Skip to content
TrustSulteng

TrustSulteng

Berita Aktual Sulteng

  • About
  • Blog
  • Contact
  • Kolom Rubrik
  • Pin Posts
  • Tentang Kami
Trust TVChanel
Nyaris Bentrok, Massa Keluarga Ahli Waris Abdurrabie-Lasapi Duduki Lokasi PT Vale
  • Uncategorized

Nyaris Bentrok, Massa Keluarga Ahli Waris Abdurrabie-Lasapi Duduki Lokasi PT Vale

Adm Red. May 2, 2025

Morowali, trustsulteng – Ratusan massa berunjuk rasa di lokasi PT Vale, masuk konsesi wilayah Sulawesi Tengah. Tepatnya Desa Ululere, Kecamatan Bungku Timur Kabupaten Morowali. Massa aksi gabungan rumpun ahli waris Abdurrabie dan Lasapi yang berasal dari Morowali dan Luwu Timur Sulawesi Selatan.

Lokasi didatangi massa adalah garapan PT Vale berada di titik perbatasan Sulteng dan Sulsel yang dikenal dengan sebutan kawasan seba-seba.Yang saat ini sedang dikerjakan PT Putra Mahalano  kontraktor PT Vale (MBB1), Kamis 1 Mei 2025.

Tuntutan masa aksi selain mendesak PT. Vale Indonesia untuk menyelesaikan hak-hak ahli waris Abdurrabbie sebelum melaksanakan aktivitas pertambangan, juga merespon terkait adanya pengrusakan posko keluarga ahli waris oleh oknum suruhan kontraktor PT Vale.

“Kami ada disini untuk memperjuangkan hak kami. Sekaligus respon dari kekecewaan keluarga atas pengrusakan tenda, posko dan spanduk,” ungkap Arlan, Kordinator Lapangan (Korlap) aksi.

Selaku korlap lanjut Arlan, tegas meminta kepada pihak security agar lokasi MBB1 segera dikosongkan. Tidak boleh ada aktivitas sampai adanya penyelesaian hak-hak ahli waris oleh PT. Vale.

Situasi memanas, terjadi keributan lantaran salah seorang dari tim security jadi sasaran massa. Diduga pelaku merusak posko keluarga ahli waris yang mengaku preman ketika terjadinya pengrusakan. Massa meminta kepada aparat kepolisian supaya yang bersangkutan diamankan dan dikeluarkan dari lokasi.

Sayangnya tidak ada perwakilan PT Vale yang bisa menerima tuntutan massa dari keluarga ahli waris Abdurrabie dan Lasapi.

Walau nyaris terjadi bentrok antara massa aksi dengan pengamanan PT Vale. Situasi masih aman terkendali hingga massa membubarkan diri secara teratur.

Sekadar diketahui, Pemerintah Propinsi Sulawesi Tengah di masa Gubernur Rusdy Mastura telah memerintahkan kepada PT Vale agar membayarkan lahan garapan tanam tumbuh keluarga ahli waris Abdurrabie-Lasapi.

Lokasi tanam tumbuh didalamnya sejak lahan dikuasai keluarga Abdurrabie-Lasapi berupa pohon damar, jambu mente, cengkeh. Ada juga tanaman nilam, sawit, dan marica/lada.

Perintah membayarkan oleh Gubernur Sulteng, berdasarkan kajian panjang oleh dinas dan instansi teknis, seperti Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, ATR/BPN, Dinas ESDM, dan Kejaksaan Tinggi. Dan dihadiri perwakilan PT. Vale. ***

editor: ylb

 

 

 

Bantah Tuduhan Menjual Lahan ke CPM, Begini Penjelasan Pengurus LPM Talise
  • Uncategorized

Bantah Tuduhan Menjual Lahan ke CPM, Begini Penjelasan Pengurus LPM Talise

Adm Red. May 1, 2025

Palu, trustsulteng – Pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Talise membantah tuduhan yang menyebutkan bahwa mereka telah menjual lahan garapan di kompleks Bukit Laranggarui kepada PT Citra Palu Minerals (CPM).

Ketua LPM Talise, Toni Hasbi, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan merupakan fitnah yang merugikan nama baik lembaga serta pengurusnya.

Dalam pernyataan resmi yang disampaikan pada Rabu malam, 30 April 2025, Toni Hasbi didampingi oleh Ketua Bidang, Ikhlas MS SH, serta pengurus LPM lainnya, menyatakan bahwa pihaknya akan menempuh jalur hukum untuk melaporkan beberapa individu yang diduga menyebarkan informasi palsu kepada media.

Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menjaga integritas lembaga dan menghindari penyebaran informasi yang menyesatkan masyarakat.

