Skip to content
TrustSulteng

TrustSulteng

Berita Aktual Sulteng

  • About
  • Blog
  • Contact
  • Kolom Rubrik
  • Pin Posts
  • Tentang Kami
Trust TVChanel
Gubernur Sulteng Tegaskan Pelayanan Tak Boleh Berhenti Meski Cuti Bersama
  • Uncategorized

Gubernur Sulteng Tegaskan Pelayanan Tak Boleh Berhenti Meski Cuti Bersama

Adm Red. March 18, 2026

Palu, trustsulteng – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah tetap menunjukkan komitmennya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat meskipun memasuki masa cuti bersama menjelang Hari Raya Idulfitri.

Hal tersebut terlihat dalam pelaksanaan rapat yang dipimpin langsung oleh Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, bersama jajaran pemerintah daerah, yang tetap berlangsung di tengah suasana libur.

Dalam arahannya, Gubernur menegaskan bahwa rapat yang dilaksanakan merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah kepada masyarakat Sulawesi Tengah. Ia menyampaikan bahwa kepala daerah tetap berkewajiban menjalankan tugas, meskipun berada dalam masa cuti bersama.

“Kegiatan ini adalah bentuk komitmen kita kepada daerah dan masyarakat. Walaupun ada cuti bersama, kita tetap harus hadir dan memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan dengan baik,” ujarnya.

Kebijakan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan arahan Presiden serta imbauan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) yang menegaskan bahwa kepala daerah tetap harus standby di wilayah masing-masing pada periode H-7 hingga H+7 hari besar keagamaan.

Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang tetap hadir mengikuti rapat, termasuk Wakil Gubernur Reny Lamadjido dan Sekretaris Daerah Novalina, yang menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalankan tugas pemerintahan.

“Ini menunjukkan komitmen kita bersama bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak boleh berhenti, dalam kondisi apa pun,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menegaskan bahwa meskipun dalam suasana cuti bersama, roda pemerintahan dan pelayanan publik tetap berjalan optimal demi kepentingan masyarakat. (*)

Gubernur Anwar Hafid Dorong Revolusi ‘Peta Hidup’ untuk Percepat Pembangunan Sulteng
  • Uncategorized

Gubernur Anwar Hafid Dorong Revolusi ‘Peta Hidup’ untuk Percepat Pembangunan Sulteng

Adm Red. March 18, 2026

Palu, trustsulteng – Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, didampingi Wakil Gubernur Reny Lamadjido dan Sekretaris Daerah Novalina, memimpin rapat koordinasi bersama seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Rabu 18 Maret 2026, di Rumah Jabatan Gubernur.

Dalam arahannya, Gubernur menegaskan pentingnya momentum lebih dari 100 hari kerja kepala OPD yang baru dilantik sebagai fase krusial untuk melakukan perbaikan kinerja secara menyeluruh. Ia mendorong seluruh OPD untuk meninggalkan pola kerja lama dan beralih pada sistem berbasis data dan visualisasi.

“Ke depan kita tidak lagi bertumpu pada laporan tebal. Semua harus ditampilkan dalam bentuk peta kerja yang bisa dibaca dengan cepat dan jelas,” tegasnya.

Gubernur memperkenalkan konsep “peta hidup”, yakni peta digital interaktif yang memuat seluruh informasi strategis pembangunan daerah, mulai dari data, program yang telah dilaksanakan, yang sedang berjalan, hingga rencana ke depan.

Melalui peta tersebut, setiap OPD cukup memaparkan programnya secara visual di layar, tanpa perlu membawa dokumen fisik. Bahkan, peta dapat di-zoom hingga ke titik lokasi untuk melihat detail pekerjaan di lapangan.

Sebagai contoh, Dinas Pekerjaan Umum (PU) dapat langsung menampilkan ruas jalan yang telah dibangun lengkap dengan panjang dan kondisinya, sekaligus memperlihatkan rencana lanjutan pada tahun berikutnya. Dengan cara ini, kesinambungan program dapat terlihat jelas dan terukur.

“Kalau kita lihat di peta, akan kelihatan apakah program itu berlanjut atau lompat-lompat tanpa tuntas,” ujarnya.

Konsep peta hidup ini juga memungkinkan integrasi data lintas sektor, seperti kelautan, pertanian, hingga pendidikan. Semua informasi tersaji dalam satu sistem digital yang dapat diakses kapan saja, bahkan saat kunjungan lapangan.

Gubernur menargetkan dalam dua tahun ke depan, seluruh program pembangunan di Sulawesi Tengah telah terdokumentasi secara visual dan terintegrasi dalam sistem ini.

“Cukup dengan satu perangkat, kita bisa melihat semua program. Mau cek di lapangan, tinggal buka petanya,” jelasnya.

Gubernur juga menekankan bahwa seluruh perangkat daerah adalah “pemain inti” dalam mewujudkan visi pembangunan daerah. Ia mendorong setiap OPD untuk aktif berinovasi dan tidak bersikap pasif.

Menurutnya, ide peta digital ini lahir dari refleksi dan kebutuhan untuk menyederhanakan sistem kerja agar lebih efektif dan tepat sasaran.

“Saya terbuka dengan ide. Kalau ada cara yang lebih cepat dan tepat, saya siap ikut. Yang penting tujuan kita tercapai,” katanya.

Lebih lanjut, Gubernur mengungkapkan bahwa konsep ini juga akan diterapkan dalam forum perencanaan seperti Musrenbang. Ke depan, Musrenbang akan didesain lebih strategis dengan menghadirkan langsung kementerian terkait, serta berbasis data visual yang jelas.

Selain itu, penyampaian laporan kepada DPR juga akan diubah menjadi lebih ringkas dan visual, sehingga mudah dipahami.

