SABTU SORE, 14 Maret 2026, suasana di sebuah rumah di Palu terasa lebih ramai dari biasanya. Rumah itu milik seorang aktivis senior, Datu Pamusu Tombolotutu—atau yang lebih akrab disapa ka Us, papa Dini. Di samping rumahnya berdiri sebuah bangunan yang ikut “dipromosikan” malam itu: SIDE HOUSE MAMiBOS, yang oleh sebagian peserta dengan nada bercanda dijuluki “Banua PapiBos.”
Sore itu bukan sekadar buka puasa bersama. Ia lebih mirip reuni panjang para aktivis yang pernah ditempa dalam satu “sekolah kehidupan” bernama Yayasan Rosontapura, sebuah organisasi sosial kemasyarakatan yang berdiri tahun 1989 di Palu, Sulawesi Tengah.
Tiga puluh tujuh tahun setelah berdiri, para alumninya kini tersebar di berbagai posisi: dari aktivis desa, dosen, pejabat pemerintah, politisi, hingga tokoh organisasi masyarakat. Namun malam itu, jabatan-jabatan itu seperti ditinggalkan di depan pintu rumah. Yang tersisa hanya cerita lama—dan tentu saja tawa.
Direktur pertama Rosontapura periode 1989–1994 dipimpin oleh Arianto Sangadji, yang akrab disapa ka Anto. Di masa awal ini, organisasi belum memiliki sekretariat tetap.
Catatan lama menyebut, sekretariat pernah “menumpang” di rumah Nirwan Sahiri di Jalan Moh. Hatta, sebelum akhirnya mampu menyewa kantor di Jalan Haji Hayun.
Periode kedua (1994–1998) dipimpin Djamaludin Mariadjang, atau ka Jamal. Di masa ini sekretariat berpindah ke Jalan Slamet Riyadi. Kini ka Jamal dikenal sebagai Sekjen PB Alkhairaat Pusat Palu—organisasi Islam terbesar di kawasan timur Indonesia.
Tongkat estafet berikutnya dipegang Irwan Dumalang pada periode 1999–2002. Sekretariat kembali berpindah, kali ini ke Jalan Urip Sumoharjo.
Lucunya, hampir setiap kantor yang mereka sewa memiliki satu kesamaan: di depannya selalu ada pohon mangga.
Entah kebetulan atau takdir organisasi, tetapi pohon mangga itu kemudian menjadi bahan cerita abadi. Setiap kali mereka bertemu, selalu saja ada kisah baru tentang mangga—dari yang manis sampai yang hampir “diplot” jadi menu wajib aktivis.
Ketika Irwan Dumalang terpilih menjadi anggota DPRD Donggala pada 2004, posisi direktur kemudian dilanjutkan oleh Sumadi. Setelah itu, estafet kepemimpinan praktis vakum cukup lama.
Namun ikatan antaraktivis Roson—begitu mereka menyebutnya—tak pernah benar-benar putus.
Bukber: Ajang Menghidupkan Lagi Cerita Lama
Dua tahun terakhir, para mantan pengurus punya cara sederhana untuk menjaga tali silaturahmi: buka puasa bersama setahun sekali.
Dan tahun ini, tuan rumahnya adalah keluarga ka Us. Istrinya, Erni Tombolotutu—yang akrab dipanggil ka Ening—juga bukan orang baru dalam dunia pemberdayaan masyarakat. Kini ia dikenal sebagai salah satu kader senior di Partai Golkar Sulawesi Tengah.
Menurut para juniornya, ada satu hal yang selalu khas dari ka Ening: senyumnya. Sebuah senyum yang, kata mereka sambil tertawa, sering muncul sebelum “baveto”—istilah lokal untuk teguran keras penuh kasih kepada adik-adik aktivisnya.
Menu Bukber yang “Serius” soal makanan, bukber ini tidak main-main. Meja dipenuhi kue tradisional: tetu, kue janda, katri solo, dan berbagai hidangan rumah yang membuat tamu sulit berhenti mencicipi. Tak luput kopi hangat.
Karena ruang terbatas, salat magrib pun dilakukan bergantian hingga empat gelombang.
Setelah itu, barulah sesi yang paling dinanti dimulai: makan sambil bernostalgia.
“Mereka Harus Bertanggung Jawab!”
Salah satu momen paling ramai terjadi ketika mantan direktur periode ketiga, Irwan Dumalang—yang akrab disapa Aba—datang agak terlambat.
Begitu masuk rumah, ia langsung menunjuk tiga senior yang duduk di depan:
ka Anto, ka Jamal, dan ka Ipin (Arifin Sunusi).
Dengan wajah serius—yang jelas-jelas sedang bercanda—Aba berkata:
“Mereka ini harus dimintai pertanggungjawaban. Karena merekalah kami sampai sekarang jadi begini.”
Ruangan langsung pecah oleh tawa. Kisah Mabuk, Meja, dan Aktivis yang “Paling Besar”
Cerita lama terus mengalir. Ada kisah tentang proyek kecil yang hasilnya habis untuk “hedon-hedon” ala aktivis muda zaman dulu. Bahkan sesekali, kata mereka sambil tertawa malu, berujung pada pesta minum.
Salah satu cerita paling legendaris melibatkan Hapri Kapoigi—yang kini menjadi dosen di Universitas Tadulako.
Menurut cerita yang kembali dihidupkan malam itu, suatu malam ketika sedang mabuk, Hapri naik ke atas meja lalu berteriak dengan penuh percaya diri:
“Kecil semua kalian! Saya yang besar!”
Cerita itu disambut gelak tawa, termasuk dari Ani Tambora yang kini tampil berbeda dengan hijab dan cadarnya.
Bukber itu juga mempertemukan banyak wajah lama: Nisbah, dosen Untad sekaligus Komisioner KPU Sulteng. Dahri Saleh dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Hidayat Lamakarate, mantan Sekprov Sulteng.
Hadir pula Waldy Esa, Oyot Lapugo—salah satu pendiri Yayasan ANSOS—serta Abdul Razak, anggota DPRD Kabupaten Sigi.
Nama-nama lain seperti Muh Saiful, Mustakim, Anas (mantan Komisioner KPU Parigi Moutong), hingga ka Lebba sang juara taekwondo, turut meramaikan pertemuan itu.
Dari Roson Lahir Banyak Lembaga
Dalam perjalanan sejarahnya, Rosontapura juga melahirkan berbagai organisasi baru.
Pada masa kepemimpinan ka Jamal, berdiri Yayasan Tanah Merdeka.
Kemudian muncul pula Yayasan Bantaya yang didirikan almarhum Haeder Laudjeng.
Selanjutnya lahir Yayasan Tadulako yang diprakarsai Hapri Kapoigi, serta Yayasan Pendidikan Rakyat yang didirikan Lahmudin.
Roson, bagi banyak orang, bukan sekadar organisasi. Ia seperti “kampus alternatif” yang membentuk cara berpikir banyak aktivis di Sulawesi Tengah.
Reuni yang Lebih dari Sekadar Bukber
Kini sebagian dari mereka tinggal di Jakarta, sebagian besar tetap beraktivitas di Palu.
Namun bukber ini menunjukkan satu hal: hubungan mereka tidak pernah benar-benar selesai. Malam semakin larut, cerita makin absurd, dan tawa makin keras.
Mungkin benar kata seseorang di tengah meja makan malam itu: Rosontapura mungkin tidak lagi memiliki sekretariat tetap. Tapi rumah para alumninya selalu menjadi sekretariat yang hidup. (*)
penulis yusrin eLbanna



