Dalam buku berjudul the smile. Jaque Jangler penulis Amerika bercerita tentang lomba maraton di Philipina. Peserta ribuan orang itu, tiba-tiba hilang dari lintasan. Ternyata, pelari tercepat belok pada jalur yang salah. Lantas, semua peserta mengikutinya. Inilah contoh kesenjangan informasi dan kapasitas.
Oleh: Muhd Nur Sangadji
Ada sejumlah orang dipercaya untuk menjadi mitra berfikir pemerintah Sulawesi Tengah. Mereka berasal dari latar belakang berbeda. Ada praktisi, mantan pejabat hingga akademisi. Kepada mereka, dititipkan amanah semacam ; think tank, meet maker atau advicer, mover atau sejenisnya.
Karena itu, mereka diberi status sebagai tim percepatan. Percepatan (acceleration) itu dibedakan dengan kecepatan (speed) pada posisi selisih. Ini istilah ilmu fisika. Kecepatan kedua dikurangi kecepatan pertama, disebut delta selisih. Kalau dia positif, kita bilang percepatan. Bila dia negatif, kita sebut kemunduran. Agar kecepatannya bertambah untuk dapatkan delta percepatan yang positif, dibutuhkan elemen pendorong. Orang mengenalnya sebagai katalisator.
Ini sesungguhnya adalah istilah dalam ilmu kimia. Dalam kaitan ini, katalisator didefinisikan sebagai unsur yang mempercepat terjadi suatu reaksi kimia. Tapi, dia bukanlah reaktan yang ikut dalam reaksi tersebut. Di sinilah posisi tim percepatan ini diletakkan. Mereka ikut mendorong percepatan program pemerintah. Namun, mereka bukanlah pemerintah. Karena itu, kehadiran mereka tidak untuk menggantikan status fungsional dari pejabat birokrasi.
Ini penting diletakkan lebih dahulu karena, ada kesan dan rumor masa lalu di banyak tempat. Tim pendamping kerap berperan over. Mereka terlihat lebih Gubernur dari Gubernur itu sendiri. Lebih Bupati dari Bupati asli. Lebih Walikota dari Walikotanya. Mereka bertindak otoritatif melebihi wewenang dan fungsi yang diemban. Akibatnya, kontra produktif dengan tujuan awal pembentukannya.
Oleh sebab itu, sejak awal, perlu pemahaman jelas tentang fungsi dan tugasnya. Kemudian bangun komunikasi sinergik dengan pejabat birokrasinya. Kemitraan yang elegan ini menjadi syarat kekompakan untuk bergerak lebih cepat tapi terukur. Begitulah percepatan itu sesungguhnya.
Analogi kecepatan dan percepatan ini bisa berkaca pada kereta api. Umumnya kecepatan kereta api kita berkisar antara 150 sd 200 km per jam. Kereta cepat jepang (Shinkansen) atau Perancis (TGV, train grand vitase). Kecepatannya mencapai 300 sd 400 km per jam. Artinya, delta selisihnya adalah 150 sd 200 km per jam. Itulah angka percepatan yang kita mau tuju.
Bagaimana caranya..? Paling tidak ; Pertama; ganti jenis keretanya dengan kapasitas kecepatan baru. Kedua, sesuaikan infra strukturnya. Ketiga, siapkan aktor pengelolanya. Keempat, bangun budaya untuk konsumen dan masyarakat secara umum.
Sekarang, untuk tugas percepatan pembangunan ini. Kita perlu fahami indikator dan target pencapaian (common vision or desirable future). Kemudian analisis sebab akibat. Problem dan hambatan (obstacle)nya. Lantas, dilanjutkan dengan tindakan aksi. Bangun kekompakan team tiap OPD. Rapikan organisasi kerjanya dan lahirkan pemimpin inspiratif di tiap jenjang. Pemimpin inspiratif itu, jujur, amanah, cerdas dan informatif. Lalu, bergerak bersama. Bukan bergerak dan laju sendiri. Maka, dibutuhkan pembangunan kapasitas (capacity building) untuk kinerja teknis dan karakter mindset. Semoga (*)