“Cukup buka peta, langsung terlihat apa yang sudah, sedang, dan akan kita kerjakan,” ujarnya.

Seluruh transformasi ini, menurut Gubernur, bermuara pada satu tujuan utama, yakni pengentasan kemiskinan secara terukur dan tepat sasaran.

Dengan sistem berbasis peta digital, diharapkan perencanaan, penganggaran, hingga evaluasi program dapat dilakukan lebih akurat, transparan, dan berkelanjutan.**

Bukber Tanpa Rencana, Rasa Saudara yang Tak Pernah Usai
  • Uncategorized

Bukber Tanpa Rencana, Rasa Saudara yang Tak Pernah Usai

Adm Red. March 17, 2026

Alumni MAN 2 Palu Angkatan ’93

Ada yang bilang, rencana yang terlalu matang justru sering gagal. Tapi pertemuan yang satu ini malah membuktikan sebaliknya: tanpa rencana, tanpa desain, tanpa panitia—justru jadi momen paling berkesan.

Selasa sore, 17 Maret 2026, tak ada yang benar-benar menyangka kalau grup WhatsApp alumni MAN 2 Palu angkatan ’93 yang biasanya lebih sering diisi iklan, kabar duka, dan sesekali info kecelakaan, tiba-tiba “hidup”. Bukan karena debat serius. Tapi karena satu hal sederhana: “Pak dokter, kapan bukber? Sudah penghujung Ramadan…”

Pesan itu muncul pukul 10.16 WITA. Empat menit kemudian, sang “pak dokter” langsung merespons. Bukan dengan teori medis, tapi dengan jurus klasik: tag massal.

“Ayo diagendakan Selasa. Mana suaranya semua?”

Dan seperti biasa, alumni 93 tidak butuh waktu lama untuk berubah dari mode diam menjadi mode “gas full”.

Lokasi? Bebas. Menu? Sesuai selera.

Sistem pembayaran? BMM—Bayar Masing-Masing (yang selalu terasa lebih ringan… sebelum totalnya keluar).

Dari sekian usulan, akhirnya dipilih satu tempat yang cukup representatif: Warung Arjuna Palu. Tempat yang kemudian menjadi saksi bahwa nostalgia bisa lebih nikmat daripada menu utama.

Menjelang buka puasa, suasana sudah mulai tidak terkendali—dalam arti yang menyenangkan. Bukan karena lapar, tapi karena “agenda rahasia” dari sosok paling sigap: Ibu Ratna.

Tanpa aba-aba panjang, beliau mengeluarkan “harta karun”: baju, jilbab, hingga Tupperware legendaris yang entah bagaimana selalu punya daya tarik tersendiri.

Sekejap, suasana berubah seperti flash sale. Bedanya, ini tanpa diskon—dan tanpa kasir.

Usulan permainan ala guru pun muncul, lengkap dengan sistem hitung-hitungan. Tapi seperti biasa, keputusan akhir tetap di tangan “wasit lapangan”. Hasilnya? Riuh, ribut, dan penuh tawa.

Di tengah keramaian itu, tiba-tiba terdengar suara yang jarang muncul di pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pak Fauzi, dari pelosok Donggala, bersuara tegas:

“Ayo, sudah adzan!” dan seketika, semua kembali ke fitrah: lapar.

Ironisnya, karena terlalu fokus pada “makan berat”, kue-kue yang sudah disiapkan justru terlupakan. Ini mungkin satu-satunya bukber di mana takjil kalah pamor.

Usai salat Magrib, acara berlanjut ke sesi wajib: foto bersama.

Dan seperti sudah ditakdirkan, komando tetap dipegang oleh satu orang—yang paling tahu angle terbaik, pencahayaan, dan tentu saja: siapa yang harus geser sedikit ke kiri.

Hasilnya?

Bukan sekadar foto. Tapi bukti bahwa waktu boleh berjalan, tapi kebersamaan tetap utuh.

Malam itu mungkin terasa singkat. Tapi kesannya panjang.

Seperti yang diungkapkan sang dokter di akhir pertemuan—dengan nada yang sedikit puitis, tapi tetap mengena—bahwa hidup ini terasa berbeda tanpa kebersamaan seperti ini. Bahwa di tengah kesibukan, jabatan, dan tanggung jawab, ada satu hal yang tidak boleh hilang: waktu untuk kembali menjadi diri sendiri… seperti dulu.

Alumni MAN 2 Palu angkatan ’93 mungkin tidak sedarah. Tapi jelas, mereka sejiwa dalam tawa.

Dari dosen, pejabat, ASN, hingga yang tetap sederhana—semua melebur tanpa sekat. Tak penting dulu IPA, IPS, atau Agama. Yang penting sekarang: masih bisa duduk satu meja, berbagi cerita, dan saling menertawakan masa lalu.

Dan satu pelajaran penting dari bukber ini: Kalau mau indah, jangan terlalu direncanakan. Karena kadang, yang mendadak justru yang paling berkesan.

Dan yang sederhana… justru yang paling dirindukan. (*)

Kolaborasi Pemda Kunci Optimalisasi Dana Bagi Hasil di Sulawesi Tengah
  • Uncategorized

Kolaborasi Pemda Kunci Optimalisasi Dana Bagi Hasil di Sulawesi Tengah

Adm Red. March 17, 2026

Palu, trustsulteng – Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulawesi Tengah, Andi Irman, mendorong penguatan sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam mengelola Dana Bagi Hasil (DBH) pajak daerah. Hal ini dinilai penting untuk menciptakan keseragaman pemahaman terhadap regulasi, sekaligus mengoptimalkan pendapatan daerah secara adil dan berkelanjutan.