“Kami menegaskan bahwa itu fitnah, tidak pernah ada proses jual beli yang melibatkan LPM Talise kepada pihak manapun, termasuk kepada pihak CPM. Kami menduga ada pihak-pihak yang sengaja menyebarkan informasi tidak benar kepada media untuk mencemarkan nama baik kami,” ucap Ihklas MS SH, Ketua Bidang LPM Talise.

Ia juga menambahkan bahwa tuduhan tersebut merupakan upaya untuk menyebarkan kebencian di masyarakat dengan menyebarkan informasi yang tidak benar.

“Hasil kesepakatan kemarin kami rapat, kami akan melaporkan ke Polda atas nama Lembaga LPM dan satu lagi laporan ke Polresta beberapa nama yang diduga memberikan informasi palsu ke media. Tuduhan itu merupakan fitnah. Kami tidak memiliki hak untuk mengalihkan kepemilikan tanah karena itu di luar kewenangan kami sebagai lembaga kemasyarakatan” tambahnya.

Sebelumnya, pada Senin sore, 28 April 2025 lalu, puluhan warga yang mengatasnamakan diri sebagai Masyarakat Talise Penggarap Lokasi Laranggarui melakukan aksi penyegelan kantor LPM Talise.

Aksi ini dipicu oleh dugaan penjualan lahan garapan secara sepihak oleh oknum pengurus LPM kepada PT CPM.

Warga memasang spanduk bertuliskan “Segel LPM, turunkan oknum mengatasnamakan lembaga yang membodohi masyarakat” sebagai bentuk protes.

Menanggapi aksi tersebut, Ketua LPM Talise, Toni Hasbi, menyatakan bahwa seharusnya pihak Kelurahan Talise melakukan koordinasi dengan pengurus LPM untuk memediasi dan berdiskusi dengan warga guna meluruskan informasi terkait tuduhan tersebut.

Ia juga menyoroti indikasi dugaan keterlibatan beberapa oknum dari pihak Kantor Kelurahan Talise dalam memperkuat narasi yang tidak benar ini, yang dinilai turut memperkeruh situasi dan menyebabkan penyegelan kantor LPM.

“Kami dengan tegas menyatakan itu tidak benar, bahwa tidak pernah terjadi jual beli, maupun transaksi dalam bentuk apapun yang dilakukan oleh Pengurus LPM Talise kepada pihak manapun terkait lahan itu,” tegas Toni Hasbi.

Ia menambahkan bahwa LPM sebagai lembaga kemasyarakatan di tingkat kelurahan tidak memiliki kewenangan untuk menjual atau mengalihkan aset tanah, terlebih yang berstatus lahan garapan masyarakat.

LPM Talise, menurut Toni, siap membuka ruang klarifikasi dan dialog secara terbuka apabila masyarakat menginginkan penjelasan resmi. Ia menekankan pentingnya penyelesaian persoalan berdasarkan data dan bukti, bukan asumsi.

Sementara itu dikutip dari Radar Sulteng, General Manager Eksternal Affairs and Security PT CPM, Amran Amir, saat dikonfirmasi, membantah adanya transaksi jual beli lahan antara pengurus LPM Talise dengan pihaknya.

“Tidak ada pengurus LPM Talise yang menjual lahan ke CPM. Saya tidak paham yang mana lahan di kompleks Bukit Laranggarui itu,” ujarnya. Ia juga mempertanyakan apakah ada bukti transaksi jual beli yang dimiliki oleh pihak yang menuduh ?.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Kelurahan Talise terkait dugaan keterlibatan oknum internal dalam penyebaran informasi yang dituding menyesatkan tersebut.

Pengurus LPM Talise menyatakan akan tetap menempuh jalur hukum guna menuntut keadilan atas pencemaran nama baik lembaga dan pribadi pengurus.**

 

Terkait Tudingan Oknum LPM Menjual Lahan, Ikhlas; Itu Fitnah..!
  • Uncategorized

Terkait Tudingan Oknum LPM Menjual Lahan, Ikhlas; Itu Fitnah..!

Adm Red. April 30, 2025

Palu, trustsulteng-Aksi masyarakat penggarap lahan bukit laranggarui kelurahan talise kecamatan mantikulore, dengan menyegel kantor LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat) mendapat tanggapan dari ketua LPM Talise, Ikhlas.

Termasuk tudingan dugaan penjualan lahan eks HGB PT. Sinar Putra Murni dan PT Sinar Waluyo oleh oknum anggota LPM ditanggapi Ikhlas, Ketua LPM Kelurahan Talise.

Seperti dikutip dari berita radarsulteng.net, Ketua LPM Talise, Ikhlas mengatakan bahwa tudingan tersebut merupakan fitnah dan tidak benar. Pihaknya bahkan telah melaporkan hal itu ke aparat penegak hukum atas tuduhan pencemaran nama baik secara pribadi pengurus maupun lembaga. “Kami juga melaporkan terkait pengrusakan,” sebutnya.

