Keluarga Adalah Tempat Pulang Terbaik
Di tengah kesibukan yang tak pernah benar-benar berhenti, momen berkumpul utuh menjadi kemewahan tersendiri bagi keluarga Akhmad Sumarling, SE—pria yang dikenal dengan gelar Daeng Tantu. Menjelang usianya yang ke-47 pada 30 Maret mendatang, ia justru merayakan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar angka: kebersamaan.
Bulan suci Ramadan tahun ini menghadirkan potret yang selama ini jarang terwujud. Sumarling, sang istri AKP Lusi Setiawati, SAP, serta keempat anak mereka akhirnya berdiri dalam satu bingkai—lengkap. Sebuah momen sederhana, namun sarat makna bagi keluarga yang selama ini terbiasa berjauhan oleh panggilan tugas dan tanggung jawab.
Lusi, seorang perwira polisi, mengabdikan diri sebagai pelindung masyarakat. Jejaknya diikuti oleh tiga putra mereka, yang kini juga mengemban tugas sebagai anggota kepolisian. Di balik seragam dan disiplin yang melekat, keluarga ini tetap menjunjung nilai kesederhanaan. Lusi dikenal tak pernah menonjolkan kemewahan, bahkan saat berada di tengah masyarakat. Ia hadir sebagai pengayom, bukan sekadar aparat.
Di sisi lain, Sumarling meniti jalan berbeda. Mengawali pendidikan di Makassar, ia kemudian membangun karier sebagai wiraswasta hingga merambah dunia bisnis lintas daerah, termasuk di Selangor dan Batam. Kini, ia dipercaya sebagai Direktur Utama di perusahaan pertambangan yang bergerak di sektor emas, nikel, dan tembaga. Namun di balik kesuksesan itu, ia tetap sosok yang hangat, rendah hati, dan mudah tertawa.
Kepedulian menjadi benang merah dalam hidupnya. Bagi Sumarling, membantu sesama bukan soal siapa dan dari mana, melainkan tentang keikhlasan. Sikap itu pula yang membuatnya dipercaya sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Jeneponto di Sulawesi Tengah—peran yang ia jalankan dengan penuh tanggung jawab.
Kehangatan hubungan mereka sebagai pasangan juga menjadi cerita tersendiri. Di berbagai kesempatan, kebersamaan Sumarling dan Lusi kerap mencuri perhatian—penuh keakraban, sederhana, namun begitu tulus. Sebuah potret cinta yang tak lekang oleh waktu dan kesibukan.
“Sehat-sehat istri dan anak-anakku,” tulis Sumarling dalam sebuah unggahan singkat. Kalimat sederhana itu mencerminkan harapan besar seorang kepala keluarga—bahwa di tengah segala pencapaian, keluarga tetap menjadi rumah paling utama.
Dalam dunia yang bergerak cepat, kisah keluarga ini mengingatkan kita: pada akhirnya, yang paling berarti bukan seberapa jauh kita melangkah, tetapi siapa yang tetap ada di sisi kita. (*)
editor: omYus