Menurut Andi Irman, implementasi Peraturan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor 12 Tahun 2025 harus dipahami secara utuh oleh seluruh pemerintah daerah. Dalam aturan tersebut, khususnya Pasal 3 Ayat (1), ditegaskan bahwa DBH pajak daerah diberikan kepada kabupaten/kota berdasarkan realisasi penerimaan dengan prinsip pemerataan.

“Kesamaan persepsi ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam implementasi di lapangan. Kita ingin semua daerah berjalan dalam koridor aturan yang sama,” ujarnya.

Ia mencontohkan, pada skema DBH Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), porsi kabupaten/kota bisa mencapai 70 hingga 73 persen, sementara sisanya menjadi bagian provinsi. Kondisi ini, menurutnya, menuntut kerja sama yang lebih erat agar provinsi tidak hanya dipandang sebagai “mesin pencari” pendapatan semata.

Untuk itu, Bapenda Sulteng mendorong integrasi data kendaraan serta kerja bersama dalam optimalisasi penerimaan pajak. Pihaknya bahkan siap turun langsung ke daerah melalui Dispenda guna membantu penguatan kapasitas dan strategi peningkatan pendapatan.

“Sudah ada dua hingga tiga kabupaten yang menyatakan siap bekerja sama. Ini langkah awal yang baik untuk membangun kolaborasi konkret,” tambahnya.

Selain itu, Andi Irman juga menyoroti perlunya keadilan dalam pembagian dana dari pemerintah pusat, termasuk Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Ia menilai Sulawesi Tengah sebagai daerah penyumbang signifikan, termasuk dalam konteks inflasi, perlu mendapatkan porsi yang lebih proporsional.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, disebut telah memberikan dukungan penuh terhadap upaya kolaborasi antara provinsi dan 13 kabupaten/kota, termasuk Kota Palu.

Andi Irman menegaskan bahwa kunci keberhasilan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terletak pada kebersamaan dan inovasi, tanpa melanggar ketentuan yang berlaku.

“Kita harus kompak. Kalau ingin sukses, harus bekerja bersama, membuat terobosan, dan meninggalkan ego sektoral. Mari kita bangun Sulawesi Tengah dengan memperjuangkan hak-hak daerah, termasuk ke pemerintah pusat,” pungkasnya.

Dengan semangat kolaborasi ini, diharapkan seluruh pemerintah daerah di Sulawesi Tengah dapat bergerak seirama dalam mengoptimalkan potensi pendapatan, demi percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. (*)

editor: yusrin eLbanna

Safri Minta Pemkab Morowali Utara Lebih Kreatif Cari PAD
  • Pemerintah

Safri Minta Pemkab Morowali Utara Lebih Kreatif Cari PAD

Adm Red. March 17, 2026

Palu, trustsulteng – Sekretaris Komisi III DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Safri, angkat bicara mengenai krisis keuangan yang melanda Pemerintah Kabupaten Morowali Utara. Macetnya Dana Bagi Hasil (DBH) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) senilai Rp27 miliar dari provinsi telah memicu penundaan pembayaran proyek kontraktor senilai Rp23 miliar hingga gaji perangkat desa.

Legislator PKB asal daerah pemilihan Morowali dan Morowali Utara ini mengingatkan pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap pola penyusunan anggaran mereka. Menurut Safri, perencanaan anggaran daerah harus disusun berdasarkan potensi pendapatan yang benar-benar dapat direalisasikan, bukan sekadar asumsi optimistis.

“Kami mengingatkan Pemkab Morut untuk lebih realistis dalam menargetkan potensi pendapatan. Jangan sampai mematok belanja yang tinggi tanpa didukung oleh kepastian realisasi penerimaan. Akibatnya, ketika target meleset, masyarakat dan pihak ketiga yang dirugikan karena kas kosong,” ujar Safri, Senin 16 Maret 2026.

Lebih lanjut, Safri juga menyentil ketergantungan pemerintah daerah yang masih sangat tinggi terhadap dana transfer dari pusat maupun provinsi. Ia meminta Pemkab Morut untuk mulai jemput bola dalam meningkatkan kemandirian fiskal.

“Pemkab Morut harus kreatif dalam mencari sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah baru. Jangan hanya duduk manis mengandalkan transfer pusat atau bagi hasil provinsi,” tegasnya.

Menurut mantan Wakil Ketua DPRD Morut ini, ketergantungan berlebihan terhadap dana transfer akan membuat daerah rentan mengalami tekanan keuangan ketika terjadi keterlambatan penyaluran atau realisasi pendapatan tidak mencapai target.

“Kalau struktur pendapatan terlalu bergantung pada transfer, begitu ada keterlambatan seperti ini dampaknya langsung terasa, bahkan sampai mengganggu pembayaran proyek maupun hak aparatur desa,” beber Safri.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah Kabupaten Morowali Utara menghadapi tekanan keuangan setelah dana bagi hasil pajak BBMKB dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang diperkirakan sekitar Rp27 miliar hingga kini belum terealisasi.

Sekretaris Kabupaten Morowali Utara, Musda Guntur, menjelaskan kondisi tersebut membuat sejumlah kewajiban pemerintah daerah belum dapat dibayarkan, termasuk tagihan proyek kontraktor yang nilainya mencapai sekitar Rp23 miliar.

Dampak persoalan keuangan ini juga mulai dirasakan hingga tingkat desa. Informasi yang dihimpun menyebutkan sejumlah perangkat desa di Kabupaten Morowali Utara telah tiga bulan belum menerima gaji, bahkan para kepala desa disebut belum menerima penghasilan mereka menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Di sisi lain, Kepala Badan Pendapatan Daerah Sulawesi Tengah, Andi Irman, menyatakan pembagian dana bagi hasil pajak daerah mengacu pada realisasi penerimaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor 12 Tahun 2025 tentang Tata Cara Perhitungan dan Penyaluran Dana Bagi Hasil Pajak Daerah.