Ikhlas membantah jika masa HGB lokasi tersebut sudah berakhir. Dia menyebut HGB itu sudah diperpanjang, hanya saja, ia belum menyampaikan waktu perpanjangan lokasi tersebut. “Nanti akan saya sampaikan, belum sekarang,” katanya.

Dia mengaku pernah menjadi lawyer pemilik HGB yakni PT SPM. “Sehingga ketemu antara PT CPM dan SPM sehingga sudah diselesaikan,” ujarnya.

“Mungkin karena kami juga pengurus LPM sehingga difitnah kami yang menjual,” paparnya.

Ketika disinggung soal bukti transaksi antara dua perusahaan tersebut, Ikhlas justeru tidak mengetahui. “Lantas darimana anda tahu kalau ada penyelesaian? Saya tahu lah, karena saya lawyernya,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Sementara itu, GM Eksternal Affairs and Security PT CPM, Amran Amir saat dikonfirmasi membantah jika ada oknum pengurus LPM Kelurahan Talise yang menjual lahan ke mereka.

“Tidak ada pengurus LPM Talise yang menjual lahan ke CPM. Saya tidak paham yang mana lahan di kompleks bukit Laranggarui itu? Saya tidak paham, lahan mana yang diminta masyarakat agar CPM tidak beraktivitas di lahan tersebut? Alasannya apa ya? ” tanya dia.

Disinggung lagi soal pemilik HGB PT SPM yang menjual lahan ke PT CPM, Amran hanya bertanya kembali apakah informan punya bukti transaksi. “Dia punya bukti transaksi jual beli ya?,” pungkasnya

Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan masyarakat penggarap lahan melakukan aksi penyegelan kantor LPM, senin sore (28/4). Penyegelan tersebut sebagai puncak kekesalan masyarakat, karena PT. CPM menggusur lahan garapan masyarakat dengan alasan ada oknum pengurus LPM Talise telah menjual lahan yang sebelumnya dikuasai (HGB) PT. SPM dan berakhir 2019. **

editor:ylb

 

 

Dinilai Membebani Daerah, Gubernur Anwar Hafid Diminta Bubarkan PT Pembangunan Sulteng
  • Uncategorized

Dinilai Membebani Daerah, Gubernur Anwar Hafid Diminta Bubarkan PT Pembangunan Sulteng

Adm Red. April 30, 2025

Palu, trustsulteng – Mantan Aktivis 98, Andi Ridwan menyorot kinerja PT. Pembangunan Sulteng sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMN). Andi menilai, Perusda tersebut semakin tidak sehat jika tidak disebut sangat buruk. Sehingga hanya menjadi beban daerah. Tidak memberikan kontribusi apapun terhadap Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulteng (PAD Sulteng). Sehingga patut dipertimbangkan untuk dibubarkan.

Berdasarkan hasil audit tehadap kinerja Perusda sejak 2017 sampai 2019 jumlah penyertaan modal sebesar Rp7,4 miliar.

Dan hasilnya tahun 2017 s/d 2020 BUMD PT.Pembangunan Sulteng mengalami kerugian , menyisahkan saldo sisa Rp5 juta

di tahun 2020, kemudian selanjutnya manajemen baru 2021-2025, makin tekor.

“Bahkan informasi terkini terlilit utang Milyaran Rupiah,” tulis Andi Ridwan.

Oleh karena itu dipandang perlu Gebernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid⁩, segera evluasi BUMD PT. Pembangunan Sulteng dan jika memang benar ditemukan fakta bahwa BUMD ini hanya jadi beban daerah bukan menambah pendapatan, maka segera disikapi.

“Tidak sehat maka jangan ragu untuk di bubarkan,” sarannya.

Lanjut Andi semestinya BUMD PT. Pembangunan Sulteng mengembangkan perekonomian daerah Sulawesi Tengah dapat meningkatkan pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui laba yang diperoleh, sehingga dapat digunakan untuk membiayai pembangunan daerah.

“Tapi sayangnya hanya menjadi beban selama puluhan tahun,” pungkasnya.

Sebelumnya Gubernur Anwar Hafid mengeluhkan sejumlah ketimpangan pembagian dana bagi hasil (DBH) dengan Komisi II DPR RI.

Komisi II kini mendorong hadirnya regulasi pembinaan dan pengawasan BUMD, termasuk kemungkinan pembubaran BUMD yang tidak sehat.**

editor; ylb

 

 

Sumbang Negara Rp570 Triliun, Sulteng Hanya Kebagian Rp200 Miliar
  • Uncategorized

Sumbang Negara Rp570 Triliun, Sulteng Hanya Kebagian Rp200 Miliar

Adm Red. April 30, 2025

Jakarta,trustsulteng – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid secara blak-blakan mengungkap ketimpangan Dana Bagi Hasil (DBH) yang dialami daerahnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPR RI di Gedung Parlemen, Selasa 29 April 2025

Dalam forum yang dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendsgri) Ribka Haluk dan dipimpin langsung Ketua Komisi II Rifqinizamy Karsayuda, Anwar menumpahkan kegelisahan yang selama ini dirasakan masyarakat Sulteng terhadap ketidakadilan distribusi hasil kekayaan alam.

