Pagi itu mestinya penuh warna. Derap langkah para alumni, tawa yang bersahutan, dan semangat kebersamaan membungkus peringatan Dies Natalis alumni STAIN, IAIN, hingga UIN Datokarama Palu, Minggu, 3 Mei 2026. Jalan santai sejauh kurang lebih 2,5 kilometer—menyusuri jalur dua Jalan Diponegoro hingga berputar di depan dealer mobil dan kembali ke kampus—menjadi simbol kebersamaan lintas generasi.
Namun di tengah riuh itu, ada satu sosok yang justru tampak berjalan dalam sunyi.
Profesor Dr. Lukman Thaher, Rektor UIN Datokarama, duduk di antara para pejabat yang hadir, diapit oleh Kakanwil Kemenag Sulawesi Utara Dr. Ulyas Taha dan Plt. Karo Kesra Pemprov Sulawesi Tengah, Rustam, M.Si. Ia hadir secara fisik, tetapi sorot matanya seperti tertinggal di tempat lain—jauh dari keramaian, jauh dari panggung perayaan.
Wajahnya menyiratkan kelelahan yang tidak sekadar datang dari langkah kaki. Ada jeda panjang dalam ekspresinya. Tatapan yang sendu. Seolah menyimpan percakapan panjang dengan dirinya sendiri.
Padahal, acara belum usai. Setelah jalan santai, musik mulai mengalun. Senam kreasi digelar. Peserta—didominasi perempuan—bergerak lincah mengikuti irama. Tawa kembali pecah. Bahkan para bapak pun tak mau kalah, mencoba menyesuaikan gerak dengan irama yang ringan dan menyenangkan.
Ajakan pun datang. Wakil Rektor, Prof. Hamlan, beberapa kali menghampiri sang rektor. Mengulurkan tangan. Mengajak. Bahkan sempat menarik dengan hangat, berharap sang pemimpin ikut larut dalam kegembiraan bersama.
Namun Profesor Lukman tetap bergeming.
Bukan karena tak mampu. Bukan pula karena tak biasa. Mereka yang mengenalnya tahu, ia bukan sosok kaku. Di balik gelar akademiknya sebagai seorang filosof, ia juga dikenal sebagai seniman—seorang yang bisa memetik gitar, menyanyikan lagu dengan penghayatan, dan menghadirkan suasana hangat di tengah kebersamaan.
Hari itu, semua sisi itu seakan tersembunyi.
Ia memilih diam.
Ajakan ditolak halus. Senyum tipis, lalu kembali pada ruang sunyi yang ia bangun sendiri. Bahkan ketika wartawan mendekat, berharap sepatah dua patah kata tentang makna Dies Natalis atau refleksi perjalanan kampus, ia memilih menahan diri. Tidak ada pernyataan. Tidak ada narasi resmi. Hanya keheningan.
Di tengah perayaan yang semestinya menjadi ruang nostalgia dan kebanggaan, ada kesan bahwa sang rektor tengah memikul sesuatu yang lebih berat dari sekadar lelah fisik.
Mungkin soal kampus. Mungkin tanggung jawab yang tak terlihat. Atau mungkin urusan lain di luar yang tak sempat ia tinggalkan di rumah.
Kita tak pernah benar-benar tahu apa yang dipikirkan seorang pemimpin ketika ia diam.
Namun, diamnya hari itu terasa berbeda.
Riuh acara terus berjalan. Musik tetap berdentum. Tawa tetap mengalir. Tetapi di satu sudut, seorang profesor duduk dengan pikirannya sendiri—seolah sedang menimbang sesuatu yang tak bisa dibagikan di tengah perayaan.
Dan mungkin, justru di situlah kita diingatkan: bahwa di balik jabatan, di balik gelar, di balik senyum yang biasa ditampilkan di ruang publik—ada sisi manusiawi yang tak selalu siap dirayakan.
Ada hari ketika seseorang hanya ingin duduk. Diam. Menyimpan tenaga. Menjaga pikiran.
Meski dunia di sekitarnya sedang bersuka cita.
Pagi itu, Dies Natalis tetap berlangsung meriah.
Namun bagi Profesor Lukman Thaher, mungkin itu adalah pagi untuk bertahan—bukan untuk bergoyang. (*)
Editor: Yusrin eLbanna