Ia menjelaskan target penerimaan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2025 sebesar Rp1,098 triliun tidak tercapai. Realisasinya hanya sekitar Rp803,97 miliar atau sekitar 73 persen dari target, sehingga berdampak pada penyaluran DBH ke kabupaten/kota.

Bapenda Sulawesi Tengah menyebut penyaluran dana bagi hasil pajak tersebut direncanakan dilakukan pada April 2026 setelah proses perhitungan realisasi penerimaan selesai dilakukan.

Sebelumnya, Pemda Morut melalui Sekda Musda Guntur melempar tanggung jawab kepada Pemrov Sulteng yang belum membayarkan dana bagi hasil PBBKB Rp27 Miliar yang dijanjikan ditransfer akhir Desember 2025. (*)

editor yusrin eLbanna

Dua Profesor di Sepertiga Malam: Tahajud, Cahaya Al-Qur’an, dan Pertemuan Ilmu di Masjid Al-Munawwarah Palu
  • Uncategorized

Dua Profesor di Sepertiga Malam: Tahajud, Cahaya Al-Qur’an, dan Pertemuan Ilmu di Masjid Al-Munawwarah Palu

Adm Red. March 16, 2026

Sepertiga Malam Terakhir di bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Hening, khusyuk, dan penuh harap. Demikian pula yang terjadi pada malam ke-27 Ramadhan di Masjid Al-Munawwarah, Kompleks Pertanian, Kota Palu. Sekitar pukul 03.00 WITA, ratusan jamaah memadati masjid untuk menunaikan shalat tahajud berjamaah.

Yang menarik, malam itu menghadirkan pertemuan dua akademisi dengan latar keilmuan berbeda namun dipersatukan oleh Al-Qur’an dan ibadah. Shalat tahajud dipimpin oleh Prof (HC), Dr. H. Ahmad Basirt, MA., M.HI., seorang akademisi sekaligus muqri qira’at Al-Qur’an bersanad dari Markaz Tahfidz Banaaty HQ Jakarta serta pengajar di STAI Al Fatih Tangerang. Di antara para jamaah, tampak pula Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Tadulako, Prof. Dr. Muhammad Khairil, S.Ag., M.Si., M.H., yang malam itu berdiri sebagai makmum.

Shalat tahajud berlangsung khusyuk hingga pukul 04.25 WITA. Dalam dua rakaat pertama, imam melantunkan Surah An-Nur hingga 118 ayat dengan bacaan yang merdu dan penuh penghayatan. Suasana masjid terasa begitu syahdu. Ayat-ayat tentang cahaya seakan menembus relung hati para jamaah yang larut dalam kekhusyukan.

Beberapa tokoh agama dan cendekiawan turut hadir dalam shalat malam tersebut, di antaranya KH Haris Kasim dan Dr. Saleh. Mereka menikmati suasana spiritual yang jarang ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

Pertemuan dua profesor itu sendiri terjadi secara tidak disengaja. Sebelum shalat subuh dimulai, keduanya bertemu di area wudhu masjid saat menunggu giliran menuju toilet. Dari pertemuan singkat itulah percakapan ringan mengalir, yang kemudian berlanjut dengan saling bertukar buku.

Prof Ahmad Basirt menghadiahkan dua buku karya Cece Abdulwaly kepada Prof Khairil berjudul “60 Godaan Penghafal Al-Qur’an dan Solusi Mengatasinya” serta “Mengapa Aku Sulit Menghafal Al-Qur’an”. Sebaliknya, Prof Khairil mengambil bukunya dari mobil dan memberikannya kepada sang imam. Buku tersebut berjudul “Resolusi Komunikasi: Tindak Penanganan Terorisme”.

Dengan penuh kerendahan hati, Prof Khairil sempat berujar sambil menerima buku tersebut, “Terima kasih banyak bukunya, ustadz. Buku saya ini lebih banyak berbicara tentang dunia.”

Keduanya saling menyapa dengan sikap santun, bahkan membungkukkan badan sebagai tanda hormat satu sama lain. Sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna tentang adab dan penghormatan dalam tradisi keilmuan.

Amatan di lokasi menunjukkan bahwa Prof Khairil juga mengikuti i’tikaf di masjid tersebut. Ia mengambil posisi di sudut kanan masjid menghadap kiblat, menghabiskan waktu dengan tadarus Al-Qur’an sebelum sesekali berbaring menanti waktu tahajud tiba.

Usai shalat Subuh, kepada awak media ia menyampaikan kesannya mengikuti shalat malam yang dipimpin imam profesor tersebut.

“Saya menikmati dalam kekhusyukan yang sangat mendalam. Bacaan yang syahdu dan penuh penghayatan membuat shalat terasa sangat hidup,” ungkapnya.

Rangkaian ibadah malam itu terasa semakin lengkap dengan kajian Subuh yang disampaikan Ustadz Hartono M. Yasin bertema “Jagalah Hati Sebelum Mati.” Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya hati sebagai pusat keikhlasan manusia.

“Hati adalah makhalul ikhlas, tempatnya ikhlas. Pusat perhatian Allah adalah hati manusia,” ujarnya, mengutip hadits Nabi yang menyatakan bahwa Allah tidak melihat rupa manusia, tetapi melihat hati dan amalnya.

Ia juga mengingatkan bahwa hati merupakan baitul iman—rumah bagi iman seseorang. Karena itu, menjaga kebersihan hati menjadi kunci utama dalam perjalanan spiritual seorang muslim.