Dalam pernyataannya, Anwar Hafid menyampaikan fakta mencolok bahwa meskipun Sulawesi Tengah menjadi salah satu kontributor terbesar bagi penerimaan negara dari sektor tambang, termasuk industri smelter yang disebut Presiden menyumbang hingga Rp570 triliun, provinsinya hanya menerima DBH sekitar Rp200 miliar per tahun.

Dia menggambarkan kondisi daerahnya sebagai “hancur-hancuran” akibat aktivitas pertambangan yang masif namun tak memberi dampak signifikan bagi pendapatan daerah.

“Saya contohkan Sulawesi Tengah. Sulawesi Tengah itu adalah salah satu provinsi penyumbang defisit terbesar juga di Indonesia ini. Bapak Presiden bilang ada Rp570 triliun dari pajak yang bersumber dari industri smelter yang ada di Sulawesi Tengah. Tapi coba bapak bayangkan setiap tahun DBH itu kami hanya mendapatkan Rp200 miliar. Negeri kami itu hancur-hancuran, Pak. Tambang di mana-mana, hancur-hancuran, Pak, negeri kami itu,” ungkap Anwar penuh emosi di hadapan Komisi II.

Dia juga menyoroti kelemahan sistem perpajakan yang hanya mengenakan pajak di “mulut tambang”, bukan di “mulut industri” seperti halnya di wilayah-wilayah lain yang telah mengadopsi izin usaha pertambangan pemurnian.

Menurutnya, jika pajak dikenakan saat produk nikel telah menjadi stainless steel, maka nilai ekonomis dan PAD Sulawesi Tengah bisa bersaing dengan provinsi-provinsi kaya seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Tak hanya itu, Anwar menyoroti kebijakan tax holiday dan tax allowance yang diberikan kepada perusahaan industri smelter hingga 25 tahun.

Sementara cadangan nikel di Morowali, katanya, hanya tinggal 10 tahun.

Dia mengkhawatirkan kondisi pasca-ekspolitasi nikel, ketika semua keuntungan telah diraup dan wilayahnya ditinggalkan tanpa hasil berarti.

“Kemarin saya paksa, pak. Tapi takutnya nanti dilaporin lagi saya ke pusat. Saya bilang kalau kalian tidak mau membuka perwakilan di Sulawesi Tengah, silakan angkat kaki. Tapi mereka semua sekarang bilang, Gubernur apa-apa sih, biar marah juga nggak ada masalah. Kita nggak ketemu juga, nggak ada juga keperluan kita sama gubernur,” tambah Anwar dengan nada kecewa.

Dia juga menyinggung keberadaan NPWP para pengusaha yang mayoritas terdaftar di Jakarta.

“Jadi mereka benar-benar mengambil keuntungan di sana. Kita yang merasakan dampaknya, kita tidak punya apa-apa,” ujarnya seraya meminta Komisi II untuk memperjuangkan hak daerah secara lebih serius. Sementara itu, Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda menjelaskan, rapat ini merupakan bagian dari pengawasan dana transfer pusat ke daerah.

Dia menyebut selama ini DPR RI belum maksimal mengawasi setelah dana ditransfer ke APBD.

Komisi II katanya, ingin mendalami penggunaan berbagai jenis dana, termasuk Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Bagi Hasil, dan Dana Insentif Daerah.

“Kita tahu hakikat dana transfer pusat ke daerah ini adalah dana APBN yang ditransfer ke provinsi dan kabupaten/kota masing-masing. Tapi selama ini DPR RI belum melakukan pengawasan setelah dana itu masuk ke APBD,” kata Rifqi.

Dia juga menyoroti kinerja BUMD yang di banyak daerah justru menjadi beban, bukan aset.

Komisi II kini mendorong hadirnya regulasi pembinaan dan pengawasan BUMD, termasuk kemungkinan pembubaran BUMD yang tidak sehat.

Rapat ini juga membahas reformasi birokrasi dan penyelesaian masalah honorer, yang disebut Rifqi masih menjadi pekerjaan rumah besar di berbagai daerah.

Dia memastikan bahwa forum seperti ini akan terus dilanjutkan secara berkala agar kebijakan pusat benar-benar berpijak dari kebutuhan nyata di daerah.

Bagi Anwar Hafid, forum ini menjadi ruang penting untuk menyampaikan kegelisahan yang selama ini tak terdengar.

