Kodal, trustsulteng – Keluarga Saharudin Landoala masih sulit menerima kenyataan itu. Pemuda 22 tahun yang akrab disapa Rudin tersebut awalnya hanya menjalani prosedur medis yang tergolong umum: operasi amandel. Namun, alih-alih pulang dalam kondisi sehat, ia justru meninggal dunia.
Peristiwa yang terjadi di RSU Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara (Morut), itu kini menyisakan duka mendalam sekaligus memunculkan dugaan adanya kelalaian medis.
Bagi keluarga, kematian Rudin bukan sekadar kehilangan. Ini adalah tragedi yang mereka yakini membutuhkan penjelasan.
Prosedur yang Berujung Duka
Menurut keterangan keluarga, Rudin menjalani operasi setelah sebelumnya mengeluhkan gangguan pada tenggorokan. Dokter menyarankan tindakan operasi amandel sebagai solusi medis.
Operasi tersebut semula diharapkan menjadi jalan menuju kesembuhan.
Namun, kondisi Rudin dikabarkan tidak stabil setelah tindakan medis dilakukan.
Keluarga menyebut, mereka tidak pernah membayangkan prosedur yang dianggap rutin justru berujung pada kematian.
“Awalnya kami pikir ini operasi biasa,” ungkap salah satu anggota keluarga, menahan duka.
Dugaan Malpraktik Muncul
Kematian Rudin memicu dugaan adanya malpraktik atau kelalaian medis. Dugaan ini muncul karena keluarga menilai ada hal-hal yang belum dijelaskan secara terbuka kepada mereka, terutama terkait kondisi pasien sebelum dan sesudah operasi.
Sejumlah pertanyaan yang kini mengemuka antara lain: Bagaimana kondisi lengkap pasien sebelum operasi dilakukan? Apakah seluruh prosedur standar operasional telah dijalankan? Apa penyebab pasti kematian pasien? Apakah ada komplikasi yang tidak tertangani secara optimal? Hingga kini, keluarga mengaku masih menunggu penjelasan resmi yang utuh.
Rumah Sakit dan Tanggung Jawab Profesional
Dalam sistem pelayanan kesehatan, setiap tindakan medis memiliki standar dan prosedur yang harus dipatuhi.
Operasi amandel, meskipun tergolong prosedur umum, tetap memiliki risiko medis.
Karena itu, transparansi dan penjelasan kepada keluarga pasien menjadi bagian penting dari tanggung jawab profesional.
Kasus kematian pasien setelah tindakan medis biasanya memerlukan evaluasi internal, bahkan investigasi independen jika terdapat dugaan kelalaian.
Kehilangan yang Membuka Luka Lama
Bagi keluarga, kematian Rudin bukan satu-satunya luka. Ia lahir tanpa sempat mengenal ibunya, yang meninggal saat melahirkannya.
Kini, di usia 22 tahun, hidupnya juga berakhir di ruang perawatan. Kisahnya menjadi simbol rapuhnya kepercayaan ketika pelayanan kesehatan justru berujung kehilangan.
Menunggu Kejelasan
Hingga kini, keluarga berharap ada kejelasan atas peristiwa tersebut. Mereka tidak hanya berduka. Mereka menunggu jawaban.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa setiap pelayanan kesehatan tidak hanya menyangkut prosedur medis, tetapi juga menyangkut nyawa manusia.
Dan ketika nyawa itu hilang, maka kejelasan bukan hanya penting. Ia menjadi keharusan.**