Apakah kebetulan atau tidak, kajian tentang hati yang disampaikan setelah shalat Subuh seakan menyempurnakan suasana malam itu. Ayat-ayat tentang cahaya, lantunan Al-Qur’an yang khusyuk, pertemuan dua ilmuwan yang saling menghormati, hingga tausiyah tentang menjaga hati—semuanya menyatu dalam harmoni spiritual di Masjid Al-Munawwarah.

Masjid yang dikenal tidak pernah sepi jamaah itu kembali menjadi saksi bahwa di sepertiga malam Ramadhan, ilmu, adab, dan ibadah dapat bertemu dalam satu ruang yang sama—menciptakan cahaya yang bukan hanya menerangi masjid, tetapi juga hati para jamaah yang hadir.(*)

Yusrin eLbanna

 

Wagub Sulteng, Lepas Berani Mudik Gratis 2026 
  • Uncategorized

Wagub Sulteng, Lepas Berani Mudik Gratis 2026 

Adm Red. March 16, 2026

Palu, trustsulteng – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., secara resmi melepas peserta program Berani Mudik Gratis Ramadan 1447 Hijriah dan Libur Hari Raya Idulfitri 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah di depan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, jalan Sam Ratulangi, Minggu 16 Maret 2026. Program ini mengusung tagar #BeraniLancarSultengNambaso.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur menyampaikan program tersebut merupakan bagian dari program unggulan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, yakni “Berani Lancar”, yang salah satunya diwujudkan melalui layanan Berani Mudik bagi masyarakat.

Menurutnya, program Mudik Gratis ini sebenarnya telah dilaksanakan sejak tahun sebelumnya. Namun pada tahun ini jumlah peserta mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Tercatat sebanyak 895 pemudik diberangkatkan melalui jalur darat menuju sejumlah daerah di Sulawesi Tengah, antara lain Poso, Ampana, Tolitoli, Buol, Luwuk, Parigi Moutong, Morowali Utara, dan Morowali.

Sementara itu, melalui jalur laut terdapat 360 pemudik dengan rute Palu –Balikpapan – Surabaya. Dengan demikian, total peserta yang mengikuti program Berani Mudik Gratis 2026 mencapai 1.255 orang.

Wakil Gubernur menegaskan bahwa program ini merupakan wujud kepedulian Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam membantu masyarakat agar dapat pulang ke kampung halaman dan merayakan Hari Raya Idulfitri bersama keluarga.

“Program ini adalah bentuk perhatian Pemerintah Daerah agar masyarakat bisa berkumpul dengan keluarga, bersilaturahmi dengan sanak saudara dan sahabat di daerah masing-masing pada momen Idulfitri,” ujarnya.

Selain membantu masyarakat, pelaksanaan program Mudik Gratis juga bertujuan untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas, mencegah risiko kecelakaan di jalan, serta meningkatkan keselamatan, keamanan, dan kenyamanan transportasi selama arus mudik Lebaran 2026.

Dalam kesempatan tersebut, para pemudik dan sopir juga mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis dari PT Jasa Raharja. Selain itu, sebanyak 41 sopir yang bertugas mengantar peserta mudik juga diberikan perlindungan asuransi dari Jasa Raharja guna menjamin keselamatan perjalanan.

Atas nama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Wakil Gubernur menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Dinas Perhubungan, Polda Sulawesi Tengah, serta seluruh Stakeholder yang telah mendukung kelancaran pelaksanaan program tersebut.

“Saya berharap Bapak dan Ibu dapat tiba dengan selamat di daerah tujuan masing-masing dan dapat berkumpul dengan keluarga tercinta. Salam hormat untuk keluarga dari Bapak Gubernur, Wakil Gubernur, dan seluruh Jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah,” tuturnya.

Mengakhiri sambutannya, Wakil Gubernur secara resmi melepas rombongan Mudik Gratis dengan doa agar perjalanan seluruh peserta diberikan kelancaran dan keselamatan hingga tiba di tujuan.

“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah SWT memudahkan dan melancarkan perjalanan kita semua hingga sampai ke tujuan dengan selamat,” ucapnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna, Anggota DPRD Sulawesi Tengah Hendri Kusuma Muhidin, Kepala Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Prasetiyohadi, ST, SH, MH , Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sulteng Dr.Rudi Dewanto,SE, MM., para Kepala Perangkat Daerah, Unsur Forkopimda, serta para Peserta Berani Mudik Gratis 2026.

sumber: biro adpim

DBH Rp27 Miliar Belum Cair, Pemda Morut Tunda Pembayaran Proyek dan Gaji Desa
  • Uncategorized

DBH Rp27 Miliar Belum Cair, Pemda Morut Tunda Pembayaran Proyek dan Gaji Desa

Adm Red. March 16, 2026

Morut, trustsulteng – Pemerintah Kabupaten Morowali Utara menghadapi tekanan keuangan setelah dana bagi hasil pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang diperkirakan mencapai sekitar Rp27 miliar hingga kini belum terealisasi.

Akibat belum masuknya dana tersebut ke kas daerah, sejumlah kewajiban pemerintah daerah belum dapat dibayarkan, termasuk tagihan proyek kontraktor yang nilainya mencapai sekitar Rp23 miliar.

Sekretaris Kabupaten Morowali Utara, Musda Guntur, menjelaskan bahwa sebenarnya kondisi keuangan daerah tidak akan mengalami defisit apabila dana bagi hasil tersebut terealisasi sesuai rencana.

“Sebenarnya tidak defisit kalau pendapatan pajak BBMKB bagi hasil dengan provinsi terealisasi sekitar Rp27 miliar. Namun sampai 31 Desember 2025 bahkan sampai hari ini belum ada realisasi,” ujarnya.

Menurut Musda, sejumlah tagihan pekerjaan dari kontraktor sebenarnya telah melalui proses administrasi dan bahkan sudah diterbitkan Surat Perintah Membayar (SPM).

