Dr. H. Anwar Hafid dan Anwar Datuk Madjo Basa Nanti Kuning. foto: IST
REFLEKSI REDAKSI
Usia ke-62 menjadi momen reflektif bagi Provinsi Sulawesi Tengah. Bukan sekadar angka, tetapi perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah fondasi sederhana hingga menjadi daerah yang terus bertumbuh di kawasan timur Indonesia. Menariknya, pada peringatan tahun ini, publik disuguhkan sebuah kebetulan sejarah yang sarat makna: dua sosok gubernur, di awal dan di masa kini, sama-sama bernama ANWAR
Sejarah mencatat, gubernur definitif pertama Sulawesi Tengah adalah Anwar bergelar Datuk Madjo Basa Nan Kuning. Ia memimpin sejak 13 April 1964 hingga 13 April 1968, tepat setelah Sulawesi Tengah resmi berdiri sebagai provinsi otonom, terpisah dari provinsi induknya. Sosoknya bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga peletak dasar birokrasi pemerintahan di daerah yang saat itu masih merintis arah pembangunan.
Didatangkan dari Sumatera Barat, Anwar Datuk Madjo Basa Nan Kuning menerima tongkat estafet kepemimpinan dari F.J. Tumbelaka dalam sebuah masa transisi penting. Di tangannya, struktur pemerintahan mulai dibangun, sistem ditata, dan identitas daerah mulai dirumuskan. Ia adalah representasi dari fase “mendirikan rumah”—fase paling mendasar dalam perjalanan sebuah daerah.
Enam dekade berselang, nama Anwar kembali hadir di pucuk kepemimpinan. Adalah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, Gubernur Sulawesi Tengah periode 2025–2030. Lahir dan besar di tanah Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa Wosu, Bungku Barat, Morowali, Anwar Hafid merepresentasikan generasi pemimpin lokal yang tumbuh dari dalam, memahami denyut nadi daerahnya sendiri.
Berbeda dengan Anwar pertama yang datang membawa pengalaman dari luar, Anwar masa kini adalah buah dari perjalanan panjang birokrasi lokal. Ia meniti karier sebagai aparatur sipil negara sebelum kemudian bertransformasi menjadi figur politik. Pengalamannya memberi warna tersendiri dalam memimpin—lebih dekat dengan realitas masyarakat, sekaligus memahami kompleksitas tata kelola pemerintahan modern.
Pertemuan dua nama yang sama di dua era berbeda ini seakan menjadi simbol kesinambungan. Dari membangun fondasi hingga memperkuat struktur, dari merintis hingga mengakselerasi. Jika Anwar pertama adalah titik awal, maka Anwar hari ini adalah bagian dari upaya membawa Sulawesi Tengah melompat lebih jauh.
Di usia ke-62, Sulawesi Tengah tidak lagi berada pada fase mencari bentuk. Tantangan yang dihadapi kini jauh lebih kompleks: pemerataan pembangunan, penguatan ekonomi daerah, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, hingga peningkatan kualitas hidup masyarakat. Di sinilah peran kepemimpinan menjadi krusial—bukan hanya melanjutkan, tetapi juga mentransformasikan.
Momentum ini bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan pengingat bahwa setiap era memiliki perannya masing-masing. Dari tangan Anwar Datuk Madjo Basa Nan Kuning hingga Anwar Hafid hari ini, Sulawesi Tengah terus menulis kisahnya—tentang keteguhan, perubahan, dan harapan.
Di antara dua nama yang sama, terselip pesan yang sederhana namun kuat: bahwa sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia hidup, berulang dalam bentuk yang berbeda, dan selalu memberi arah bagi masa depan.
Selamat ulang tahun ke-62, Sulawesi Tengah. Perjalanan masih panjang, dan cerita terbaik mungkin justru baru akan dimulai. (*)