Dia menegaskan, para kepala daerah, meski dipilih langsung oleh rakyat, masih terkekang oleh wewenang pusat dan sistem regulasi yang kerap tak berpihak pada kepentingan daerah.

“Komisi II ini adalah komisi yang sangat strategis. Dan pintu kami ada di situ, pak. Mungkin sudah waktunya, pak, dikorek-korek lagi,” pungkas Anwar dengan harapan besar.

RDP ini menjadi momentum penting, menegaskan bahwa desentralisasi fiskal di Indonesia masih menyisakan ketimpangan yang dalam, dan suara dari daerah seperti Sulawesi Tengah harus menjadi prioritas dalam pembenahan kebijakan nasional.**

sumber; biro adpim/editor; ylb

Kemiskinan di ‘Negeri Seribu Tambang’
  • Uncategorized

Kemiskinan di ‘Negeri Seribu Tambang’

Adm Red. April 29, 2025

Palu, trustsulteng – Propinsi Sulteng dikenal dunia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dan sejumlah kekayaan mineral tambang lainnya. Namun dibalik semua ini, kemiskinan masih berada di atas 11 persen.

Gubernur Anwar Hafid, merasa sangat bertanggung jawab untuk segera keluar dari paradoks yang harus diselesaikan bersama antara pemerintah dan pelaku usaha industri tambang terkhusus koorporasi di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara.

“Saya harap teman-teman bisa mengambil peran dalam program-program BERANI lewat CSR dan Community Development perusahaan,” ujarnya saat pertemuan dengan perwakilan korporasi tambang di ruang polibu.

CSR yang dimaksud, misalnya dengan pemberian beasiswa pendidikan tinggi bagi anak-anak Sulteng yang cerdas hingga selesai di negeri Tiongkok yang kini menjadi episentrum pengembangan sains dan teknologi.

Dirinya juga menantang perusahan agar membangun rumah sakit bertaraf internasional supaya masyarakat Sulteng tidak perlu berobat hingga ke luar daerah maupun ke luar negeri.

Pembangunan dua sektor vital ini merupakan tanggungjawab moral perusahaan untuk mensejahterakan masyarakat atas sumber daya alam yang sudah diambilnya.

Di samping itu dengan memiliki SDM yang berdaya saing maka Sulteng sedikit demi sedikit akan melepas ketergantungan dari sektor tambang di masa mendatang.

“Walau habis nikel kami tapi bapak sudah mewariskan SDM kepada kami,” tegasnya bahwa peningkatan SDM adalah investasi jangka panjang membangun visi Sulteng Nambaso atau Sulteng yang besar.

Lebih lanjut lagi, perusahaan harus ikut andil dalam mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan fokus pada optimalisasi penerimaan pajak daerah.

Gubernur mengajak perusahaan supaya transparan mengenai jumlah alat berat dan kendaraan di lingkar tambang serta sumber pengambilan bahan bakarnya untuk mengejar potensi pajak bahan bakar minyak.

Dengan banyaknya perusahaan tambang di Sulteng ternyata belum maksimal bagi pemasukan pajak bahan bakar minyak yang hanya menyentuh 300 Miliar Rupiah per tahun.

Padahal Provinsi Kalimantan Timur sebagai perbandingan, mampu meraup setoran pajak hingga 7 Triliun Rupiah per tahun dari pajak bahan bakar minyak.

Begitu pula dengan registrasi NPWP perusahaan yang masih terdaftar di luar daerah padahal mereka melakukan aktivitas di Sulteng. Olehnya gubernur meminta kesadaran manajemen perusahaan supaya memiliki kantor dan ber-NPWP Sulteng agar pajak mereka tidak dibayar di luar daerah.

Disamping tujuan lain untuk mempercepat komunikasi dan koordinasi dengan Pemda lewat perwakilan perusahaan yang berkantor di Sulteng khususnya di Palu.

Pajak lain yang ikut dilirik gubernur ialah pajak air permukaan dan pajak bea balik nama kendaraan mengingat banyaknya kendaraan perusahaan yang masih menggunakan plat luar Sulteng atau non-DN, sehingga pajak kendaraan bermotor yang dibayar tidak masuk ke kas daerah.

“Semuanya sudah punya peraturan tinggal kita jalan,” imbuhnya memastikan legalitas pemungutan pajak potensial dari perusahaan tambang.

Poin lain yang digarisbawahi gubernur ialah soal Tenaga Kerja Asing (TKA) supaya perusahaan lebih terbuka dalam melaporkan pekerjanya sebab terindikasi banyak pekerja asing yang bekerja di dua atau lebih kabupaten di Sulteng.

Ulasnya jika pekerja asing bekerja di beberapa kabupaten dalam satu provinsi maka penerimaan daerah dari TKA ini menjadi pendapatan provinsi bukan kabupaten.