Namun karena dana yang diharapkan belum masuk ke kas daerah, pembayaran tidak dapat dilakukan.

“Hal ini menyebabkan sekitar Rp23 miliar tagihan pekerjaan yang sudah ada SPM tidak bisa terbayar,” jelasnya.

Ia menambahkan kondisi tersebut pada akhirnya memunculkan defisit kas daerah karena pendapatan yang direncanakan dalam APBD belum terealisasi.

“Karena defisit artinya kas tidak mencukupi. Pendapatan yang diharapkan tidak terealisasi, padahal angka Rp27 miliar itu merupakan keputusan gubernur,” tambahnya.

Dampak persoalan keuangan daerah ini juga mulai dirasakan hingga tingkat desa.

Informasi yang dihimpun menyebutkan sejumlah perangkat desa di Kabupaten Morowali Utara telah tiga bulan belum menerima gaji. Bahkan para kepala desa disebut belum menerima penghasilan mereka menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan kontraktor maupun aparatur desa yang berharap pemerintah daerah segera menemukan solusi agar pembayaran tagihan proyek dan hak-hak aparatur dapat direalisasikan.

Bapenda Sulteng: Daerah Keliru Menyusun Anggaran
Sementara itu, Kepala Badan Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Andi Irman, menegaskan mekanisme pembagian dana bagi hasil pajak daerah telah diatur secara jelas dalam Peraturan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor 12 Tahun 2025 tentang Tata Cara Perhitungan dan Penyaluran Dana Bagi Hasil Pajak Daerah.

Menurutnya, dana bagi hasil diberikan kepada kabupaten/kota berdasarkan realisasi penerimaan pajak daerah.
“Dalam Pasal 3 ayat 1 disebutkan dana bagi hasil pajak daerah diberikan kepada kabupaten/kota berdasarkan realisasi penerimaan dengan menerapkan prinsip pemerataan,” kata Andi Irman.

Ia menilai pemerintah daerah keliru jika menyusun belanja tanpa menyesuaikan dengan potensi realisasi pendapatan.
“Ada kekeliruan daerah. Mereka mematok belanja tidak menyesuaikan pendapatan. Makanya selalu diingatkan bahwa merencanakan anggaran jangan melampaui target. Ketika target tidak tercapai maka bisa kosong,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena target penerimaan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2025 tidak tercapai.
Target penerimaan PBBKB tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp1,098 triliun, namun realisasinya hanya mencapai sekitar Rp803,97 miliar atau sekitar 73 persen dari target.

“Semua daerah belum dibayarkan karena realisasi target tidak tercapai. Jadi keliru daerah kalau melempar kesalahan ke provinsi,” tegasnya.

Porsi Dana Bagi Hasil
Andi Irman menjelaskan pembagian dana bagi hasil pajak daerah telah ditetapkan dalam Pergub Nomor 12 Tahun 2025, antara lain: Pajak Air Permukaan (PAP) dibagi kepada kabupaten/kota sebesar 50 persen
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) dibagi kepada kabupaten/kota sebesar 70 persen. Pajak Rokok dibagi kepada kabupaten/kota sebesar 70 persen.

Menurutnya, tugas Bapenda hanya menghitung realisasi penerimaan dan menentukan besaran pembagian sesuai regulasi.
“Dinas Pendapatan hanya menghitung berapa yang didapat dan pembagiannya berdasarkan regulasi,” katanya.
Penyaluran Menunggu Kemampuan Kas Daerah.

Terkait belum direalisasikannya transfer dana bagi hasil sekitar Rp27 miliar untuk Morowali Utara hingga Maret 2026, Andi Irman mengatakan proses penyaluran merupakan kewenangan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi.

Ia menyarankan agar pemerintah kabupaten melakukan koordinasi langsung dengan instansi tersebut.
“Terkait penyaluran DBH silakan berkoordinasi ke BPKAD Provinsi Sulawesi Tengah, karena penyaluran itu kewenangan mereka sesuai kemampuan keuangan daerah,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah dan para kontraktor kini masih menunggu kepastian penyaluran dana bagi hasil pajak dari pemerintah provinsi agar kewajiban pembayaran yang tertunda dapat segera diselesaikan.

Bapenda Sulteng: Penyaluran Direncanakan April

Kepala Bapenda, Andi Irman, mengatakan mekanisme pembagian dana bagi hasil pajak daerah sebenarnya telah diatur secara jelas dalam regulasi.

Menurutnya, pembagian dana tersebut mengacu pada Peraturan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor 12 Tahun 2025 tentang Tata Cara Perhitungan dan Penyaluran Dana Bagi Hasil Pajak Daerah.

“Pembagiannya itu sudah jelas di Pergub Nomor 12 Tahun 2025 tentang tata cara perhitungan dan penyaluran dana bagi hasil pajak daerah,” kata Andi Irman saat dikonfirmasi, Senin 16 Maret 2026.

Ia menjelaskan saat ini pihaknya masih melakukan proses perhitungan realisasi penerimaan hingga Maret 2026.

“Kami sementara lakukan perhitungan sampai bulan Maret. Untuk penyaluran direncanakan di April,” ujarnya.

Menunggu Kapastian Transfer

Belum adanya realisasi dana bagi hasil tersebut membuat pemerintah daerah masih menunggu kepastian penyaluran dari pemerintah provinsi.

Selain menyangkut pembayaran proyek yang telah selesai dikerjakan, pencairan dana tersebut juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas keuangan daerah serta memastikan hak aparatur desa dapat segera dibayarkan.

