia menyampaikan terima kasih atas empat tahun perjalanan yang memberinya ruang untuk belajar, mengenal politik dan membangun pengalaman sebagai wakil rakyat.
“Terima kasih kepada Partai NasDem untuk kesempatannya selama empat tahun ini menjadi kader. Saya mendapatkan pengalaman,” ujarnya.
Kepada para kader dan koleganya di DPRD Kota Palu, Nugi juga menyampaikan permohonan maaf karena kebersamaan yang dibangun selama ini harus berakhir sebelum masa pengabdian selesai.
“Adik kalian ini tidak sampai selesai,” katanya. Kini, arah politik Nugi berubah.
Ia memastikan akan melanjutkan perjalanan politiknya bersama PSI. Keputusan itu, menurutnya, diambil secara sadar setelah melihat adanya kesesuaian antara visi dan misi PSI dengan persoalan yang ia temui di lapangan.
“Saya memilih partai ini dalam kesadaran penuh,” tegasnya. Perpindahan Nugi tentu bukan sekadar pergantian kartu partai. Ia membawa pengalaman empat tahun berproses di NasDem, sekaligus memasuki ruang politik baru bersama PSI.
Di tengah dinamika politik Kota Palu dan Sulawesi Tengah, langkah tersebut menjadi satu babak baru bagi Nugi.
Jabatan boleh berakhir. Kendaraan politik boleh berganti. Tetapi bagi Nugi, pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal batas jabatan. “Jabatan bukanlah halangan saya untuk berbuat baik.”
Kalimat itu menjadi penutup dari satu perjalanan—sekaligus pembuka bagi langkah politik berikutnya.(*)
editor: yusrin eLbanna