Selain itu gubernur juga meminta perusahaan mengevaluasi program pelatihan Bahasa Indonesia ke pekerja asing karena dinilai hasilnya tidak optimal.

“Pernah ketemu tenaga kerja asing, saya uji pakai Bahasa Indonesia yang umum tapi tidak bisa padahal sudah ada pelatihan,” urainya yang pernah menanyakan ke pekerja asing ‘apakah sudah makan’ dalam Bahasa Indonesia tapi tidak dijawab karena tidak bisa berbahasa Indonesia.

Dengan kendala bahasa tersebut, gubernur melalui dinas pendidikan dan universitas tadulako telah menjalin MoU dengan lembaga pelatihan bahasa asing untuk menyelenggarakan kursus Bahasa Mandarin secara gratis bagi masyarakat dan pelajar.

Harapannya supaya dihasilkan tenaga penerjemah lokal yang akan terserap bekerja di sejumlah perusahaan di Morowali dan Morut.

Melalui program BERANI Cerdas maka mulai tahun ini pemerintah provinsi menanggung biaya praktek kerja industri (prakerin) dan uji kompetensi bagi siswa SMK yang akan lulus.

Terkait hal itu maka gubernur meminta perusahaan agar jangan pernah menolak jika ada SMK yang mengajukan permohonan praktek kerja industri (prakerin) maupun menerima pekerja lulusan SMK yang sudah mengantongi sertifikat uji kompetensi.

“Tolong diterima kalau mereka selesai dan kalau mereka praktek,” pesannya.

Lewat pertemuan ini diharapkan menjadi titik awal sinergitas pemerintah provinsi dengan korporasi tambang dalam menulis sejarah baru, dari ‘Sulteng negeri seribu tambang’ menjadi ‘Sulteng negeri seribu kesejahteraan’

“Saya ingin punya satu visi yang sama agar kehadiran perusahaan bisa bermanfaat bagi bangsa dan daerah, utamanya rakyat Sulawesi Tengah,” pungkasnya dengan penuh harapan.

Pertemuan antara lain dihadiri Wagub dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes, Staf Ahli Gubernur Bidang SDM dan Pengembangan Kawasan Ihsan Basir, S.H.,LL.M, Kadis Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulteng Drs. Arnold Firdaus, M.T.P, Kadis Pendidikan Yudiawati V. Windarrusliana, SKM, M.Kes, Kadis Penanaman Modal dan PTSP Moh. Rifani Pakamundi, S.Sos, M.Si dan Plt Kadis Perindag Mira Yuliastuti, S.T., M.P dan para pengawas tenaga kerja.

Dari pihak perusahaan nampak perwakilan IMIP, GNI, Hengjaya Mineralindo, Wanxiang dan MSS.**

sumber; biro adpim/editor; YLB

1.994 Jamaah Haji Sulteng 2025 Bersama Maskapai Sriwijaya Air
  • Uncategorized

1.994 Jamaah Haji Sulteng 2025 Bersama Maskapai Sriwijaya Air

Adm Red. April 29, 2025

Palu, trustsulteng – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah resmi memperpanjang kerjasama dengan maskapai PT Sriwijaya Air untuk transportasi udara calon jamaah haji tahun 1446 Hijriah atau 2025 Masehi.

Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian antara Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Drs. Awaludin, MM dan Chief Executive Officer (CEO) Sriwijaya Air, Freeman Fang, di ruang kerja Asisten Pemerintahan dan Kesra, pada Senin 28 April 2025.

Dalam perjanjian tersebut, PT.Sriwijaya Air akan melayani penerbangan pulang-pergi (PP) dari Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu menuju Bandara Sultan Aji Sulaiman Sepinggan Balikpapan.

Acara penandatanganan turut dihadiri Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Muchsin Pakaya, SE, M.Si, serta Kepala Bagian Pengelolaan Pengadaan Barang Dr. Ir. Fahrudin, ST, M.Si.

Mewakili Gubernur Sulawesi Tengah, Asisten Pemerintahan dan Kesra Dr. Fahrudin Yambas, M.Si, mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada PT. Sriwijaya Air atas pelayanan prima kepada jamaah haji Sulteng pada tahun 2024 lalu.

“Kami berharap kualitas layanan yang sudah sangat baik ini bisa dipertahankan, bahkan ditingkatkan untuk musim haji 2025. Komunikasi intensif tetap perlu dilakukan untuk mengantisipasi kendala di lapangan,”ujarnya.

Tahun ini, kloter pertama (BPN-7) Sulawesi Tengah akan berangkat dari Palu menuju Balikpapan pada tanggal 16 Mei 2025, diikuti oleh 5 kloter keberangkatan lainnya. Total ada 1.994 calon jamaah haji Sulawesi Tengah yang akan diberangkatkan.