Hingga kini, pemerintah Kabupaten Morowali Utara masih berharap dana bagi hasil pajak BBMKB yang menjadi hak daerah dapat segera direalisasikan dalam waktu dekat.(*)

editor; yusrin eLbanna

 

Energi Niat untuk Menggapai Taqwa
  • Uncategorized

Energi Niat untuk Menggapai Taqwa

Adm Red. March 15, 2026

Kajian Subuh; Ustadz Hartono M. Yasin Anda

Di Jalan Menuju Taqwa, ada satu perjuangan yang sering tidak terlihat oleh manusia: perjuangan menjaga keikhlasan. Banyak orang mampu melakukan amal, tetapi tidak semua mampu menjaga amal itu tetap murni hanya karena Allah.

Para ulama sejak dahulu mengingatkan bahwa perkara ikhlas adalah salah satu ujian terberat bagi seorang hamba. Ulama besar Sahl ibn Abd Allah al-Tustari mengatakan bahwa ikhlas adalah ketika diam dan gerak seorang hamba hanya karena Allah.

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi jika direnungkan, sangat berat untuk diwujudkan.

Sebab dalam kehidupan sehari-hari, sering kali amal kita bercampur dengan keinginan lain: ingin dipuji, ingin dihargai, ingin terlihat baik di mata manusia.

Padahal hakikat ikhlas adalah memutus hubungan amal dari penilaian manusia. Seorang ulama sufi, Abu Utsman al-Hiri, menjelaskan bahwa ikhlas adalah ketika pandangan manusia tidak lagi menjadi tujuan, dan hati hanya tertuju kepada Allah.

Karena itu, orang yang ikhlas tidak berubah oleh dua keadaan: dipuji ataupun dicela. Pujian tidak membuatnya merasa besar, dan celaan tidak membuatnya berhenti berbuat baik.

Ada satu ciri indah dari orang-orang yang benar-benar ikhlas: mereka menyembunyikan kebaikan sebagaimana mereka menyembunyikan keburukan. Amal yang paling mereka jaga justru amal yang tidak diketahui oleh siapa pun selain dirinya dan Allah.

Para ulama bahkan menasihatkan: usahakan ada amal yang hanya engkau dan Allah yang mengetahuinya. Di situlah hati belajar jujur, dan di situlah ikhlas tumbuh.

Ulama besar Ibrahim ibn Adham mengingatkan bahwa ikhlas dimulai dengan meluruskan niat sebelum beramal. Sebab setiap amal selalu dimulai dengan niat.

Namun perlu dipahami, niat dan ikhlas bukan hal yang sama. Niat adalah pintu awal sebuah perbuatan. Ia bisa mengarah pada kebaikan atau bahkan kejahatan. Sedangkan ikhlas adalah kemurnian tujuan dalam amal kebaikan, yang menjaga amal itu dari awal hingga akhir agar tetap hanya untuk Allah.

Imam besar Ibnu Rajab Al Hambali, menjelaskan bahwa niat berfungsi untuk membedakan suatu amal—apakah ibadah atau sekadar kebiasaan. Sementara ikhlas menentukan apakah amal itu diterima di sisi Allah atau tidak.

Karena itu, ukuran amal di sisi Allah bukan semata besar kecilnya perbuatan. Seorang ulama besar, Abdullah ibn al-Mubarak, pernah berkata:

“Bisa jadi amal yang besar menjadi kecil di sisi Allah karena niatnya. Dan bisa jadi amal yang kecil menjadi besar di sisi Allah karena keikhlasannya.”

Inilah rahasia yang sering tidak kita sadari. Amal kecil seperti senyuman, sedekah yang sederhana, atau doa yang lirih di sepertiga malam bisa menjadi sangat besar nilainya di sisi Allah jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Karena itu, cara terbaik menjaga niat dan keikhlasan adalah terus memohon kepada Allah. Mintalah kepada-Nya agar hati kita diluruskan setiap kali beribadah.

Terlebih di bulan penuh rahmat seperti Ramadan, ketika doa-doa lebih mudah diijabah.

Semoga Allah menjaga niat kita, membersihkan hati kita dari riya, dan menjadikan setiap amal kecil yang kita lakukan bernilai besar di sisi-Nya. (*)

 

Jalan Pengabdian Kak Tony
  • Uncategorized

Jalan Pengabdian Kak Tony

Adm Red. March 15, 2026

Oleh : Saleh Awal

Di lingkungan aktivis Sulawesi Tengah, nama H. Mulhanan Tombolotutu, SH lebih akrab disebut dengan panggilan Kak Tony. Panggilan itu tidak hanya hidup di kalangan alumni Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi juga meluas di berbagai jejaring sosial, politik, dan organisasi di Palu.

Banyak orang mengenalnya sejak lama dengan nama itu. Tentang sejarah nama ini, biarkan Kak Tony sendiri yg bercerita sebagai berikut :

“Sekitar tahun lima puluhan ada seorang dokter berkebangsaan Italy namanya Antonio Vigiani.

Dokter inilah yg membantu ibu saya dalam proses melahirkan di rumah kami di jalan Cempaka samping Gedung Juang.

Singkat kisah ketika ana lahir, berseloroh dokter itu, beri nama bayi ini dengan nama saya sebagai kenangan bahwa saya pernah bertugas di Palu.

Maka ibu dan ayah saya sepakat memberi nama “Antonio”, dipanggil dengan nama pendek “Toni” yg sering juga ditulis dengan “Tonny” biar sedikit keren dan nampak modern.

Setelah seminggu atau dua minggu, paska persalinan, waktu tepatnya saya tak tahu pasti. Namun intinya Kakek saya dari Tinombo datang menengok cucunya yg baru lahir.