Sebagai penutup rangkaian acara, Pemerintah Provinsi Sulteng dan manajemen Sriwijaya Air saling bertukar cinderamata sebagai simbol kemitraan yang erat dan berkelanjutan.**

sumber: biro adpim

Kesal Lahan Dijual ke CPM, Warga Segel Kantor LPM Talise
  • Uncategorized

Kesal Lahan Dijual ke CPM, Warga Segel Kantor LPM Talise

Adm Red. April 29, 2025

Palu, trustsulteng – Penjualan sepihak tanah garapan masyarakat Kelurahan Talise di Kompleks Bukit Laranggarui, Kecamatan Mantikulore, tepatnya jalan menuju lokasi konsesi lahan PT. Citra Palu Mineral (CPM) oleh oknum pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Talise, memicu ketegangan dan konflik antar warga.

Puncaknya, Senin sore 28 April 2025, ratusan warga mengatasnamakan Masyarakat Talise Penggarap Lokasi Laranggarui melakukan penyegelan Kantor LPM Talise.

“Penyegelan kantor LPM Talise adalah puncak kekesalan masyarakat, karena perusahaan CPM menggusur tanah garapan masyarakat yang selama ini diolah. Perusahaan beralasan tanah garapan masyarakat telah dijual oleh oknum pengurus LPM Talise kepada CPM,” sebut warga.

Menurut pengakuan masyarakat penggarap lokasi diketahui dalam penguasan Hak Guna Bangunan (HGB) PT Sinar Putra Murni dan PT. Sinar Waluyo. Tetapi sudah berakhir pada tahun 2019.

Mungkin denga dasar itulah oknum pengurus LPM Talise menjual kepada PT. CPM, tanpa diketahui oleh pejabat kelurahan talise kecamatan Mantikulore.

“Ini membuktikan bahwa oknum LPM Talise merupakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak mementingkan kepentingan masyarakat, tetapi lebih mementingkan kepentingan diri sendiri,” tegas Isna.

Saat masyarakat mengkonfrontir nama-nama oknum pengurus LPM Talise kepada pihak CPM mereka menyebut nama oknum berinisial RL, IS dan JS.

Meras terusik atas oknum LPM Talise, masyarakat menyampaikan kepada pihak CPM untuk tidak melanjutkan kegiatan penggusuran lahan yang selama ini digarap.

Puncak kekesalan masyarakat tidak mendapati oknum pengurus LPM Talise di Kantor LPM Talise, dan tidak ada penjelasan dari pengurus LPM Talise, masyarakat menyegel kantor dengan memasang spanduk bertuliskan “Segel LPM, turunkan oknum mengatasnamakan lembaga yang membodohi masyarakat” sekaligus meminta kepada Lurah Talise untuk membekukan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Talise, karena dinilai membodohi masyarakat.

Ratusan masyarakat yang hadir secara bersama sama bertanda tangan di pernyatan sikap. Serta meminta kepada kepala Kelurahan Talise mengusir oknum pengurus LPM Talise yang menjual tanah atas kepentingan pribadi dan lembaga.

Sampai berita ini ditayangkan belum ada penjelasan dari oknum pengurus LPM Talise. Karena tidak diketahui keberadaan mereka oleh pihak Kelurahan Talise.**

Editor; YLB

Calon Pejabat Diwawancara Langsung Gubernur dan Wagub Sulteng. Begini Pesannya
  • Uncategorized

Calon Pejabat Diwawancara Langsung Gubernur dan Wagub Sulteng. Begini Pesannya

Adm Red. April 28, 2025

Palu, trustsulteng – Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, bersama Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK, M.Kes, turun langsung memimpin sesi wawancara peserta dalam uji kompetensi dan evaluasi kinerja Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Provinsi Sulawesi Tengah, Senin 28 April 2025.

Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Palu ini dipandu oleh Sekretaris Daerah Dra. Novalina, MM, yang bertindak sebagai Ketua Panitia Seleksi. Ia didampingi oleh para anggota pansel: Ahmad Husin Tambunan, S.STP, M.Si, Prof. Dr. Djayani Nurdin, SE, M.Si, Prof. Dr. H. Slamet Riadi Cante, M.Si, dan Dr. Surahman, SH, MH.

Dalam sesi wawancara yang berlangsung mulai hari ini hingga beberapa hari ke depan, para pejabat diuji tidak hanya dari aspek kompetensi teknis, namun juga integritas, kepemimpinan, dan inovasi yang telah mereka capai selama mengemban jabatan.

Kesempatan itu, Gubernur Anwar Hafid menekankan pentingnya evaluasi ini sebagai upaya menghadirkan pemerintahan yang lebih profesional dan akuntabel.

“Kita ingin memastikan bahwa pejabat yang memimpin Perangkat Daerah benar-benar punya kompetensi, dedikasi, serta mampu membawa perubahan yang nyata untuk Sulawesi Tengah,”tegasnya.

Ia berharap, melalui proses ini, setiap pejabat dapat terus meningkatkan kualitas kinerjanya demi mendukung visi pembangunan daerah dalam bingkai Sulteng Nambaso.

Proses uji kompetensi ini disambut positif oleh para peserta yang melihatnya sebagai kesempatan untuk menunjukkan kinerja terbaik sekaligus mengasah profesionalisme di lingkungan birokrasi Pemprov Sulteng.**

sumber biro adpim

Gubernur Anwar Hafid Dukung Kongres Mbaso FPKB, Dorong Legalisasi Hukum Adat di Sulteng
  • Uncategorized

Gubernur Anwar Hafid Dukung Kongres Mbaso FPKB, Dorong Legalisasi Hukum Adat di Sulteng

Adm Red. April 28, 2025

Palu, trustsulteng – Gubernur Sulawesi Tengah H.Anwar Hafid, menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan Kongres Mbaso yang digagas Forum Pemuda Kaili Bangkit (FPKB).

Dalam audiensi yang berlangsung di kediaman pribadinya, Senin pagi 28 April 2025, Ia menilai forum tersebut sebagai upaya strategis memperkuat nilai-nilai kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

“Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” kata Gubernur Anwar Hafid, mengutip falsafah yang menurutnya menjadi prinsip hidup selama merantau.

Kongres Mbaso dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2025, dengan tema besar penguatan hukum adat dan pelestarian budaya lokal.

Ia pun mengapresiasi inisiatif tersebut dan mendorong Forum Pemuda Kaili Bangkit untuk menyusun kajian akademis guna memformalkan hukum adat di Sulawesi Tengah.

“Bantu saya buat kajiannya untuk memformalkan Hukum Adat,”ujarnya.

Sejak disahkannya peraturan daerah terkait Lembaga Adat, upaya pelestarian budaya lokal di Sulteng mendapat landasan hukum yang lebih kuat. Namun, Ia menilai diperlukan langkah lanjutan untuk memastikan eksistensinya dalam sistem hukum formal.

Selain persoalan adat, Gubernur Anwar Hafid juga menggarisbawahi pentingnya pelestarian bahasa daerah. Ia mendukung penuh rencana pembuatan kamus bahasa lokal oleh Forum Pemuda Kaili Bangkit dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghidupkan penggunaan bahasa daerah di sekolah, khususnya di lingkungan keluarga.

Di bidang pendidikan, ia mengungkapkan rencana pemerintah membangun Sekolah Rakyat yang menyasar peserta didik dari keluarga kurang mampu, khususnya kelompok Desil 1 dan Desil 2.

Program ini akan membentuk 1.000 Tadulako, sebutan untuk pemuda-pemudi Sulteng yang akan mendapatkan akses pendidikan melalui pembiayaan pemerintah.

Menurutnya, Kementerian Sosial telah menyetujui usulan Pemerintah Provinsi, termasuk pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Tojo Una-una dan Donggala.

Dalam pertemuan itu, Ia juga menyinggung isu lingkungan terkait maraknya buaya di sekitar teluk Palu. Ia pun mengusulkan agar buaya-buaya tersebut ditangkar guna menjaga keamanan serta membuka potensi ekonomi baru berbasis ekowisata.

Sementara, Ketua Panitia Kongres Mbaso, Abd Rahman Syamsu, menyampaikan bahwa kongres mendatang akan mengangkat tema kearifan lokal serta pembahasan hukum adat yang disinergikan dengan program pemerintah daerah.

Ia juga memastikan komitmen Forum Pemuda Kaili Bangkit dalam rangka menyusun kamus bahasa daerah untuk mendukung program pelestarian budaya di sektor pendidikan, serta upaya penangkaran buaya di seputar teluk Palu.**

editor YLB

 

Posts pagination

Previous 1 … 55 56 57 58 59 60 61 … 260 Next

Recent Posts

  • Daffa Syahmi Hilmiyah: Pelajar Tenang dengan Prestasi Gemilang di Panggung Nasional
  • Jalan Boladangko–Banggaiba Dikerja, Gubernur AH: Berani Berkah Hadirkan Hadiah Nyata untuk Sulteng
  • DKPP gandeng UIN Datokarama Tingkatkan Kualitas Demokrasi
  • Pemprov Sulteng Matangkan Persiapan Haji 2026 : Prioritaskan Pelayanan Kelompok Rentan
  • Puluhanribu Jamaah Padati Haul ke-58 di Alkhairaat Pusat, Gubernur Anwar Hafid Ajak Lanjutkan Warisan Guru Tua
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Email
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • Email
Copyright © COMINDO MEDIA PERKASA | DarkNews by AF themes.