Saat tiba dirumah kami, Kakek bertanya siapa nama bayi ini, ketika hampir bersamaan jawaban dari ayah dan ibu saya menyebut “Antoni”. Seketika kakek saya terkejut sembari mengeluarkan kalimat “hah nama kapere”, jangan saya yg beri nama, jadilah nama hingga di akta kelahiran dan semua dokomen kependudukan yg hingga kini dikenal *Andi Mulhanan* ”

*****

Sejarah perjalanan organisasinya sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum dunia kampus. Pada masa pelajar ia telah aktif dalam Pelajar Islam Indonesia ( PII). Organisasi ini menjadi ruang pertama bagi dirinya mengenal dunia gerakan, diskusi, dan pembentukan karakter kepemimpinan. Dari sana ia belajar bahwa organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, tapi juga ruang untuk membangun kesadaran tentang umat, bangsa, dan masa depan.

****

Namun perjalanan aktivismenya benar-benar menemukan bentuk ketika ia masuk ke dunia kampus dan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI). Di organisasi inilah ia tercebur jauh ke dalam dunia gerakan mahasiswa. HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa biasa. Tapi adalah ruang pembentukan intelektual, kepemimpinan, sekaligus tempat menempa keberanian berpikir dan bertindak.

Banyak kader HMI yg kemudian mengambil jalan berbeda dalam kehidupan. Ada yang memilih jalur akademik, ada yang menjadi profesional, ada pula yang masuk ke dunia politik. Kak Tony termasuk dalam kelompok yang menjadikan pengalaman organisasi itu sebagai fondasi panjang dalam pengabdian sosial dan politiknya.

Hubungannya dengan HMI bahkan tidak berhenti ketika masa mahasiswa selesai. Ia terus melanjutkan pengabdian dalam Korps Alumni HMI. Sampai hari ini ia telah tiga periode memimpin KAHMI Sulawesi Tengah, sebuah perjalanan yang menunjukkan kepercayaan dan pengakuan dari para alumni terhadap kepemimpinannya.

****

Bagi Kak Tony, organisasi bukan sekadar riwayat dalam biografi. Organisasi adalah ruang pembentukan kepribadian. Dari proses panjang itulah terbentuk cara pandangnya tentang Indonesia dan Islam.

Dalam tradisi kaderisasi HMI, ada satu fondasi penting yakni menyatunya identitas keislaman dan keindonesiaan. Karena itu dalam diri seorang kader HMI tidak boleh ada apa yang dalam psikologi disebut split of personality—kepribadian yang terbelah antara agama dan bangsa. Dalam pandangan ini, membela bangsa berarti membela nilai-nilai Islam, dan memperjuangkan Islam berarti menjaga keutuhan bangsa.

Cara pandang seperti itulah yang tampaknya melekat kuat dalam diri Kak Tony. Ia tidak melihat Indonesia dan Islam sebagai dua dunia yang harus dipertentangkan. Justru keduanya berjalan dalam satu garis yang sama, pengabdian kepada kemaslahatan masyarakat.

*****

Perjalanan organisasinya juga terus berkembang. Kini ia aktif sebagai pengurus di YASKUM, sebuah organisasi yang bergerak dalam spirit keislaman dan sosial. Dalam perspektif organisasi ini, perjuangan manusia dipahami sebagai perpaduan antara ikhtiar dan takdir—dua konsep penting dalam tradisi pemikiran Islam.

Manusia wajib berikhtiar, berusaha sekuat tenaga memperjuangkan kebaikan. Tetapi pada saat yang sama ia juga harus menerima bahwa ada dimensi takdir yang berada dalam ketentuan Allah SWT. Dalam bahasa sederhana: manusia bekerja, Tuhan menentukan.

Menariknya, nilai ini sangat sejalan dengan identitas kader HMI yang sejak awal dididik untuk memahami dua hal sekaligus: ikhtiar sebagai kewajiban moral, dan takdir sebagai kesadaran spiritual.

Karena itu perjalanan Kak Tony dalam berbagai organisasi tampak seperti satu garis continum. Dari Pelajar Islam Indonesia, ke HMI, lalu ke KAHMI, hingga aktivitas sosial keagamaan di YASKUM, semuanya berada dalam satu orbit yang sama yaitu pengabdian kepada masyarakat dengan fondasi nilai Islam.

****

Jika melihat lintasan panjang itu, orang mungkin mengenalnya melalui jabatan-jabatan publik yang pernah diembannya—dari dunia politik ( Ketua Partai Golkar dan Ketua DPRD Kota Palu hingga pemerintahan kota sebagai wakil walikota Palu. Hingga kini memegang lembaga pemerintah Non APBN yg dikenal Lembaga Manajemen Kolektif Nasional ( LMKN).

Tetapi di balik semua itu, ada satu benang merah yg tidak pernah putus: dunia organisasi yg membentuk karakter dan cara pandangnya tentang kehidupan.

*****

Dan dari situlah mungkin kita bisa memahami satu hal secara simple mengapa sampai hari ini banyak orang tetap memanggilnya dengan penuh keakraban—
Kak Tony.

Selamat Ulang Tahun Kanda H. Mulhanan Tombolotutu, SH.

Posts pagination

Previous 1 2 3 4 5 6 7 … 260 Next

Recent Posts

  • Daffa Syahmi Hilmiyah: Pelajar Tenang dengan Prestasi Gemilang di Panggung Nasional
  • Jalan Boladangko–Banggaiba Dikerja, Gubernur AH: Berani Berkah Hadirkan Hadiah Nyata untuk Sulteng
  • DKPP gandeng UIN Datokarama Tingkatkan Kualitas Demokrasi
  • Pemprov Sulteng Matangkan Persiapan Haji 2026 : Prioritaskan Pelayanan Kelompok Rentan
  • Puluhanribu Jamaah Padati Haul ke-58 di Alkhairaat Pusat, Gubernur Anwar Hafid Ajak Lanjutkan Warisan Guru Tua
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Email
Copyright © COMINDO MEDIA PERKASA | DarkNews by AF themes.